5 hari sudah aku tak masuk kantor. Sindrom gila nan melumpuhkan ragaku 6 tahun lalu kembali mengegoroti. Membuatku aku terkapar tanpa daya untuk mengerjakan apapun. Aku merasa tak enak dengan mbak Iva, Bu Trias, Bu Witri, Bu Shoimah dan Ibu-Ibu di kantor Aisyiyah. Meninggalkan kewajiban tanpa memberikan alasan.

Saat ini, aku terus mengembalikan semangat untuk kembali melanjutkan hidup. Aku tak ingin situasi mematikan ini terus berlarut-larut. Aku tak ingin mati sebelum takdir menjemput ajalku.

Mimpi selalu menjadi kekuatanku untuk menghadapi apapun yang terjadi. Tapi satu minggu ini, mimpiku hancur satu per satu. Penantianku menunggu Greaty sekian tahun lamanya, harus berakhir karena tak lama lagi Greaty akan menikah. Keinginanku untuk melanjutkan kuliah S2, sulit untuk terwujud dalam waktu dekat ini karena progress kursus bahasa Inggris masih stagnan.

Seiring dengan semua itu, aku kehilangan Tuhan-ku. Aku semakin jauh dari cahaya iman. Mataku tak lagi bisa menjaga pandangan. Lisanku seringkali bicara ngawur. Sholatku acak-acakan. Hampir tak pernah lagi kuikuti pengajian.

Sulit aku mencoba untuk menyampaikan semua ini kepada orangtuaku. Karena setiap kali kusampaikan kondisi buruk yang menimpaku seperti, pasti hanya limpahan kemarahan yang akan kuterima. Yang membuatku semakin bimbang dan kebinggungan.

Aku selalu berusaha melewati dilema demi dilema sendirian. Mengandalkan ilmu-ilmu filsafat yang telah kugeluti selama 7 tahun lebih. Namun, tak semua masalah dapat kujawab dengan kemampuan filosofis. Kadang lagu kak Siti Nurhaliza bisa membuatku semangat kembali. Tapi kali ini tak berpengaruh sama sekali. Dua senjata ampuhku itu, seolah tumpul untuk menjawab keterjatuhanku kali ini.

Mungkin aku butuh waktu untuk kembali. Tapi aku tak tahu berapa lama harus terbelit dengan dilema ini. Terkungkung dalam sindrom yang membunuhku perlahan-lahan ini.

*********************************

Ya, aku harus bangkit. Apapun yang terjadi pada diriku, apapun balasan atas kesalahan yang kulakukan akan kuterima. Terkadang tak semua impian menjadi kenyataan. Keinginan untuk pintar tak selamanya menemui kemudahan. Mungkin aku harus membuang jauh impianku. Biarkanlah kulepaskan Greaty dengan ikhlas, karena mungkin ia lebih baik bersama laki-laki lain yang lebih dicintainya. Kependam dulu impianku meraih beasiswa S2 di tahun ini. Keadaan di rumah yang memang sulit untuk berubah. Tapi kuyakin, mungkin beginilah cara orangtuaku mengajarkan hidup kepadaku.

Pada orang-orang yang tersakiti dan telah kujejali dengan hal-hal yang tak mengenakkan, hanya maaf yang bisa kupintakan. Khilaf telah membuatku tak mampu mengendalikan amarah dan kegilaanku.

Pada-Mu Ya Allah, ku mohon ampunanMu. Kusadari dosa-dosa yang kulakukan telah membuat Engkau murka padaku. Tapi jangan biarkan aku tenggelam dalam kedurhakaan kepadaMu. Jangan biarkan aku menjadi hamba yang tak pandai bersyukur padaMu. Maafkan aku Ya Allah…