Antara Cita dan Cinta


Aku masih bertahan di sini. Di kota Jogja yang kujejaki sejak tahun 2002 yang lalu. Apalagi setelah Bapak bilang, tak ada pekerjaan yang cukup menjanjikan di kampung. Di tambah lagi pengalaman pahit teman satu asrama, yang sama-sama lulusan Filsafat, yang harus kecewa ketika  mencoba peruntungan bekerja di kampung. Hanya bergaji Rp. 250.000/bulan ditambah Rp. 35.000/pertemuan ketika bekerja di universitas milik Muhammadiyah di kota Bukittinggi, membuatnya memutuskan kembali ke Jogja.

Aku beruntung diterima kerja di Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, meskipun dengan gaji pas-pas penambah uang makan sehari-hari. Di tambah jatah  makan siang, paling tidak budget pengeluaranku bisa dihemat. Toh aku sekarang tidak fokus mencari uang. Tapi lebih kepada nyari pengalaman dan mengisi waktu kosongku di pagi sampai sore hari sebelum berangkat kursus Bahasa Inggris.

Paling tidak setelah lulus level advance di JED, score toelf-ku sudah bisa mencapai target minimal untuk mengajukan beasiswa S2. Sekaligus kembali mencoba peruntungan melamar kerja kembali dengan bekal conversation Inggris yang sudah lebih mendingan dari sebelumnya.

Meskipun aku sering kehilangan arah akan melanjutkan masa depan dimana, tapi satu hal kurasakan, sulit bagiku untuk meninggalkan Jogja. Terbersit sebuah impian, mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa membangun rumah di Jogja dan membina keluarga di Jogja. Sebuah alasan kuat itu adalah Jogja memberikan jawaban kehausan intelektualku.

Di kota ini, aku mencoba menjadi sosok yang baru, sekaligus mengikis cinta masa silam suramku. Terlalu berat untuk merasakan pahitnya kenangan percintaan apabila aku harus kembali pulang ke ranah Minang. Terlalu kuat Greaty hadir dalam alam bawah sadarku. Sementara, tak secuil harapan-pun aku bisa bersanding dengan dirinya.

Begitu banyak tempat-tempat istemewa yang mengingatkanku pada dirinya. Nan akan menerbitkan airmata yang susah kubendung. Biarlah tempat-tempat istimewa itu menjadi kenangan dalam hidupku, yang sekali berapa tahun saja kujelang sambil bernostagia dengan kisah masa lalu. Syukur-syukur kenangan silam itu bisa kutulis dalam sebuah syair ataupun prosa biografiku.

Sekarang, biarkan aku di Jogja saja. Mengejar cita-cita yang kupatri dalam impian. Menjadi orang, bukan lagi menjadi pecundang. Meskipun berat jalan yang dihadang, namun semangat harus tetap kukobarkan. Meskipun lelah, pahit, dan putus asa terkadang menghalangi jalan, kan kucuba perkuat sabar meniti jalan nan berliku.

Aku bagaikan berlayar di hamparan samudera. Tak tahu sampai dimanakah batas perjalanan nan akan ku tempuh. Aku hanya mengikuti laju angin. Meskipun terkadang ingin kembali saja ke kampung halaman nan indah permai, namun jarak yang kutempuh sudah teramat jauh untuk berbalik pulang. Kupikir,

“Biarkanlah sengsara di rantau orang, daripada terabaikan di kampung sendiri.”

Iklan

One thought on “Antara Cita dan Cinta

  1. Ngun msh d jogja y..samo wak tu.he3. Ngun, no hp anggun brp?wak mau nanya2 ttg caro nerbitin buku sendiri. Mksh sblmnya ngun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s