Lagi asyik-asyik sms-an menjelang memejamkan mata, aku dikejutkan oleh suara bising dari teras asrama. Kucoba hampiri sumber keributan. Seorang senior asrama dengan nafas terhengah-hengah menceritakan ada sesuatu terjadi di asrama putri. Bersama 2 motor lainnya, segera kupacu grand tua-ku. Selang beberapa menit, sampailah aku di asrama putri.

Beberapa orang terlihat mondar-mandir. Kucuba mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Ternyata ada tamu tak diundang yang dicurigai berniat jahat terhadap teman-teman asrama putri. Seorang perempuan yang lumayan manis berbaju merah tampak kebinggungan. Ia hanya mengikuti apa saja perkataan orang yang ada di sekitar. Beberapa kali ia keluar masuk kamar. Mengepak barang kemudian dipanggil lagi keluar diintograsi oleh beberapa orang. Ada wajah linglung dan tanpa arah.

Gadis ini pertama kali kulihat pada kesempatan rapat internal antara asrama putra dengan asrama putri. Aku tak tahu kenapa pada waktu itu ia diizinkan mengikuti rapat. Wajahnya asing, tak pernah kutemui sebelumnya. Tapi kelihatannya ia sudah cukup akrab dengan teman-teman asrama putri.

Konon beberapa bulan sebelumnya, dengan membawa beberapa pakaian ia menumpang menginap di asrama putri. Mengaku sebagai orang Minang yang sedang menempuh pendidikan S2 di UGM.  Tanpa ada rasa curiga dan ketelitian untuk menanyakan identitas, oleh pengurus asrama, mbak yang lumayan cantik itu diizinkan tinggal di asrama. Hari-harinya di asrama berjalan dengan baik. Bahkan dengan beberapa warga asrama semakin dekat. Berkelakukan baik dan lebih banyak menghabiskan waktu di asrama.

Beberapa hari yang lalu, entah angin apa yang menginspirasi beberapa warga asrama putri, hingga timbul keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang tamu yang sudah menginap hampir empat bulan itu. Maka dimintalah kartu identitas. Sang Gadis mencoba berkilah. Jangankan untuk menunjukkan KTP atau tanda pengenal yang lainnya, menyebutkan nama aslinya saja ia tak mau.

Semua warga asramapun panik. Kecurigaanpun semakin kuat. Puncaknya adalah malam tadi. Setelah melakukan rapat internal tanpa melibatkan asrama putra, mereka melakukan intograsi kecil-kecilan kepada sang tamu tak diundang. Merasa tak memperoleh jawaban yang memuaskan, warga asrama putri-pun dilanda ketakutan. Pengurus RT/RW dan keamanan kampung ditemui. Suasana semakin tak menentu, ketika Bu RT tak bisa memberikan jalan keluar.

Paranoid yang semakin menghantui para warga asrama putri membuat mereka berinisiatif menghubungi pihak kepolisian. Menjelang jam 12 malam, mbak yang manis itu dibawa ke kantor polsek yang berjarak sekitar 10 menit dari asrama putri. Ingin tahu kelanjutan dari cerita unik ini, akupun turut mengantar ke kantor polisi. Lebih satu jam, aku bersama teman-teman asrama putra yang lain menunggu hasil investigasi lanjutan dari polisi. Satu pernyataan polisi yang mengelisahkan hatiku, “Dia jujur Mas”.

Di ruang reskrim Polsek, mbak yang berumur 27 tahun itu ditanyai polisi. Iapun mau menunjukkan beberapa kartu identitas yang setelah kulihat perhatikan dengan seksama, memang asli. Pengurus asrama putri yang menjadi pelapor, tetap bersikukuh “menitipkan” mbak yang mengaku dari Aceh itu di kantor polisi. Akhirnya setelah teman dari asrama putri menandatangani surat penyerahan, akupun kembali meluncur ke TKP.

Hati kecil-ku mengatakan mbak manis itu hanyalah “korban” nasib. Aku tak tahu persis apa masalahnya, tapi kuyakin terkait dengan masalah ekonomi dan keluarga. Aku tak yakin ia adalah sindikat kejahatan yang beroperasi di asrama-asrama putri. Common sense-ku bertanya-tanya, “Kalau memang mbak itu mau melakukan pencurian atau tindak kejahatan yang lain, kenapa tidak dilakukan selang satu minggu atau dua minggu setelah diizinkan menginap di asrama?”. Anehnya, selama hampir empat bulan tinggal di asrama putri, ia tetap berlaku baik dan tak ada satupun warga asrama yang merasa kehilangan sesuatu.

Hati nurani-ku merasa kasihan dengan nasib tamu tak diundang itu yang karena paranoid teman-teman asrama putri terpaksa digelandang ke kantor polisi. Dari wajah pucatnya, tersirat misteri yang tak hanya bisa kureka-reka. Bukan wajah kriminal, tapi wajah penderitaan karena nasib buruk menimpa dirinya. Kepada polisi ia mengatakan putus kuliah. Setelah kucari di database UGM, sesuai dengan nama yang tertera di KTP-nya, memang ia non aktif dari UGM sejak tahun 2006.

Aku berharap mbak manis itu tidak diapa-apakan oleh polisi. Karena membaca beberapa berita miring  tentang polisi timbul was-was dalam hatiku. Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah melepaskan beban yang menimpa mbak cantik itu.

Bagi pembaca kompasiana yang merasa kenal dengan gadis yang kuceritakan di atas, mungkin bisa berbagi cerita. Apabila di antara kompasianers ada yang merasa punya hubungan keluarga dengan sang gadis, mungkin bisa menerimanya kembali.

Mbak Manis, semoga tak terjadi apa-apa denganmu ya.