Hamparan biru Danau Singkarak, gugusan Bukit Barisan yang mengelilinginya, masih tetap indah. Sebuah teluk kecil di dekat jembatan Ombilin masih memperlihatkan suasana eksotisnya. Gunung Talang masih berdiri megah meskipun tak lagi hijau seperti dulu.

Wajah Ibu, Bapak, 4 orang adik-adikku, Paman dan Bibi, serta sepupu-sepupuku tampak sumbrigah.  Satu per satu kusapa mereka menceritakan kisah selama 7 tahun lebih merantau di kota Jogja.

Sayup-sayup terdengar “Purnama Merindu”, salah satu hits Kak Siti Nurhaliza yang kusuka dari kamar sebelah. Antara sadar dan tak sadar kucuba membuka mata. Sambil memikirkan apakah aku ada di kampung ataukah masih di Jogja???

Ya Tuhan, ternyata aku barusan bermimpi. Mimpi di tengah hari yang cerah di kota Jogja. Indahnya alam ranah Minang, senyum Bapak dan Ibu serta kerabat yang hadir dalam mimpi tadi begitu nyata kurasakan. Apakah karena rindu yang teramat mendalam membuat alam bawah sadarku kembali menghadirkan rekaman memori sekian tahun lalu? Mungkin iya.

Sudah lebih 3 tahun aku tak pulang. Kuhabiskan waktu untuk mengejar kuliah yang berantakkan, sampai akhirnya bisa juga kuraih gelar sarjana dari UGM. Tapi gelar S.Fil dari UGM bukanlah jaminan segalanya. Aku harus belajar lagi menguasai bahasa Inggris untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga belum juga aku bisa pulang untuk sejenak melepas rindu pada kampung halaman.

Suara adzan bergema dari masjid sebelah asrama. Harus aku akhiri mengetikkan kalimat demi kalimat untuk postingan kali ini. Tulisan yang kubuat dari mimpi berkesan di siang ini.

Ya Tuhan, mudah-mudahan di hari Idul Fitri nanti aku bisa kembali pulang. Dengan status dan keadaan diri yang lebih baik dari saat ini. Engkaulah yang mengengam nasibku. Hanya kepadaMu-lah kupanjatkan do’a tulusku. Semoga Engkau mendengarkan rintihan hati ini Ya Allah… Amien…