Malam ini terasa melelahkan. Barusan selesai memandu technical meeting untuk turnamen sepakbola “Mersi Cup 4”, yang insya Allah akan dibuka hari sabtu besok. Tadi sore, dengan tenaga yang tersisa, kuikuti jua latihan bersama mas Dani. Ekspetasi meraih juara 1 untuk turnamen kali ini begitu menyala di jiwaku. Meskipun harus berletih-letih mengikuti “menu” latihan yang diberikan oleh Mas Dani, pelatih asramaku yang dulu pernah jadi pemain PSIM Jogja. Berstatus sebagai panitia sekaligus pemain membuatku harus melewati hari-hari berat belakangan ini.

Tanpa kusadari,  jadwal kerja dan kursus bahasa Inggris jadi terbengkalai. Didera oleh berbagai beban pikiran, memang membuatku jatuh dalam sakit psikologis akut. Aku tak terbiasa menghadapi situasi pelik seperti ini. Melakukan semuanya karena tak bisa kutinggalkan satupun. Aku butuh kerja untuk meneruskan hidup. Aku butuh kursus untuk nyari beasiswa. Aku harus peduli dengan kegiatan asrama karena masih diberikan kesempatan untu menumpang. Aku butuh latihan bola untuk menjaga fisik dan impianku untuk merengkuh trofi juara.

Semuanya ingin kukejar. Semuanya ingin kuraih. Namun yang terjadi,beberapa dari kesibukan itu akhirnya terpental. Ya, situasi ini membuatku ngak konsen bekerja. Hanya beberapa hari saja aku masuk kantor.  Saat kursus-pun konsentrasiku buyar. Kepalaku terasa letih didera kekalutan ini. Hingga aku binggung, kepada siapa lagi aku harus berbagi. Paling tidak mengurangi beban pikiranku.

Aku sering merasa sendirian. Berpikiran sendirian untuk memecahkan masalahku sendiri. Kadang aku iri dengan teman-teman yang bisa curhat dengan orangtuanya ketika menghadapi dilema. Tapi tidak denganku. Curhat untuk masalah beginian adalah hal tabu. Bukan karena aku tak mau mencoba. Tapi, kemarahan yang kudapatkan, membuatku urung untuk bercerita dan lebih memilih memaksimalkan kecerdasan otakku yang tak seberapa.

Mulai saat ini, nasibku tergantung usahaku sendiri. Masa depanku tergantung perjuanganku sendiri. Saat ini adalah waktu bagiku untuk berusaha melepaskan ketergantungan finansial kepada orangtua. Soal impian bisa kuliah S2, biarlah kukubur sejenak. Karena berat rasanya untuk mengejar toefl 550, jika tak ada waktu untuk mengulang dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris selain waktu kursus. Kalau ada rezeki mungkin satu atau dua tahun lagi aku bisa meneruskan kuliah S2.

Great, sebenarnya aku ingin berbagi denganmu. Tapi aku hanya bisa menyapa bayangmu saja. Aku butuh dirimu saat-saat pelik seperti ini Great. Tapi, rasanya ini hanya anganku saja.

Biarkanlah kulewati ini semua semampu kuasaku. Karena aku memang terlahir untuk tak mengeluh pada orang lain. Karena bersendirian adalah takdir yang melekat atas nasibku. Jiwa, aku hanya bisa menyeru kepadaku, janganlah mudah menyerah. Berikan kekuatan kepada tubuh, aku bisa kulakukan ini semua dengan baik. Amien…

Ya Allah, saat-saat seperti ini, kuserahkan nasibku kepadaMu. Karena nalar dan hatiku tak sanggung mencari jalan keluarnya. Kuserahkan semuanya padaMu Ya Allah, pemilik urusan langit dan bumi…