Sakit ini membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Tadi telah kucuba berangkat ke JED, tapi tak sanggup aku menahan sakit ini, hingga kuminta izin pada Miss Vika untuk pulang duluan. Setelah sholat Magrib di Masjid Kampus UGM, segera kupacu motor ke RS. Panti Rapih. Menemui resepsionis, menanyakan apakah dokter mata masih ada. Setelah menunggu sebentar, mbak resepsionis bilang dokter mata sudah pulang. “Mungkin besok bisa datang lagi Mas. Kalau hari Rabu, dokter masuk jam 08.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 17.00. Terpaksalah aku pulang sembari menahan sakit sekuat asaku.

Jika sudah sakit begini, semuanya jadi tak enak. Sulit untuk berpikir. Hanya bisa berbaring di kasur, sambil memejam mata biar terlupa sejenak sakit yang mendera tubuh.

Sudah dua hari aku ngak masuk kursus. Besok laga semifinal Mersi Cup 4 sudah menanti. Aku tak tahu, apakah bisa sembuh esok hari. Mungkin inilah ujian yang hendak Tuhan berikan padaku. Mengajarkan kesabaran yang berkelibat dengan keputusasaan. Mungkin terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat, hingga tak ada jalan lain selain diberikan penderitaan.

Saat-saat seperti ini, aku merindukan belaian darinya. Kurindukan tegur sapanya yang membuatkanku aku bisa bertahan. Hilangkan sejenak sakit lewat tutur sapa lembutmu.

Tapi semua itu hanyalah impian dalam khayalku. Biarlah kutahan sakit ini sendiri. Karena tak baik aku menyusahkan orang lain. Meskipun aku butuh perhatian, tapi biarlah kulupakan belaian kasih sayang dan rasa belas kasihan. Sampai batas kekuatan untuk menahan rasa sakit ini. Toh, semua ada batasnya. Dan batas sakit tubuh adalah berpisahnya nyawa dengan tubuh.

Ya, aku masih kuat. Aku masih bisa menahan ini. Biarkanlah sakit mengerogoti tubuhku. Biar cepat kematian menjemputku. Biar hilang sudah semua pilu yang menikam tubuh duniawiku.

Iklan