Ternyata tak mudah melewati transformasi dari anak kuliahan menjadi pegawai kantoran. Itulah yang kurasakan dua minggu ini, setelah diterima bekerja di Kantor Pimpinan Pusat Aisyiyah, sebuah organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Memulai aktivitas baru dengan tertatih-tatih karena serba kebinggungan dengan apa yang harus dikerjakan.

Tak ada lagi perpustakaan yang selalu menantiku dengan buku-buku filsafat yang inspiratif. Tak ada lagi diskusi-diskusi filosofis yang mengairahkan jiwa. Tak bisa lagi melihat senyum manis ibu dosen yang cantik lagi cerdas. Tak ada lagi obrolan dengan teman-teman sejurusan yang kaya dengan hal-hal baru.

Aktivitasku berganti dengan sebuah rutinitas mekanis. Bergelut dengan setumpuk tugas kerja yang harus mengikuti kemauan atasan. Tak ada ruang untuk menjadi “gila” atau sedikit gila sebagaimana sewaktu berada di kampus. Semua berjalan dengan norma dan turut dengan aturan-aturan.

Selama ini, kenyelenehanlah yang membuat aku bisa mengaktualisasikan potensi diri. Berpikir bebas sesuai kemauan pikiran. Sekarang, aku mengikuti sistem yang sunyi dari “kegilaan” itu.

Baru dua minggu menjalani, ternyata kejenuhan telah mendera. Aku tak menemukan gairah kerja, kecuali kalau ada penugasan liputan seminar atau diskusi. Selain itu, lama rasanya melewati pagi menuju sore di kantor yang masih terasa asing. Apalagi kehadiranku sebagai “the others”, orang Sumatera di tengah-tengah rekan kerja yang beretnis Jawa, membuatku linglung untuk mengikuti alur tata krama Jawa yang sampai ini belum kumengerti meskipun sudah tinggal di Jogja hampir 8 tahun.

Sebenarnya, aku ingin menumpaskan kejemuan di kantor dengan membaca buku ataupun ngobrol dengan teman-teman sesama filsafat. Tapi, ketika sampai di rumah, badanku telah letih dan hanya mau dibujuk dengan berbaring hingga akhirnya tertidur. Terkadang kucuba chating dengan adik-adik kelas di kampus dulu. Tapi listrik asrama yang ngak kuat menahan daya, seringkali padam karena tak sanggup menahan beban pemakaian. Kucuba pula membaca buku. Tapi mataku hanya bertahan 10 sampai 15 menit saja.

Aku tak tahu, sindrom apa yang sedang menderaku. Satu minggu ini, hanya satu hari aku masuk full. Selebihnya, lebih banyak mengerjakan tugas kantor di rumah.

Melewati masa kuliah selama 7,5 tahun dengan keasyikan intelektual ala mahasiswa terlalu berat untuk kutinggalkan. Sehingga, ketika keadaan memaksaku untuk menghadapi ruang yang berbeda, aku terkejut. Seakan-akan menemukan dunia aneh yang membuatku merasa tak betah menjalaninya.

Tapi aku tak boleh lari. Karena perubahan ini harus dihadapi. Sebuah keniscayaan yang mau tak mau harus kuikuti agar terus bisa hidup dan berproses menjadi “orang”. Tapi sampai kapan proses adaptasi ini mampu kulalui? Ataukah aku memang tak cocok dengan pekerjaan yang sekarang?? Entahlah…