Lama aku tercenung. Memikirkan kondisi saat ini. Peristiwa demi peristiwa setelah aku mencoba membuka diri dan melupakan Greaty. Berharap ada yang mau peduli. Berangan-angan dapat menemukan penganti. Berpikir optimis bahwa wanita di atas dunia ini tak hanya satu atau dua orang saja yang layak dicintai.

Namun, yang kudapatkan hanyalah penolakan. Penolakan halus yang begitu menyakitkan. Dipandang sinis sebagai paranoid. Dijauhi seperti orang gila yang tak diinginkan kehadirannya.

Kadang aku berpikir, lebih baik mengangan-angan Greaty saja. Meskipun hanya dalam lamunan, tapi lebih baik daripada harus diperlakukan seperti ini. Timbul penyesalan, percuma saja berlelah-lelah mengapai prestasi demi sebuah pembuktian, jika tak ada cinta yang berlabuh di hati.

Sering aku berpikir, apakah tampangku terlalu jelek? Apakah aku terlalu bodoh hingga tak layak disayangi? Apakah aku terlalu jahat sehingga harus dijauhi?  Apakah aku serigala beringas yang haus darah hingga  gadis yang kudekati lari terbirit-birit penuh ketakutan?

Kemampuan akalku tak lagi mampu mencerna kisah tragis cinta yang kualami. Perih yang kurasa hanya dapat kuobati dengan candu nyanyian Kak Siti. Sakit yang kupendam hanya mampu kuredam lewat sebuah harapan bahwa akan ada keindahan setelah semua ini terjadi.

Kembali menarik Greaty dalam khayalan sepi ini, hanya semakin membuatku terpuruk dalam fatamorgana dunia yang perlahan membunuhku. Terlalu terbuka mengumbar cinta, sama saja menceburkan diri di tengah ganasnya samudera.

Terbesit suara, “Tanyakan saja pada Tuhan, Gun. Kapan Dia akan memberimu gadis impian yang bisa melepaskan jeratan yang membelitmu sekarang. Atau mintakan saja kematian pada-Nya agar engkau terlepas dari semua kegundahan”.

Tapi apa dayaku sebagai manusia yang tak bisa apa-apa. Suara itu hanya membawaku hendak menantang Tuhan. Membuat perjanjian arogan dengan Tuhan dengan mengatakan, “Tuhan tolong beri aku gadis impian atau matikan saja aku”. Bukankah ini sama saja bentuk kepongahan dari manusia yang tak tahu diri?

Pengembaraan renunganku terhenti pada sebuah ungkapan orang bijak, “Keberhasilan hidup bukanlah tercapainya semua rencana-rencana yang telah dibuat. Tapi kesabaran dan penerimaan yang tulus atas kesulitan-kesulitan yang ada.”

Setelah itu, akupun buntu… Semua gelap, hitam… Dan keheninganpun semakin mencekamkan keadaan…