Jilbab Pembungkus Tubuh


Pagi ini aku kembali membaca blog Ade. Sebuah tulisan terbaru darinya menyentakkan hatiku. Sehelai Kerudung, begitulah title tulisan anyar Ade yang hendak membawa pembacanya sadar akan makna memakai jilbab. Dengan santun Ade cuba mengingatkan para gadis yang memakai jilbab untuk menyadari hal-hal yang seringkali mereka lupakan.

Jibab bukan sekedar “pembungkus tubuh”, yang hanya menutupi rambut dan kepala. Tapi ada bagian tubuh yang mesti ditutupi dengan rapi. Rasanya percuma saja jika kepala tertutup tapi daerah sekitar dada dan paha, ngepress karena baju dan celana yang dikenakan begitu sempit dan pas-pasan. Sama aja boong.

Yang lebih ironis lagi adalah gadis “sekedar” berjilbab ini begitu mudah disentuh dan dipegang oleh lawan jenisnya. Yang kentara adalah ketika berboncengan dengan seorang cowok di atas motor. Tak hanya dengan dekapan tangan untuk menjaga keseimbangan, terkadang harus menyandarkan dada dan kepala ke tubuh sang pria.

Mungkin saat ini adalah zaman dimana simbol-simbol hanya sebagai pelengkap saja. Sekedar buat gaya-gayaan. Sungguh ironis, jika kita kembali membaca perjuangan melegalkan jibab di tahun 80-an dan 90-an. Saat jilbab dianggap sebagai pakaian aneh.

Terus terang, aku merasa lebih respek dengan gadis tak berjilbab tapi berpakaian longgar dan berperilaku sopan. Tak gampang “memberikan” tubuhnya dipegang oleh lawan jenis. Karena tak ada simbol agama yang ia bawa sehingga agamapun terlepas dari stigma buruk.

Tentu akan lebih baik jika berjilbab longgar dan berakhlak baik. Menjadikan Jilbab sebagai Hijab raga, hijab hati, seperti kata Ade…

Iklan

11 thoughts on “Jilbab Pembungkus Tubuh

  1. Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya.

    Jadi, jilbab esensinya adalah menghijabkan hati, melindungi dari cinta yang salah, etika yang salah, rasa dan cinta itu hanya milik ALLAH untuk itulah kita tunjukan dengan membalasa cintanya dengan mengikuti perintahnya.

    Mas Gun, sekali lagi terima kasih sudah diulas disini … yo dakwah lewat tulisan, sebarkan kebenaran dan balasannya milik ALLAH, tunggu kejutan dari ALLAH. :)

  2. bner mas…. ^_^
    stuju dengan pandangan mas.
    lbih enak lihat wanita yg berpakaian biasa saja tapi sopan..

    buat mbak rindu… esensi jilbab yang indah.. bukan secara fisik.. tapi berarti..

  3. Heheheh.. emang iya.. tapi yang utama itu iman dan solatnya dulu aja deh..

    abis itu baruu dehh :cool:

    mas anggun.. kok banner aprillins.comnya ilang nihhhh.. taruh di sidebar bawah aja mas anggun biar ga mengganggu hehehe

  4. Bagaimana jika seorang dengan predikat akhwat (jilbab gede dan baju longgar) ,,pergi berduaan dengan seorang cowok..alias berpacaran??? Apa itu bukan “sekedar dan sekedar,,bahkan sangat sekedar membungkus tubuh??? Dan lihatlah di sekeliling Anda,,pasti akan anda temukan..

  5. dan si akhwat tidak sekedar jalan ato makan berduaan..tetapi juga menyentuh /memegang-megang wajah si cowok yang jelas bukan muhrimnya..bagaimana jika kondisinya demikian??? Siapa yang labih munafik??

    1. Jilbabi hati itu satu urusan, dan jilbabi kepala itu urusan yang lain. Klo jilbab kepala tapi hati gak di jilbab ya dosa hati,, klo jilbab hati tapi gak jilbab kepala ya dosa kepala,, klo gak jilbab hati dan gak jilbab kepala juga ya dosa dua2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s