Raungan sirene mobil jenazah “Bunga Selasih” menggema melewati Jogja English Dormitory (JED), tempat kursusku 2 minggu ini. Aku tersentak ketika diberitahu seorang teman bahwa yang meninggal adalah Ayah Karin, siswi SMA Muhammadiyah yang sering aku godain saat di kelas conversation dengan sapaan “Katharina”. Sebenarnya niatku hanya ingin membuat dia tertawa dan betah di kelas, karena sejak awal masuk kuperhatikan muka-nya selalu murung. Arrrrggggh, baru tadi malam sebab kemurungan Karin terungkap. Ternyata wajah Karin yang sering memelas dikarenakan beberapa minggu ini Bapak-nya menderita sakit. Dan tadi malam beliau meninggal dunia. Timbul sebuah sesal, kenapa aku tak sensitif dengan gelagat Karin yang tak biasa? Hanya sebuah harap, semoga Karin bisa bangkit setelah kehilangan orang yang sangat dicintainya, di usia yang masih cukup muda. Mungkin butuh waktu beberapa minggu untuknya kembali menjadi “biasa”. Tentu aku akan sangat merindukan Karin, bersama lagi belajar di kelas dan sesekali curhat tentang lika-liku anak SMA di Jogja.

Langit mendung tak berhenti sampai di sana. Malam tadi adalah pertemuan terakhir bersama Mas Ardit, guru conversation-ku. Mas Ardit yang masih kuliah di English Departement Sanata Dharma University, yang memang terkenal program Bahasa Inggrisnya di Jogja, ngak lagi mengajar karena mendapatkan pekerjaan baru sebagai House Keeping di Hotel Mewah bertaraf internasional “Hyatt Regency Yogyakarta”. Ya, mungkin di sana lebih menjanjikan dibandingkan menjadi staff pengajar Bahasa Inggris, baik dari segi salary apalagi untuk nyari pengalaman. Sebuah pilihan realistis.

Aku begitu sedih melepas Mas Ardit. Baru 2 minggu diajar oleh beliau. Baru asyik-asyiknya belajar bercuap-cuap berbahasa Inggris meskipun seringkali salah. Aku menemukan seorang Guru yang umurnya mungkin lebih muda dariku, tapi begitu pintar dan berwibawa ketika mengajar. Beberapa waktu beliau membetulkan grammar dan pronounciationku yang memang masih berantakkan. Aku yakin tak banyak Teacher yang bisa mengkolaborasikan pendekatan personal dan knowledge sebagaimana yang dimiliki Mas Ardit. Tentu aku akan merindukan Mas Ardit yang mungkin bisa terobati lewat sms atau telpon-telponan lewat HP yang sempat kuminta setelah Mid Examination tadi malam.

Barusan Hp-ku berbunyi. Sebuah sms datang dari Bu Witri staf Humas PP. Aisyiah yang kemarin bersama 2 pimpinan Aisyiah melakukan interview untuk penerimaan staff website PP. Aisyiah. Terus terang, jawabanku asal-asalan saja saat ditanya oleh petinggi-petinggi Aisyiah itu. Ya, mau gimana lagi, aku tak tahu tentang Aisyiah saat ditanya “Apa yang anda ketahui tentang Aisyiah?”. Apalagi pas ditanya tentang keikhlasan. Sungguh aku ngak tahu banget apa itu ikhlas. Sudah malas rasanya begelut dengan kata-kata ideal, normatif dan berbunga-bunga, yang seorang Filsuf-pun belum tentu bisa menguraikannya dengan tepat.

“Ass. Berdasarkan hasil wawancara kemarin, PP Aisyiah menerima saudara untuk menjadi tenaga Humas Aisyiah.”

Begitulah bunyi sms Bu Witri, dosen Bahasa Inggris di UIN Sunan Kalijaga, yang setelah sempat ngobrol-ngobrol kemarin ternyata “Orang Minang” juga. Ya, mudah-mudahan aku bisa bekerja dengan baik sekaligus bisa mendapatkan pengalaman baru. Siapa tahu ada Ibu-Ibu Aisyiah yang tertarik dan melamarku jadi menantu??? (ha2..ha2.. dasar dirimu error, Gun).

Kucuba renungi peristiwa demi peristiwa yang kuhadapi. Ternyata memang begitulah hidup. Kelindan antara tangis dan tawa, deretan suka dan duka, perpisahan dan pertemuan, yang terus bergulir sampai bumi berhenti berotasi dan berevolusi. Hanya padaMU Tuhan kuserahkan jalan hidupku. Karena sesungguhnya aku hanyalah hamba yang mengabdi dan tunduk pada takdirMU.