Hari ini kupinta izin dari Bu Witri, “atasan”-ku di PP. ‘Aisyiyah untuk tidak masuk kerja. Terasa ngak enak badan. Flu dan batuk menyerang tubuhku. Jika sudah begini, tak ada yang bisa kulakukan selain memutuskan untuk istirahat. Mungkin rutinitas kerja dari pagi sampai sore di PP. ‘Aisyiyah yang kujalani satu minggu ini, beriringan dengan kursus bahasa Inggris  dari sore sampai malam di Jogja English Dormitory depan Ambarukmo Plaza, diselingi latihan sepakbola setiap Jum’at, Sabtu dan Minggu sore untuk persiapan Turnamen Mersi Cup IV akhir April ini, telah menguras energi yang kumiliki. Aku harus melakoni semuanya. Kerja PP. Aisyiyah untuk menyambung hidup di Jogja, kursus bahasa Inggris untuk persiapan mencari kerja dan studi S2, serta latihan sepakbola sebagai kewajiban kepada asrama yang telah berbaik hati memberikan tumpangan untukku.

Dari pagi sampai sore tadi, kuhabiskan waktu di depan komputer mengotak-atik blog dan beberapa jam terlelap di kasur tua tipis karena sudah dipakai tujuh tahun lebih. Meskipun harus meninggalkan kerja, tapi kusempatkan juga mendatangi tempat kursus. Maklumlah, minggu ini adalah minggu terakhir sebelum kenaikan kelas menuju Pre Intermediate Class. Kalau tak masuk, aku pasti akan kelabakan menjawab pertanyaan pas final examination hari Kamis besok.

Bertemu dengan teman-teman satu kelas: Doel, Mas Ari, Mbak Ismi, Endar and Karin serta Miss Fika dan Mr. Ahwy dua guru keren di JED membuat semangatku terbit kembali. Rasa lelah dan sakit yang menghinggapi tubuhku perlahan terbang seiring joke-joke ringan yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Selesai kursus mendekati jam 8 malam, aku masih setia duduk berbincang dengan teman-teman satu kelas. Mencoba mempraktekkan kosa kata dan conversation yang barusan diajarkan, sekalian melatih pronunciation yang masih berantakkan. Sekitar jam setengah sembilan, kuputuskan pulang setelah Endar dan Ismi pamitan.

“Ayo pulang”, begitu Endar mengajakku to check out. Aku begitu kagum dengan gadis teman satu kelas ini. Dia tinggal di Prambanan Klaten. Nglaju setiap hari, kuliah pagi dan kursus dari sore sampai malam. Belum lagi jarak Klaten ke Jogja lumayan jauh. Aku salut dengan semangatnya. Endar yang biasa kami panggil Miss Klaten (baca: Miss Kleten.. he2..he2) agaknya sudah terbiasa dengan perjalanan melelahkan setiap hari itu. Aku iri dan kecewa dengan semangatku yang tak sehebat Endar. Aku masih sering malas.

Perasaan menyesal akan diri yang terlalu banyak menghabiskan waktu sia-sia terus menggelayuti pikiranku ketika mengendari sepeda motor menuju ke asrama. Di pertigaan lampu merah dekat Universitas Sanata Dharma, lamunan mencaci diri sendiri buyar sekejap, ketika kusaksikan dua anak kecil tampak kelelahan duduk di pinggir jalan. Dua anak jalanan yang selalu kutemui selepas kursus. Batinku bergejolak. Ada perih dan sedih menyaksikan sang anak kecil yang kutaksir berumur kira-kira 4 atau 5 tahun. Ketika anak-anak sebaya mereka sudah terlelap tidur selepas makan malam, dua anak kecil itu harus berjubel dengan dinginnya malam dan sumpeknya asap kendaraan. Sambil menadahkan tangan mengharap uang recehan dari pengendara mobil dan motor di jalanan Jogja yang masih ramai.

Sungguh memilukan. Sebuah potret kehidupan yang nyata di depan mata. Meskipun beberapa kali kubaca himbauan untuk tidak memberi uang pada anak-anak jalanan di perempatan, tapi batinku tetap terenyuh. Berkecamuk segudang tanya? Aku paham bahwa yang akan menikmati hasil meminta-minta bukanlah anak-anak ingusan itu, tapi orang yang “mengeksploitasi” mereka. Orang-orang yang malas untuk bekerja, kemudian mengdrop anak-anak kecil di perempatan jalan. Memang tak seharusnya belas kasihan dialamatkan. Tapi bagaimana nasib anak-anak terlantar itu apabila tak memenuhi “target” dari “tuan-nya”? Akankah kemarahan, makian, tamparan, atau mungkin tidak dikasih jatah makan menjadi konsekuensi? Rasa tanyaku terus berkelibat tanpa sebuah jawaban pasti.

Melihat realita ini, aku akhirnya urung mencaci nasib yang menimpa diriku. Sungguh tak pantas aku mengumpat maupun menyalahkan keadaan. Nasibku jauh lebih baik dari anak-anak kecil peminta-minta di jalanan yang masih berjuang di tengah angin malam yang rentan membawa penyakit. Sementara aku masih bisa menikmati berbagai fasilitas untuk menghilangkan lelah seharian.

Aku insyaf, keadaan akan berubah jika tetap berpikir positif. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita dariku. Sudah tidak saatnya aku larut dengan diriku sendiri. Aku harus keluar dari cengkraman egois diri, turut menjadi bagian pemecah atas masalah-masalah sosial yang hadir di depan mataku. Karena lewat kasih sayang dan empati-lah hidup akan terasa lebih bermakna.

Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu. Jauhkanlah aku sifat kufur terhadap anugerah yang telah Engkau berikan padaku. Berikanlah aku kekuatan untuk membantu hamba-hambaMu yang tak berdaya karena terlindas kerasnya kehidupan dunia… Amien…

Iklan