Sekitar tahun 1930-an Bank Sentral USA menetapkan suku bunga yang rendah untuk seluruh sistem perbankan di Amerika Serikat. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan ekonomi USA yang pada masa itu terombang-ambing di tengah berkecamuknya perang.  Rumus baku yang kemudian menjadi mitos dalam ilmu ekonomi mengatakan “apabila suku bunga turun maka inverstasi akan naik dan apabila suku bunga turun maka konsumsi akan naik”. Kebijakan menurunkan suku bunga memang membantu jalannya kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, di sisi lain para investor tidak lagi tertarik berinvestasi dengan menyimpan uang di bank. Maka beberapa orang kaya mengalihkan dananya ke pasar modal atau bursa saham.

Dalam dunia perbankan orang yang mengalihkan dananya ini dikenal dengan istilah Fund Manager/Hedge Fund . Awalnya, keberadaan Fund Manager hanya bertujuan melindungi kekayaan (how you  protect your fund). Namun, seiringnya waktu kegiatan Fund Manager berubah menjadi kegiatan mengandakan uang sebanyak mungkin dari keuntungan membaca fluktuasi saham.

Gonjang-ganjing harga saham yang tak menentu dan sangat sensitif dengan berbagai peristiwa politik, sosial dan keamanan seringkali membuat harga saham naik luar biasa melebihi harga fundamental atau harga sebenarnya. Fenomena ini dalam ekonomi dikenal dengan istilah economic buble. Untuk konteks AS, economic buble telah memperlihatkan gejalanya pada tahun 1990-an. Pada tahun 1998, sebuah Hedge Fund terkenal di AS, Long Term Capital Management (LTCM), ambruk menjalankan bisnis di Rusia. Padahal lembaga ini dikelola oleh 2 orang CEO kawakan peraih Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1997,  Myron Scholes dan Robert C. Merton.

Mendapat malu atas sepakterjang “memalukan” yang memalukan itu, panitia pemilihan peraih Nobel kemudian merivisi kriteria kandidat dengan memasukkan unsur kepedulian terhadap kaum ekonomi lemah dan miskin. Maka pada tahun 1998, Amartya Sen, Ekonom India yang terkenal karena karyanya tentang kelaparan, teori perkembangan manusia, ekonomi kesejahteraan, mekanisme dasar dari kemiskinan, dan liberalisme politik, dipilih sebagai peraih Nobel bidang ekonomi.

Kembali pada perjalanan krisis lembaga keuangan AS, setelah LTCM diselamatkan oleh Bank Federal AS, tidak serta-merta ancaman economic buble lepas mencengkram AS. Puncaknya di tahun 2008 ketika Hedge Fund terkemuka Lehman Brothers yang memiliki aset 640 milliar $ ambruk karena kemacetan kredit rumah yang bernilai 12,5 triliyun $. Hal ini disebabkan terlalu mudahnya lembaga keuangan memberikan kredit sehingga ketika peminjam tidak mampu membayar dalam waktu yang bersamaan, maka triliyunan uang tersendat sementara untuk menjual rumah yang amat banyak dalam waktu yang singkat merupakan hal yang mustahil.

Kalau di Indonesia, potensi ancaman krisis karena kredit macet dari masyarakat lumayan minim. Hal ini dikarenakan kredit yang booming di Indonesia saat ini adalah kredit motor yang memang tidak memiliki harga jual sebesar rumah. Kalaupun terjadi kredit macet, maka penyitaan bisa dilakukan dan motor itu bisa dijual kembali dengan harga yang tidak terlalu jatuh.

Jika krisis di AS disebabkan kredit macet, maka di negara-negara berkembang krisis ekonomi lebih disebabkan besarnya hutang dibandingkan cadangan devisa negara. Sebagaimana yang kita ketahui, negara-negara berkembang selalu membuka diri untuk investasi terutama mengajak investor asing menanamkan modal di negeranya. Ketika terjadi peristiwa yang dilihat oleh pemain modal asing beresiko tinggi terhadap keamanan modalnya, maka sertamerta mereka menarik modal yang telah dikucurkan. Sebagaimana yang kita ketahui pemain pasar modal atau Hedge Fund sangat sensitif dengan resiko kerugian. Ketika penarikan modal besar-besaran itu terjadi dan rasionya terlalu jauh dengan devisa negara, maka krisis akan menghantam negara tersebut.

Hedge Fund yang bisa menumpuk sekian juta, miliar ataupun triliyunan keuntungan dari keterlibatan mereka di sektor perbankan sangat mengandalkan kedekatan mereka dengan pengambil kebijakan di suatu negara dan sumber informasi. Pertarungan di antara mereka pada dasarnya adalah kecepatan dan ketepatan menganalisa informasi. Lewat analisa yang canggih itulah mereka melakukan pilihan kemana uang/modal akan diletakkan/diinvestasikan. Oleh karena itu, intuisi bisnis lewat asumsi-asumsi berdasarkan data yang diperoleh menjadi kekuatan utama dalam bermain di sektor perbankan.

Meskipun ekonomi merupakan bidang yang bisa dihitung secara matematis, tidak serta merta ekonom bisa membuat prediksi yang tepat. Dinamika yang berlangsung terkadang tak seperti yang diperkirakan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila LTCM yang telah dikomandani oleh 2 orang peraih Nobel Ekonomi terjungkal saat berkecimpung di Rusia, dan tidak mencenggangkan pula ketika George Soros mengalami kerugian saat krisis 1997-1998.

Kondisi tak menentu tentang situasi pasar ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Mengharapakn invisble hand untuk memulihkan pasar tak lebih ibarat mengharapkan hujan di musim kemarau di gurun pasir. Dibutuhkan regulasi yang ketat dan moral integrity. Sebab,  sebaik apapun peraturan yang dibuat kalau moral hazart telah mendominasi, maka kehancuran ekonomi tak bisa dielakkan lagi.

Krisis adalah ancaman abadi yang tak akan lepas dari dinamika ekonomi dunia. Ibarat manusia yang tak akan mungkin selalu sehat sepanjang hidupnya. Minimal didera demam atau flu. Namun, di tengah dunia yang semakin terintegrasi saat ini dimana satu negara membutuhkan negara yang lain, maka krisis yang terjadi di suatu negara akan berimbas pada negara lain. Upaya bersama penyelamatan akan menjadi tindakan yang akan dipilih. Ibarat sebuah rumah di kompleks perumahan padat terbakar, maka para tetangga tak bisa duduk diam sambil tiduran. Mereka harus bahu-membahu memadamkan api agar tak menyebar ke rumah mereka.

Sistem ekonomi yang dijalankan di dunia saat ini memang rentan dimanfaatkan oleh Para Hedge Fund dengan perangkat canggih yang mereka miliki. Mereka menikmati keuntungan luar biasa besar, sementara di sisi banyak orang yang tetap menderita dalam jerat kemiskinan. Beberapa dari Fund Manager seperti George Soros mengambil peran filantropis yang hampir mirip dengan kisah Robin Hood. Mendirikan foundation untuk membiayai kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan di negara-negara berpeduduk miskin.

Pertanyaan besarnya adalah apakah keberadaan para Hedge Fund ini harus dibiarkan eksis dan diafirmasi lewat gerakan-gerakan filantropis yang mereka lakukan ataukah dunia butuh yang lebih dari sekedar para “Robin Hood” Neo Kapitalis itu? Jika TIDAK bisa terus dibiarkan, apakah sistem ekonomi Islam mampu memberikan angin surga bagi perekonomian dunia??? Entahlah… Yang pasti geliat sistem kapitalis akan terus memperbaiki dan merenovasi diri menjadi lebih kuat, meskipun banyak tokoh ekonomi Islam mengatakan ekonomi kapitalis akan segera menemui ajalnya…

*****************************

NB: Tulisan ini terinspirasi dari Diskusi “Great Thinkers” Pasca Sarjana UGM Rabu 24 Maret 2010