Tak dapat dipungkiri, geliat mengembirakan Ekonomi Islam dan Bank Syariah di Indonesia tidak lepas dari peran kampus. Berbagai seminar, diskusi, dan workshop  diadakan oleh para civitas akademika. Dalam ruang yang lebih intens dan mendalam, para mahasiswa mendirikan berbagai forum kajian yang konsen dengan perkembangan Ekonomi Islam dan Bank Syariah seperti Sharia Economic Forum Universitas Gadjah Mada (SEF), Forum Ekonomi Syariah STAIN Solo (FRESH), Forum Studi Ekonomi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (ForSEI), Forum Studi Ekonomi Syariah Universitas Trisakti (FORDEST), Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), dan berbagai forum-forum lainnya. Kampanye Ekonomi Islam dan Bank Syariah-pun semakin massif menjalar ke ruang publik karena event-event yang diadakan para aktivis kampus itu menjangkau masyarakat luas.

Ketika para aktivis kampus begitu bersemangat mendorong masyarakat untuk memahami keunggulan Ekonomi Islam dan mengajak masyarakat untuk menggunakan jasa perbankan syariah, mereka sendiripun masih menjadi kalangan “pinggiran” dalam dinamika bisnis perbankan syariah. Bank Syariah tentu sangat mengharapkan bergabungnya nasabah-nasabah dengan dana besar dan punya prospek ekonomis mumpuni. Jika demikian, “Apakah nasabah dari kalangan aktivis kampus ataupun mahasiswa secara umum menjadi target prioritas dari bank-bank syariah yang ada sekarang ini?

Kalau kita melihat potensi ekonomi mahasiswa secara umum, memang tak terlalu mengiurkan. Apalagi mengharapkan mereka berinvestasi dan menabung uang di bank. Sebagian besar dana yang dimiliki oleh mahasiswa (kebanyakan dari kiriman orang tua), hanya singgah sebentar di tabungan, kemudian terus mengalami penyusutan hingga mengalami titik nadir di akhir bulan. Maka tak jarang kita melihat para mahasiswa makan seadanya pada “bulan-bulan tua” (sekitar tanggal 20-an ke atas) bahkan sampai pinjam sana-sini karena kiriman dari ortu yang biasanya sampai di awal bulan tak lagi tersisa di ATM. Jika begini keadaannya, bagaimana bisa menyisakan budget untuk menabung?

Letak persoalan bagi mahasiswa terutama aktivis dakwah Ekonomi Islam bukanlah pada, “Apakah sudah memiliki nomor rekening Bank Syariah?” Karena hampir semua mereka telah memiliki buku tabungan di bank-bank syariah yang ada. Namun, kondisi yang terjadi adalah rekening Bank Syariah yang mereka miliki tak lebih sebagai “tanda pengenal” saja, karena jarang diupdate saldonya. Gimana mau nambah, kalau budget bulanan saja pas-pasan… he2..he2..

Atas dasar uraian di atas, bisa ditarik hipotesis bahwa “Mahasiswa bukanlah market yang prospek untuk menaikkan resources bank syariah, tapi bisa dimanfaatkan untuk promosi Bank Syariah.” Agaknya cara pandang inilah yang mungkin masih membelenggu bank-bank syariah yang ada saat ini. Bank syariah mau memberikan dana bagi pelaksanaan berbagai acara kampanye untuk memboomingkan Ekonomi Islam yang membuka peluang bertambahnya nasabah, namun belum memiliki kebijakan pro kepentingan studi mahasiswa.

Masih jarang terdengar program beasiswa ataupun pemberian kredit usaha bagi mahasiswa dari Bank Syariah. Para aktivis dakwah kampus dan mahasiswa secara umum lebih dimanjakan oleh pemberian dana-dana beasiswa yang lebih besar dari Perusahaan-Perusahaan Multinasional dan Perusahaan-Perusahaan Rokok yang dikelola dengan filosofi Kapitalistik. Kita-pun belum mendengar program “pinjaman uang untuk studi ” (yang bisa dibayar setelah mereka bekerja dengan agunan ijazah sarjana dengan cara mencicil dengan periode waktu tertentu lewat rekening khusus di Bank Syariah) bagi mahasiswa-mahasiswa berprestasi tapi memiliki kemampuan finansial pas-pasan.

Memang beberapa Bank Syariah telah berdiri di kompleks kampus. Namun, keberadaannya masih kalah dengan keberadaan ATM-ATM bank konvensional, yang selalu intens dikunjungi para mahasiswa. Ketika tidak ada upaya “perayuan” yang menyentuh sisi sensitif mahasiswa seperti pemberian beasiswa ataupun program filantropis lainnya, maka keberadaan Bank-Bank Syariah di kampus akan tetap adem-adem ayem saja.

Meskipun program-program bantuan yang bersifat filantropis tak akan menambah jumlah uang yang masuk ke Bank Syariah, bahkan sebaliknya, semakin mengurangi modal yang sudah ada, tapi penulis melihat langkah ini akan menjadi investasi jangka panjang. Ketika Bank-Bank Syariah mampu melakukan persuasi pada mahasiswa, maka beberapa tahun setelah mereka lepas dari perguruan tinggi dan bekerja di berbagai bidang, yang tentunya telas menghasilkan sumber-sumber ekonomi, maka mereka telah bermetamorfase menjadi nasabah potensial dari berbagai produk Bank Syariah.

Apakah Bank syariah mau melirik peluang ini??? Sedikit berinvestasi untuk hasil yang mengiurkan di masa yang akan datang???