Hari ini aku senang karena bisa melihat Karin tersenyum, setelah hari kamis malam yang lalu Ayahnya meninggal dunia. Bualanku bersama Mas Ari, teman kursus yang digelar Big Papa karena paling senior di kelasku, ternyata kali ini berhasil membuat Karin tertawa. Meski masih terlihat raut kesedihan, namun ketegaran lebih menguasai dirinya.

Masih kuingat penyesalan Karin, beberapa hari sebelum meninggalnya sang Ayah. “Aku nyesel Mas. Ngak bisa masuk SMA negeri gara-gara salah masukin blangko penerimaan siswa baru”. Tadi Karin menanyakan kepadaku, “Tahu dari mana Mas, kalau Papa-ku meninggal?”. Kubilang aja dari staff JED. Malam ini, aku melihat semangat baru dari Karin. Selepas kelas conversation, ia begitu sibuk mengcopy bahan-bahan pelajaran yang beberapa waktu tak sempat ia ikuti. Aku begitu kagum bagaimana begitu cepatnya ia bangkit dari kesedihan karena kehilangan sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan, semoga Karin tetap semangat menjalani kursus dan bisa sama-sama meneruskan sampai level advance. Amien…

Hari ini adalah hari pertama kursus setelah melewati ujian mid hari Kamis yang lalu. Terus terang, aku sangat kecewa dengan hasil ujian grammarku. Lupa membedakan mana yang nominal sentence dan verbal sentence hingga hanya beberapa saja jawaban yang benar. Untuk ujian conversation, ya lumayanlah. Mr. Ardit hanya mengoreksi beberapa kesalahan kecil dalam pengucapanku.

Sekarang tak lagi kujumpai Mr. Ardit dalam kelas conversation. Beliau digantikan Mr. Ahwy, mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Tak seperti Mr. Ardit yang lebih memakai kata-kata simple and pengucapan yang ku mengerti, dialek Mr. Ahwy yang begitu cepat sangat sulit kutangkap. Belum lagi sengau seperti orang Barat, yang membuat lidahku keseleo meniru aksen seperti Cinta Laura. Tapi prononciation Mr. Ahwy memang keren. Maklumlah, 2 tahun beliau menghabiskan waktu belajar bahasa Inggris di Pare Kediri, yang terkenal sebagai tempat kursus kelas wahid di Indonesia.

Saat ini, aku hanya mencoba melepaskan lelahku setelah sejak tadi pagi beraktivitas. Menggotong motor grand tua-ku untuk diservis, menemui Mas Arif untuk diberikan pengarahan bagaimana membuat reportase untuk web, rapat staf Humas PP. Aisyiah yang memperkenankanku bertemu dengan seorang Ibu yang barusan pulang studi dari Perancis, kursus di JED hingga barusan sampai di asrama beberapa menit yang lalu.

Ya, aku mencoba menikmati kesibukan ini. Meskipun tak bisa lagi menikmati tidur siang. Tapi tak mengapalah. Mudah-mudah2an apa yang kulakukan saat ini akan bermanfaat untuk masa depanku. Biarlah bersusah-susah saat ini, daripada nanti menjadi orang pinggiran yang hanya menjadi kaum pinggiran. Mumpung masih muda and single, saat-saat inilah aku harus memaksimalkan energi yang ada untuk membuat diri terus maju dan terus maju.

Semoga Allah meridhai jalanku dan memberikan kekuatan untukku melewati perjuangan ini. Amien…