Dulu aku merasa waktu emas dalam hidup adalah pagi hari. Keyakinan itu semakin kuat ketika mampu menyelesaikan skripsi dalam waktu 2 bulan 2 hari yang seringkali kukerjakan selepas sholat shubuh. Tak hanya itu, tulisan-tulisan di blog, juga sering kuketik dari rentang waktu jam 6 pagi sampai jam 10 pagi. Kalau sudah lewat dari jam 12, kekuatan pikiranku mulai menghilang dan semakin berkurang ketika sore dan malam. Makanya aku selalu memaksimalkan membuat sesuatu ataupun belajar di pagi hari, menjadikan siang sebagai momen untuk tidur, sore hari untuk olahraga, dan malam hari refrehing dengan menonton tv atau mendengarkan musik.

Namun, sekitar 2 minggu ini ada reformasi dalam keseharianku. Jadwal kursus bahasa Inggris di Jogja English Dormitory dari sore sampai malam, membuatku harus bisa konsentrasi pada waktu-waktu dimana biasa digunakan untuk olahraga dan berleha-leha. Saat gathering members sebelum kursus dimulai, aku sempat meminta untuk jadwal pagi. Namun, pihak manajemen kursus bilang cuma ada kelas sore dan kelas malam Mas. Mau tak mau akupun harus ikut aturan.

Dengan sebuah tekad membara karena tak mau lagi malu-maluin saat English Interview saat melamar kerja, ku cuba jalani jadwal yang telah ditetapkan. Satu dua hari memang berat, karena harus melewati kebiasaan olahraga di sore hari. Tapi seiring berjalannya waktu, akupun enjoy menjalani schedule baru ini. Apalagi teman-teman sekelas yang “crazy” and smart,  Mr. Ardit and Ms Fika yang ngajarnya enak, serta english zone di JED semakin membuatku kerasan berlama-lama untuk sekedar bercuap-cuap dalam bahasa Inggris meskipun masih kaku.

Waktu untuk olahraga memang berkurang, tapi aku bisa berpuas-puas berolahraga dari Jum’at sampai Ahad. Di hari-hari itu ngak ada jadwal kursus. Lagi pula yang penting bagiku sekarang bukan bisa tiap hari olahraga, tapi bagaimana bisa segera lancar bahasa Inggris untuk menghadapi test-test kerja ataupun memasukkan aplikasi beasiswa S2.

Meski terkadang aku menyesal, kenapa tidak dari dulu mengambil kursus sehingga tak perlu menambah waktu pasca wisuda ini untuk belajar lagi? Namun, kata temanku, “Tak ada waktu terlambat”. Semangatku semakin kuat ketika mendapat informasi tentang seorang professor tafsir Al Qur’an yang masih berjuang untuk menaikkan score toefl-nya menjadi 500-an.

Walaupun harus “menganggur” beberapa bulan untuk menguasai bahasa Inggris, aku ngak akan menyesal. Karena kalau sudah menguasai bahasa yang satu ini, aku yakin peluangku untuk melamar kerja dan memperoleh beasiswa akan semakin besar.

Aku akan terus semangat mengikut kursus yang disetting selama 4 bulan dari level basic sampai advance. Kalau sekiranya belum juga memperoleh score toefl 550, aku akan coba mengikuti program berikutnya. Itulah score minimal yang mesti kupenuhi apabila mau kerja di perusahaan multinasional atau memperoleh beasiswa luar negeri.

Betapa aku ingin menginjakkan kaki di UK.  Sebuah impian yang ku yakin akan menjadi kenyataan apabila aku sabar dan semangat melewati masa-masa belajar saat ini. Ya, Tuhan berikanlah kekuatan agar bisa menguasai bahasa Inggris. Karena tanpa hidayah dan rahmat-Mu tiada mampu aku melakukan semua ini. Amien.

**************************************

Pelayaran asmaraku terus berjalan. Aku tak ingin mati dalam kekecewaan. Larut dalam tangisan karena ditinggalkan oleh sosok yang telah ku telah kutunggu belasan tahun. Mungkin Tuhan tidak menakdirkanku bersamanya. Kucuba mendayung ke lain arah, meski energi telah terkuras dan perahuku sudah dimakan waktu.

Namun, tanpa berputus asa kulihat sebuah Pulau impian yang lebih hijau dan berpasir indah. Berbekal keikhlasan melepas masa lalu dan harapan akan hari esok yang lebih baik dengan tenaga yang ada kembali kudayung perahu tuaku. Ku harap sang pemilik “Pulau Impian” itu, mengizinkan dermaganya untukku berlabuh. Memberiku waktu untuk tinggal di pulaunya. Menyembuhkan luka dan memperbaiki perahu tuaku yang telah rapuh diterjang gelombang samudera. Mudah-mudahan ia berbaik hati memberikan izin.

Ketika sudah tiba saatnya bagiku untuk kembali berpetualang, menghadang ganasnya lautan, kuharap ia mau menemaniku menuju tanah impian. Tempat yang teramat dirindukan. Dimana tak ada lagi kesedihan dan penderitaan. Tempat dimana kebahagiaan abadi untuk selamanya…

**************************************

Sayang, deretan kalimat-kalimat ini terpaksa harus kuputus. Ada seminar tentang George Soros yang mesti kuikuti. Sampai di sini dulu ya Guest. Insya Allah, kalau ada waktu dan inspirasi lagi, aku akan kembali menulis di blog ini… Makasi semua…