Membaca berita di sebuah koran nasional pagi ini, membuatku tercenung. “BEM Unair Adakan Pilrek Tandingan”, begitulah judul yang diangkat. Hal ini mengingatkan memoriku saat-saat masih menjadi mahasiswa. Tepatnya di tahun 2007. Ketika itu UGM mengadakan suksesi pemilihan rektor yang baru, setelah masa jabatan Prof. Sofian Effendi yang dipilih tahun 2002 habis. Sebagaimana yang terjadi di Unair, penjaringan rektor UGM dimanage oleh Senat Akademik Universitas dan Majelis Guru Besar Universitas, juga mendapat perlawanan dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Permintaannya-pun hampir sama, “pemilihan langsung rektor”. Bahkan saat itu, ratusan aktivis BEM UGM sempat mengejar Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) UGM,  yang dijabat oleh pakar hubungan internasional sekaligus tokoh reformasi, Prof. Dr. Amien Rais, MA., untuk menghentikan proses pemilihan yang telah diselenggarakan oleh Senat Akademik Universitas.

Amien Rais sempat marah dengan sikap keras kepala mahasiswa, dan melontarkan kata yang cukup keras, “Anda ini tidak beragama ya? Punya agama tidak? saya ini mau khotbah Jumat, kok dihadang,” kata Amien dengan nada tinggi. Ya, kebetulan setelah dialog tidak menemui titik temu, mahasiswa masih menghadang, sementara Pak Amien harus mengisi khutbah Jum’at.

Setelah itu, hanya terdengar riak-riak kecil dari BEM, yang tidak mempengaruhi jalannya mekanisme pemilihan rektor. Hingga setelah sidang Majelis Wali Amanat termasuk di dalamnya Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Bambang Sudibyo dan Raja Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono X, terpilihlah Prof. Soejarwadi sebagai rektor UGM periode 2007-2012. Konon, pada saat pemilihan terjadi persaingan sengit antara incumbent Prof. Sofian Efendi dengan Prof. Soejarwadi. Tapi keberpihakan Mendiknas yang memiliki suara cukup signifikan kepada Prof. Soejarwadi, menjadikan alumni GMNI itu terpilih menjadi rektor UGM.

Arus perlawanan mahasiswa terhadap hegemoni birokrasi dalam hal ini Mendiknas terhadap proses pemilihan rektor memang bisa kita maklumi. Tapi ketidakpercayaan mahasiswa kepada Senat Akademik dan Majelis Guru Besar yang mengawangi pemilihan rektor, menandakan ketidakmampuan mahasiswa untuk menjalin dialog dan ketidakpercayaan mahasiswa dengan beliau-beliau yang sudah berpengalaman mengurus universitas untuk memilih kandidat yang tepat.

Suara keras untuk mengadakan pemilihan langsung rektor, dimana seluruh elemen universitas diberikan hak “one man one vote”, agaknya hanya sebuah euforia dari pemilihan langsung pileg, pilkada, dan pilpres yang dilakukan belakangan ini. Apakah mahasiswa tidak melihat efek negatif dari pemilihan langsung yang telah berjalan selama ini? Baik dari segi biaya maupun ketidaksinkronan antara ongkos demokrasi dengan kesejahteraan rakyat.

Agaknya para aktivis BEM mesti berkaca kepada diri sendiri, apakah mereka sudah bisa melakukan pemilihan presiden mahasiswa dengan jurdil dan luber serta telah mampu menarik paling tidak 50% dari keseluruhan mahasiswa? Penulis tidak tahu bagaimana tingkat partisipasi pemilihan presiden mahasiswa di Unair, tapi PEMIRA di UGM sangat memprihatinkan. Tak sampai 20% mahasiswa yang memberikan suara.

Penulis pribadi melihat, pemilihan rektor oleh para Guru Besar dan Senat Akademik Universitas masih menjadi pilihan terbaik untuk memilih rektor. Yang perlu dikoreksi adalah keberadaan pemerintah yang terlalu mendapat porsi suara yang besar. Ya, mudah-mudahan Unair bisa mendapatkan rektor yang tepat demi kemajuan Unair ke depan. Salam mahasiswa…