Color of My Love


I’ll paint a sun to warm your heart…. Swearing that we’ll never part … That’s the colour of my love … I’ll draw the years all passing by … So much to learn so much to try … And with this ring our lives will start …. Swearing that we’ll never part … I offer what you cannot buy …. Devoted love until we die…

Sejak menjelang Dzuhur tadi aku masyuk dengan sebuah nyanyian indah yang dibawakan oleh Kak Siti Nurhaliza. “Color of My Love” yang aslinya dibawakan oleh penyanyi kawakan Celine Dion. Tak seperti kemarin siang, hari ini aku benar-benar terpana dengan anganku sendiri. Ada deretan imajinasi yang tak bisa kuhindari ketika mendengarkan Lagu Kak Siti. Dengan lembut, ia mengajakku bertamasya kembali ke kampung halaman. Membangkitkan kembali cinta yang pernah kusemaikan kepada Greaty.

Kak Siti, Greaty, and My Lovely City berkelibat hebat dalam diriku. Ibarat 3 sudut segitiga yang tak bisa dipisahkan. Lewat “Color of My Love”, Kak Siti kembali mengajarkanku akan keteguhan memilihara cinta. Lewat lirik lagu yang dinyanyikannya, Kak Siti membuatku kembali menjadi sosok melankolis.

Devoted love until we die. Sebuah janji yang akan dipegang teguh oleh seorang pecinta sejati. Tapi kapankah, janji seperti itu harus dipatrikan? Apakah pantas dialamatkan kepada orang yang tak mencintaiku sama sekali? Apakah harus diperjuangkan untuk gadis yang tidak aware sama sekali dengan cinta yang sedang kuperjuangkan? Apakah layak seorang gadis yang dengan senang hati meninggalkanku tanpa sedikitpun penyesalan?

Mengabadikan cinta sampai kematian, hanyalah pantas buat seseorang yang telah sah menjadi istriku. Aku tak mau lagi membuat kesalahan seperti masa lalu. Terlampau mencintai seorang gadis yang sebenarnya tak punya hati kepadaku. Aku salah karena terlalu memaksakan perasaanku sendiri. Aku terlalu larut pada impian, seolah melupakan kenyataan.

Namun, aku tak bisa menghapus masa lalu. Telah tertulis jelas dalam jejak memori hidupku. Aku hanya bisa sedikit demi sedikit melupakannya. Sedikit demi sedikit melupakan rasa cinta yang terlalu kuat tertanam di hati ini. Hingga suatu hari nanti, ketika kudengarkan lagi lagu Kak Siti, bukan lagi ia yang terbayang namun Istriku yang smart and beuty yang akan mengisi seluruh jiwaku.

Meskipun, saat ini aku terpuruk dalam kekalahan mencari cinta, tapi kuyakin Tuhan tak membiarkanku terus begini. Biarkanlah Tuhan yang memilihkan, karena itulah pilihan yang terbaik bagiku. Cinta sejati tak hanya sekedar di dunia saja. Tapi sebuah cinta yang bisa membawa manusia menuju surgaNya. Duhai Bidadari, ku akan perbaiki diri. Hingga aku pantas menjadi pendampingmu…

Iklan

One thought on “Color of My Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s