Pagi ini aku kembali membaca blog Ade. Sebuah tulisan terbaru darinya menyentakkan hatiku. Sehelai Kerudung, begitulah title tulisan anyar Ade yang hendak membawa pembacanya sadar akan makna memakai jilbab. Dengan santun Ade cuba mengingatkan para gadis yang memakai jilbab untuk menyadari hal-hal yang seringkali mereka lupakan.

Jibab bukan sekedar “pembungkus tubuh”, yang hanya menutupi rambut dan kepala. Tapi ada bagian tubuh yang mesti ditutupi dengan rapi. Rasanya percuma saja jika kepala tertutup tapi daerah sekitar dada dan paha, ngepress karena baju dan celana yang dikenakan begitu sempit dan pas-pasan. Sama aja boong.

Yang lebih ironis lagi adalah gadis “sekedar” berjilbab ini begitu mudah disentuh dan dipegang oleh lawan jenisnya. Yang kentara adalah ketika berboncengan dengan seorang cowok di atas motor. Tak hanya dengan dekapan tangan untuk menjaga keseimbangan, terkadang harus menyandarkan dada dan kepala ke tubuh sang pria.

Mungkin saat ini adalah zaman dimana simbol-simbol hanya sebagai pelengkap saja. Sekedar buat gaya-gayaan. Sungguh ironis, jika kita kembali membaca perjuangan melegalkan jibab di tahun 80-an dan 90-an. Saat jilbab dianggap sebagai pakaian aneh.

Terus terang, aku merasa lebih respek dengan gadis tak berjilbab tapi berpakaian longgar dan berperilaku sopan. Tak gampang “memberikan” tubuhnya dipegang oleh lawan jenis. Karena tak ada simbol agama yang ia bawa sehingga agamapun terlepas dari stigma buruk.

Tentu akan lebih baik jika berjilbab longgar dan berakhlak baik. Menjadikan Jilbab sebagai Hijab raga, hijab hati, seperti kata Ade…