Kucuba untuk kembali mengetikkan kata di blog ini setelah beberapa hari vakum ntuk menulis. Pergi pagi, pulang malam, menjadi keseharianku satu minggu ini. Maklumlah, keinginan untuk bertahan hidup di Jogja, membuatku menerima pekerjaan di Kantor Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, sekaligus mengambil kursus bahasa Inggris untuk mengejar impian kuliah di Inggris.

Meskipun badan letih dan tak bisa lagi menikmati tidur siang, tapi aku harus kuat menjalani ini semua. Di detik menentukan inilah masa depanku akan ditentukan. Jika tetap malas-malasan dengan habbit seperti orang kaya punya banyak uang, alamat hari esokku akan suram.

Malam ini, baru bisa pulang kantor jam 21.30 karena harus lembur mengerjakan presentasi buat Prof. Dr. Chamamah, Ketua Umum PP. ‘Aisyiyah yang akan berceramah di Mesir (Kairo) dan Syiria (Damaskus). Pengalaman pertamaku membuatkan presentasi buat seorang tokoh internasional. Meski telah menghabiskan waktu seharian, kayaknya presentasi yang ku buat belumlah maksimal. Maklumlah, rasa nervous dan kebinggungan mengolah data yang diberikan oleh beberapa petinggi ‘Aisyiyah membuatku tak maksimal bekerja. Ditambah lagi, rasa lelah sehabis sparing patner sepakbola kemarin sore masih mendera tubuhku.

Aku tak tahu, apakah akan kena marah karena hasil kerja membuat presentasi yang masih berantakkan dari bu Trias esok hari? Entahlah… Kalaupun Bu Trias marah, aku menerima dengan lapang dada. Karena terus terang aku belum pernah mengerjakan tugas seperti ini.

Malam ini, hanya kunikmati di depan komputer. Mendengarkan lagu dari dua biduanita yang kukagumi Kak Siti Nurhaliza dan Celine Dion. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengobati lelah. Biasanya facebook menjadi teman sepiku. Tapi sekarang, facebook tak lagi menarik minatku. Senyap tanpa ada yang menyapa.

Bekerja di PP. ‘Aisyiyah yang notabene adalah organisasi perempuan, tak membuat keinginanku untuk menikah jadi menggebu. Rasanya aku tak lagi berminat untuk membicarakan masalah satu ini. Hatiku telah terlalu terluka untuk memulai kisah percintaan yang baru. Begitu sakitnya diacuhkan oleh para wanita, padahal aku teramat berharap padanya. Surat-surat seriusku hanya dianggap angin lalu. Tanpa pernah dibalas. Telah sedia aku menunggu. Tapi tetap saja diam yang kudapati. Ah, memang sudah takdirkku untuk merana dalam percintaan.

Aku hanya bisa menghibur diri, bahwa banyak pemikir-pemikir hebat yang harus kecewa dengan cinta yang diperjuangkannya. Barusan aku membaca sebuah kisah cinta pedih dari seorang penulis besar Hemingway di Kompasiana. Mungkin, Tuhan hendak mengajarkanku tentang sesuatu dengan kekecewaan dalam percintaan. Hendak menguji kekuatan hatiku, karena ketika orang bisa melewati jeratan asmara, maka akan mudah baginya untuk melewati cobaan-cobaan dunia yang lain.

Beberapa hari yang lalu, aku pernah membuat sebuah status di facebook, “Pingin buat thesis dalam bahasa Inggris dan disertasi dalam bahasa Jerman”. Memperjuangkan cinta, tak lagi menjadi prioritasku. Yang paling kuimpikan saat ini adalah bisa segera ke kuliah S2 keluar negeri. Meski terkadang bayangan dan desakan untuk menemukan pujaan hati mendera hatiku, tapi seketika perutku mual mengingat kisah cinta lama yang berakhir derita.

Aku ingin mati bukan untuk cinta. Tapi aku ingin mati meninggalkan karya, yang bisa dibaca generasi yang hidup sesudahku. Aku ingin meninggal seperti ayahnya Karin, teman satu kursus yang beberapa waktu lalu sempat kuceritakan. Ayah Karin, seorang wartawan Kedaulatan Rakyat, sebuah Koran Legendaris yang terbit di Jogja, dan seorang penulis dengan karya-karya laris.

Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan keinginanku dan memberikan aku kekuatan untuk mewujudkannya. Aku yakin, jika kita berusaha meraih sesuatu, maka suatu hari keinginan yang hari ini hanyalah sebuah mimpi akan menjadi kenyataan…

Aku ingin melepas lelahku lewat tidur di bawah temaram bulan. Sambil berharap esok hari, Tuhan masih memperkenankanku kembali menyaksikan sinar Sang Mentari… Mat malam aja semua…:)