Menuju Kongres Kebudayaan Minangkabau Pertama (10-11 Juli 2010)


Sebagai suku bangsa yang telah menorehkan sejarah manis dalam pendirian negara Indonesia lewat peran putra-purtri-nya, Minangkabau boleh berbangga dengan sederetan nama. Tan Malaka, yang dikatakan Harry Poeze sebagai “guru ideologis” Soekarno dan telah memainkan peran intelektual luar biasa peristiwa heroik di Lapangan Ikada selang beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan; Mohammad Hatta, proklamator cerdas lagi sederhana; Syahrir, politisi sosialis yang menjadi berhasil melakukan berbagai upaya diplomasi ketika negara baru Indonesia dirongrong agresi; Agus Salim, orangtua jenius dengan kepiawaiannya menguasai berbagai bahasa dunia; Mohammad Natsir, yang telah berjasa menyatukan bangsa ini lewat Mosi Integral-nya; dan sederet tokoh-tokoh lainnya.

Ada sebuah kerinduan dari masyarakat Minangkabau, baik yang ada di perantauan maupun di kampung halaman akan hadirnya tokoh-tokoh nasional dari etnis mereka. Sebenarnya kerinduan itu sedikit terobati dengan kiprah beberapa tokoh seperti Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Hasnul Suhaimi (Dirut XL), Emirsyah Satar (Dirut Garuda), Gamawan Fauzi (Mendagri), Tifatul Sembiring (Menkoinfokom), Febri Diansyah (Peneliti ICW), Saldi Isra (Pakar Hukum Tata Negara), Prof. Taufik Abdullah, Taufik Ismail (Sastrawan) dan berbagai nama lainnya yang mengisi posisi-posisi strategis dalam berbagai bidang di negeri ini. Namun, kiprah mereka dirasa hanya sebagai capaian pribadi bukan keberhasilan kolektif dari sebuah komunitas intelektual dan sistem adat yang bergerak tersismatis.

Berbagai konflik dan perubahan sosial melingkupi sejarah Minangkabau. Dalam DRAF KEPUTUSAN/MUFAKAT/KESEPAKATAN KONGRES KEBUDAYAAN MINANGKABAU TENTANG AJARAN DAN PENGAMALAN ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH, SYARAK MANGATO ADAT MAMAKAI, ALAM TAKAMBANG JADI GURU UNTUK SELURUH KELUARGA BESAR MINANGKABAU DI RANAH MINANG DAN DI RANTAU disebutkan:

“Sejak abad ke 13 Masehi, masyarakat Minangkabau telah mengalami rangkaian goncangan dan perubahan sosial, yang secara mendasar telah mempengaruhi sistem nilai dan tatanan kelembagaan masyarakat Minangkabau yang berbasis nagari. Agama Islam yang masuk dalam abad ke 16 Masehi merupakan faktor yang paling penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Minangkabau dalam abad-abad sesudahnya.

Perbedaan ajaran antara adat Minangkabau dan agama Islam dalam masalah hukum kekerabatan dan hukum waris selain telah menyebabkan terjadinya sengketa berkepanjangan mengenai harta pusaka tinggi, juga telah menyebabkan retaknya hubungan silaturrahmi sesama warga Minangkabau. Oleh karena masyarakat Minangkabau tidak mempunyai tatanan kelembagaan di atas tingkat nagari, maka rangkaian goncangan dan perubahan sosial tersebut hanya diselesaikan secara setempat-setempat, dan belum pernah dikonsolidasikan secara menyeluruh, terarah, terpadu, dan terencana.

Abad ke 19 Masehi adalah abad yang paling menentukan dalam sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Dalam abad ini bukan saja telah terjadi rangkaian pemurnian dan pembaharuan terhadap akidah dan pengamalan adat dan syarak, tetapi juga telah terjadi campur tangan kaum kolonialis Hindia Belanda yang mengadu domba kaum adat dan kaum agama, yang sama-sama menganut agama Islam. Setelah mengalami konflik berkepanjangan yang disusul oleh perang saudara yang dahsyat antara tahun 1803-1838, pada tahun 1832 Tuanku Imam Bonjol memberikan fatwa ishlah yang menjadi dasar untuk pengembangan Ajaran Adat Basandi Syarak,Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai (ABS SBK) – yang kemudian dilengkapi dengan ‘Alam Takambang Jadi Guru — sebagai nilai dasar dalam menata masyarakat Minangkabau. Fatwa Tuanku Imam Bonjol ini kemudian dikukuhkan dalam Sumpah Satie Bukit Marapalam pada tahun 1837 di Bukit Pato, Lintau, dekat Batu Sangkar. Oleh karena kemudian seluruh Minangkabau dijajah oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang melancarkan politik adu domba dan politik tanam paksa, yang disusul oleh dua kali Perang Dunia, dua kali Perang Kemerdekaan, serta rangkaian konflik dalam negeri yang berkepanjangan, Nilai Dasar dan Ajaran ABS ~SBK tersebut belum sempat terhimpun dan disatukan secata terpadu dalam suatu dokumen yang disahkan bersama oleh masyarakat Minangkabau.

Pada abad ke 20, masyarakat Minangkabau telah aktif ikut serta, baik dalam pergerakan kemerdekaan nasional, dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, maupun dalam pembelaan negara menghadapi ancaman dari dalam dan dari luar negeri. Baik sistem hukum nasional maupun instrumen hukum internasional hak asasi manusia pada dasarnya menghormati, melindungi, memfasilitasi, dan memenuhi hak suku bangsa dan masyarakat hukum adat. Pengakuan konstitusional terhadap kemajemukan masyarakat Indonesia ini tercantum dalam sesanti ‘Bhinneka Tunggal Ika’pada Lambang Negara.

Baik untuk mengadakan konsolidasi ke dalam, maupun untuk mempersiapkan diri memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan, dan menunaikan kewajiban sebagai warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia, dipandang perlu untuk menetapkan secara formal Ajaran Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai jati diri dan identitas kultural suku bangsa dan masyarakat hukum adat Minangkabau.

Untuk itu Gebu Minang yang merupakan organisasi payung seluruh orang Minang di seluruh dunia akan mengadakan KONGRES KEBUDAYAAN MINANGKABAU PERTAMA pada tanggal 10-11 Juli 2010 di Balai Sidang Bung Hatta, Bukit Tinggi. Adapun materi maupun kerangka pembahasan dapat dibaca didownload pada link berikut ini.

Dalam draf di atas terlihat penekanan pada filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”  (Adat Bersandarkan kepada Agama, Agama Bersandarkan kepada Kitabullah) atau seringkali disingkat menjadi ABS-SBK. Diindikasikan sebagai great aggrement antara Kaum Agama dan Kaum Adat, filosofi penuh makna ini terus mendapat kritikan dari berbagai pihak internal orang Minang sendiri. Bagi kelompok berpaham liberal mengatakan konsep ABS-SBK semakin membuat orang Minang hanyut dalam romantika masa lalu, mengabaikan perkembangan pluralitas dan multikulturalitas, dan menutup diri dari afirmasi terhadap keberagaman keyakinan. Bagi kelompok pembela agama, meskipun ABS-SBK sudah digadang-gadangkan sebagai world view masyarakat Minang, namun masih banyak aturan-aturan adat yang tak sesuai dengan syariat Islam. Bagi kelompok pragmatis, ABS-SBK tak lebih dari donggeng masa lalu yang tak perlu dipuja-puja secara berlebihan.

Orientasi peneguhan kembali ABS-SBK itu sebagai landasan filosofis bagi perubahan dan dinamika masyarakat Minangkabau yang dikampanyekan oleh Gebu Minang mungkin berangkat dari paham similaritas antara Minang dan Islam. Lewat perujukan kepada nilai-nilai Islam-lah, orang Minang akan mampu menghadang pergolakan zaman. Sebuah peneguhan yang sah-sah saja, meskipun dari sudah pandang Pluralisme sebagai gerakan konservatif dengan tetap memperkuat identitas satu agama pada satu etnis masyarakat.

Rencana Kongres Kebudayaan Minangkabau Pertama yang digagas oleh Gebu Minang ini merupakan langkah strategis dalam mengembalikan kembali identitas Minang yang saat ini dinilai berjalan tanpa arah. Usulan pasal mengenai perlunya sebuah nama khas yang menunjukkan keMinang-an sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang Batak, agaknya menjadi pembahasan menarik.

Team penggagas bergerak lebih jauh tidak hanya pada dataran teoritis namun juga telah mempersiapkan strategi-strategi simbolik dan praktis demi peneguhan ABS-SBK ini. Sebuah langkah antisipatif yang cerdas, di tengah kecendrungan orang Minang, “berbuih-buih ketika berdebat, tapi memble saat aplikasi”.

Semoga Kongres Kebudayaan Minangkabau I yang akan diadakan pertengahan tahun ini bisa berjalan sukses. Tidak hanya berkontribusi positif bagi kemajuan orang Minang ke depan, tapi juga bermanfaat bagi perkembangan bangsa Indonesia. Sebagaimana cita-cita yang pernah didengungkan oleh Tan Malaka, “Merdeka 100% untuk Indonesia”.

Bagi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang berminat mengikuti dan menyumbangkan pemikiran dalam Kongres ini bisa terlebih dahulu membaca 2 draf berikut:

**********************************

NB: Terima kasih kepada Uda Drs. Zulharnen, M.S (Dosen Geografi UGM) yang telah mengirimkan draf untuk pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau ini kepada saya.

Iklan

6 thoughts on “Menuju Kongres Kebudayaan Minangkabau Pertama (10-11 Juli 2010)

  1. maaf pak, mau nanya ni. klo masyarakat umum tau mahasiswa boleh ikut jg g’
    klo boleh, gmn cara pendaftarannya..?

  2. Adat basandi Sarak, Sarak basandi KitabbULLAH adalah harga mati
    Dan (ingatlah) ketika Kamu berkata kepada Orang yang ALLAH telah melimpahkan Nikmat kepadanya dan Kamu(juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah Istri Mu dan bertaqwalah kepada ALLAH”, sedang kamu menyembunyikan didalam hati Mu apa yang ALLAH akan menyatakanya, dan Kamu takut kepada Manusia, sedang ALLAH lah yang berhak Kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakiri keperluan terhadap Istrinya(menceraikanya), Kami kawinkanlah Kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi Orang Mu’min untuk(mengawini) Istri-istri Anak-anak angkat mereka, apabila Anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap Istrinya. Dan adalah ketetapan ALLAH itu pasti terjadi. (Al-Ahzab ayat 37).

    Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah SAW merasa enggan ketika dinikahkan secara langsung oleh ALLAH SWT dengan Zainab, seorang janda yang baru menyekesaikan masa ‘iddahnya. Ia adalah mantan Isteri anak angkatnya sendiri, Zaid bin Haritsah yang telah hidup bersama Rasulullah bertahun2 sejak kecilnya, bahkan Zaid sendiri pernah menyebutnya sebagai Zaid bin Muhammad.
    Melalui pernikahan ini ALLAH SWT hendak menjadikan Muhammad SAW sebagai model yg memperagakan langsung sikap keras Islam terhadap praktek Adopsi yg telah mengakar dizaman jahiliyah dan tetap dipraktekan secara subur hingga saat ini.

    Melalui peran ini ALLAH SWT menegaskan bahwa tidak ada hubungan apapun antara Orang Tua dengan Anak angkatnya. Bahkan Ayah angkat boleh menikahi bekas Istri Anak angkatnya. Anak angkat tidak bisa menjadi ahli waris Orangtua angkatnya dengan alasan apapun.

    Nabi kita selain menjadi Rasul, beliau juga Manusia biasa dan adalah wajar jika Beliau kawatir dengan pandangan negatif umatnya atas pernikahan yang tidak lazim ini.

    Sebagai Manusia biasa, Beliau kawatir jika Masyarakat menilainya mata keranjang, Beliau juga kawatir popularitas dan dukungan Umatnya berkurang. ALLAH sangat mengetahui persis perasaan yang berkecamuk dalam diri Rasul NYA, maka DIA menegur secara keras dengan menurunkan ayat tersebut.
    Ayat ini menegaskan kepada Kita semua untuk tidak ragu-ragu terhadap perintah ALLAH SWT, walaupun secara sepintas perintah itu tidak lazim dikalangan Masyarakat. Dalam ayat tersebut menegaskan kepada Kita untuk tidak perlu sibuk mencari dukungan, restu dan kerelaan Manusia, yang Kita harapkan hanya keridhoan ALLAH SWT, jangan takut kehilangan dukungan Manusia, sebab yang paling berhak ditakuti cuma ALLAH SWT. Restu Orang tua kita usahakan, restu Keluarga Kita cari, dukungan Masyarakat Kita upayakan, tapi restu dan dukungan ALLAH SWT diatas segala-galanya.
    Sekiranya semua Manusia dimuka bumi ini memberi restu dan dukungan atas sikap dan perbuatan Kita, tapi ALLAH SWT justru memurkainya, maka Kita harus memilih ALLAH. Biar semua Manusia memusuhi Kita, menolak dan mengasingkan Kita asal ALLAH SWT rela, inilah sikap Kita. Jika ini Kita pertahankan, maka ALLAH SWT sendiri kelak yang akan mengubah pikiran Manusia. Ditangan ALLAH SWT lah seluruh ubun-ubun…Manusia.
    Rasulullah SAW bersabda,” Barang-siapa memurkakan ALLAH untuk meraih keridhoan Manusia, maka ALLAH SWT murka kepadanya dan menjadikan Orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Dan barang siapa meridhokan ALLAH SWT (meskipun) dalam kemurkaan Manusia, maka ALLAH SWT akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya Orang yang pernah memurkainya, sehingga ALLAH SWT memperindahnya, memperindah ucapan dan perbuatanya dalam pandangan NYA”
    (Riwayat-Aththabarani).

    Dengan sangat jelasnya maksud Ayat tersebut, “apa yang musti ditakuti untuk melanggar sesuatu yang dianggap tidak lazim”? Atau sesuatu yang sangat tabu dan terlarang oleh suatu daerah? Dan ini adalah pilihan, kepada yang masih muda, ini lah saatnya untuk berani merobah sesuatu yang tidak ada referensinya dari induk referensi kehidupan yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Ini adalah pilihan Kita. Berapa banyak sesuatu yang dianggap tidak lazim yang justru mempersempit ruang gerak Kita?

    Bagi yang Tua-tua juga sangat banyak memahami keadaan ini, tapi ini yang dapat Ku gambarkan, Mereka tidak bertindak, atau diam saja, karena tidak mampunya diri, atau takutnya diri akan kehilangan dukungan dari Masyarakat, bahkan…. Takut dihina dan dimusuhi… Seharusnya, sesuatu yang tidak lazim bagi sesuatu Masyarakat, tapi bagi Al-Qur’an sangat lazim, ini harus berangsur-angsur Kita robah agar menjadi lazim, kenapa….? Karena sesuatu yang tidak lazim tersebut, bila tidak dirobah, akan dianggap itu menjadi hukum wajib yang akirnya disamakan dengan pusat segala Undang-undang dan Hukum (Al-Qur’an dan Hadist). Dan ini memang terjadi dan akan selalu terjadi, bila tidak ada yang memulai dengan pengetahuan yang cukup untuk merubah ketidak laziman tersebut…. Maka banyaklah Orang yang bertindak benar, tapi karena tidak lazimnya menurut pandangan Orang banyak, akhirnya Orang benar tersebut dihukum, disalahkan, diusir, bahkan ada yang dibunuh! Siapa yang berhak disalahkan? Inilah kesalahan yang harus Kita tanggung bersama, yang akan diminta pertanggung-jawaban nantinya.
    Disinilah pentingnya penerus-penerus Nabi Muhammad berbuat, bertindak dan mengacu kepada kecemasan seOrang Nabi dan Rasul dalam menjalani perintah yang tidak lazim, yang langsung berhubungan dengan Masyarakat, tapi karena tekad Beliau untuk menjalani perintah ALLAH, maka ALLAH membantu. Akan kah Kita dibantu ALLAH juga, bila terjadi hal yang menyerupai ini, jawabannya hanya satu, PASTI!!! Karena ALLAH tidak pernah membedakan Hamba NYA!!!.

    Berita ini Ku beritakan kepada siapa saja yang peduli dengan kebaikan yang dijanjikan Al-Qur’an dan Hadist Nabi.

  3. Terus terang, saya tidak membaca ke 2 draf yang mungkin berhubungan dengan kongres kebudayaan Minang, saya tidak tertarik walau kedua orang tua saya asli Minang, saya sendiri lahir di rantau, karena sepertinya sudah bukan rahasia lagi kalau pada tahun 1976 yang lalu, Buya Hamka dan keluarganya terpaksa hijrah dari Bukittinggi (atau Maninjau) ke Jakarta.

    Pada tahun 1975 yang lalu, Buya ada mengarang atau mungkin merevisi kembali buku karangannya yang pernah diterbitkan tahun 1930-an, yang ada hubungannya dengan adat Minang. Buku itu di cetak di Padang Panjang beberapa kodi. Setelah siap terbit, beberapa kodi buku cetakan itu dibawanya ke Bukittinggi. Apa yang terjadi?
    Bukannya mendapat izin terbit atau izin edar, malah semuanya habis di bakar polisi Bukittinggi.

    Judul bukunya kalau tidak salah, Antara Islam dan Adat Minangkabau, tetapi ada juga yang mengatakan sebaliknya, Antara Adat Minang dan Agama Islam.

    Jika dilihat dari judul bukunya, sikap polisi Bukittinggi setelah membaca semua atau sebagian isi buku itu, dan hijrahnya Buya bersama keluarga ke Jakarta beberapa bulan setelah kasus pembakaran itu, apakah tidak membayang di pikiran kita “Adakah Adat Minang itu Basandi Syarak?”.

  4. Assalamualaikum wr wb
    diberitahukan kepada Angku, Mamak, Bundo Kanduang & dunsanak , Page Kongres Kebudayaan Minangkabau on Facebook sudah dirilis sejak 24 Mei 2010, apabila ada yang ingin mencari informasi tentang KKM 2010, ingin sumbang saran, kritikan, atau pun ingin
    melakukan pendaftaran online, kami persilahkan dengan segala hormat.
    http://www.facebook.com/pages/KONGRES-KEBUDAYAAN-MINANGKABAU/110166529028119
    seluruh bahan-bahan KKM 2010 sudak kami sertakan
    semoga bermanfaat amin ya Rabbal alamin
    Waaalaikumsalam wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s