Kulewati malam nan dingin ini bersama “I Love U“-nya Celine Dion. Lagu jadul yang begitu berkesan. Liriknya membawaku jauh terbang dalam angan. Melampaui bulan nan masih sedia menerangi malam ini. Sedikit meredam gejolak yang sejak minggu kemarin mendera kepalaku.

I must be crazy now…. Maybe I dream too much… But when I think of you… I long to feel your touch… Betapa indah syair yang dibawakan Celine Dion. Lirik yang benar-benar menggambarkan kecintaanku padamu, Great. Tapi, hanya bisa kunikmati sekedar impian saja. Karena tak lama lagi engkau akan menikah.

Aku benar-benar menjadi gila. Ucapanku ngawur. Tak lagi berarti. Hingga kusadari, ketika salah seorang teman satu angkatan di filsafat mengatakan, “Ini bener Anggun teman filsafat-ku kan?” Apakah aku benar-benar telah berubah dari dua atau satu tahun yang lalu?

Kegilaanku mencapai puncaknya hari ini. Sehabis kelas conversation Mr. Fahri, kukirimkan sms pengunduran kepada Bu Trias, Bu Witri, dan Bu Shoimah, tiga petinggi Pimpinan Pusat Aisyiyah. Rasanya sakit-ku ini tak akan sembuh dalam waktu cepat. Daripada harus mendzolimi orang lain tanpa sebuah kepastian, lebih baik kuputuskan untuk berhenti.

Deadline untuk meraih skor toefl sekitar 500-an tinggal 2-3 bulan lagi. Sementara progres kursus bahasa Inggrisku di kelas pre – intermediate sangat mengecewakan. Tekanan kerja, membuatku tak konsen untuk menghafalkan ataupun mengulang materi yang telah diberikan Ms. Vika, guru grammar-ku dan Mr. Fahri, guru conversationku. 2-3 bulan tentu sangat sebentar untuk mengejar score setinggi itu bagiku, yang kembali belajar bahasa Inggris dari dasar. Kalau konsentrasi-ku pecah, alamat peluang melamar di Kompas dan mendapatkan beasiswa S2 akan terbang begitu saja.

Mungkin ini, pilihan yang pahit. Aku tak enak hati dengan Mas Arif yang telah merekomendasikanku diterima di Aisyiyah. Tak enak hati dengan Bu Witri dan Bu Trias yang telah begitu baik kepadaku selama bekerja. Tapi, aku harus mengambil keputusan. Ketidakmampuanku untuk membagi waktu, membuatku harus memilih antara kerja dengan sisa-sisa tenaga mendatangi kursus, atau meninggalkan kerja untuk fokus dengan kursus bahasa Inggrisku? Dan, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kerja demi kursus bahasa Inggris. Hanya maaf yang bisa kusampaikan. Maaf ya Mas, Maaf ya Buk, jika sudah mengecewakan.

Malam ini, aku berterima kasih kepada Ms. Rosa, teman satu angkatan di Filsafat yang telah mengirimkan sms-sms yang membuatku tersadar dengan perubahan dalam diriku. Sekaligus hadirkan bahagia, di tengah kesunyian yang menderaku beberapa hari ini.

Jarum jam terus berjalan. Aku masih setia dengan “I Love U”. Sementara, adik satu kamar sudah terlelap karena letih mengurus stand penerimaan mahasiswa baru UGM yang dibuka hari ini. Selamat malam semua. Buat Ms. Rosa, moga tidurnya nyenyak, ngak diganggu nyamuk ya…:)