Baru sekitar jam 2-an aku bisa tertidur. Padahal pelatih sepakbola-ku sudah memperingatkan jangan begadang. Tapi mau gimana lagi, pikiranku benar-benar kacau-balau tadi malam. Banyak anomali-anomali kehidupan yang tertawa riang di depanku. Kontradiksi-kontradiksi yang terlalu vulgar menampakkan dirinya di hadapanku.

Mungkin beginilah hidup. Dimana munafik teriak munafik. Maling teriak maling. Kampanye mematikan atas orang yang dianggap menganggu eksistensi dirinya. Menyuarakan apapun yang bisa membunuh lawan. Anehnya, sosok-sosok yang sekarang begitu sengit bertempur adalah orang-orang yang dulu begitu sangat dekat. Teramat dekat malah. Tapi kenapa sekarang melakukan aksi yang sama di tempat yang berbeda, berhadap-hadapan secara frontal? Apakah ini hanya sebuah konspirasi saja, atau ada persinggungan kepentingan di antara mereka?

Fenomena yang cukup asyik diamati, tapi sulit dimengerti akal sehat. Sulit mencari siapa yang salah dan mana yang benar. Mungkinkah kedua-keduanya sama-sama benar ataukah sama-sama salah sekaligus? Kasihan orang-orang yang tak tahu apa-apa. Terjebak dalam pertempuran yang tidak mereka mengerti. Mereka binggung dengan situasi yang terjadi. Diseret dalam masalah yang seharusnya tak menjadi beban pikiran mereka. Harus bergulat dengan dosa sejarah yang seharusnya tak dilimpahkan kepada mereka.

Sah-sah saja orang memuja saat masa-masa ia menjadi pemain utama. Sah-sah saja orang mencaci-maki saat ia terlempar dari pusaran kekuasaan. Ini sudah menjadi takdir sejarah. Namun, teramat aneh mencoba menyamakan kondisi dulu dengan sekarang. Teramat egois apabila menjelek-jelekan masa lalu, padahal saat itu ia memilih lari dari keadaan yang bisa dirubahnya. Satu pihak terlalu larut dengan nostagia sejarah tanpa berlaku jujur bahwa banyak kesalahan-kesalahan masa-masa lalu dan fakta-fakta yang terpaksa ditutupi untuk mempertahankan eksistensi diri. Di pihak yang lain, terus saja menghujat masa lalu karena tersingkir oleh keadaan saat itu. Terbuang karena kesalahan sendiri dan ketidakmampuan bermain dengan keadaan.

Ketika dua kubu ini bertemu kembali, awal-awalnya bisa romantis karena mendapatkan keuntungan dari keadaan yang telah dibangun dengan susah payah oleh generasi-generasi baru. Tapi traumatik masa lalu sangat sulit untuk ditutupi. Meskipun sudah dicoba untuk diredam, namun seiring waktu menjadi bom waktu yang siap diledakkan.

Generasi baru hanyalah korban dari pelanggengan kekuasaan dari pihak-pihak yang tak ingin nama baiknya tercemar. Berlagak sebagai pahlawan untuk kemudian berharap dielu-elukan. Bukankah penghormatan dan penghargaan merupakan beberapa hal yang paling dicari-cari oleh manusia? Kasihan generasi baru yang harus terlibat dalam perang tak jelas. Konflik karena ego orang-orang yang merasa punya kuasa atas kondisi yang sedang berjalan.

Pikiranku langsung terhubung dengan “V for Vendetta“. Sebuah film action yang baru kutonton tadi malam. Sebuah film yang menginspirasi dan membuatku sedikit paham atas masalah-masalah yang kuhadapi.  Harus ada orang seperti Mr. V yang rela mengorbankan nyawanya untuk membunuh Tirani. Bukan hendak menjadi Tirani baru, tapi memberikan suasana kebebasan kepada generasi baru untuk meneruskan masa depan dengan nilai-nilai kebaikan yang telah mereka ketahui.

“Avey dan orang-orang sezamanmulah yang akan melanjutkan kehidupan ini menuju keadaan lebih baik. Aku harus mati seiring matinya Tirani yang kumusuhi. Aku tak mungkin membangun kehidupan baru karena beban masa lalu tak bisa kupisahkan dari diriku”. Mungkin ungkapan inilah yang hendak disampaikan Mr. V kepada Avey menjelang detik-detik kematiannya.

Pesan Mr. V mengingatkanku pada sebuah ungkapan Erich Fromm dalam buku “As Man Be God”. Musa yang telah berhasil menyelamatkan Bangsa Israel dari perbudakan Fira’un tak diperkenankan Tuhan untuk mencapai kejayaan. Hingga kematiannya, Musa tak mampu membawa Bangsa Israel ke “tanah impian”. Baru lewat kepimpinan Joshua, Bangsa Israel berhasil memasuki bumi Kana’an, “The Promise Land” yang disediakan Yahweh untuk mereka. Fromm mengatakan, “Tuhan tidak menakdirkan Musa berhasil membawa Bangsa Israel ke tanah impian dikarenakan ia merupakan bagian dari masa lalu. Ia bisa mengantarkan ke gerbang revolusi. Namun, revolusi harus dipimpin dan digerakkan oleh orang-orang baru yang tidak punya beban sejarah.”

Semoga generasi baru yang sedang terombang-ambing saat ini bisa membaca keadaan lebih cerdas. Tidak kemudian lari karena tekanan keadaan seperti generasi sebelumnya. Semoga genarasi baru sekarang ini berhasil melewati revolusi yang memang harus memakan korban.