Maafkan aku Great. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Bukan pula karena aku kecewa padamu. Bukan juga aku menelan ludahku sendiri. Jika engkau tahu, betapa besar cinta yang masih terpatri di hati ini kepadamu. Masih indah terekam memori yang pernah kita jalani. Masih berkekalan namamu dalam diari lusuh yang kutulis sekian tahun yang lalu.

Apakah aku putus asa menantimu? Tidak Great. Tiada aku lelah menunggu jawabanmu. Tiada aku kecewa dalam penantian ini. Tiada sakit hati yang menghampiri jiwaku. Tiada kebencian yang menyelimuti dadaku. Sungguh, masih kuat tertanam kasih sayang ini di hatiku. Alam bawah sadarku terlalu familiar dengan baris-baris namamu.

Namun, aku harus realistis dengan hidupku. Aku harus sadar dengan posisiku saat ini. Aku harus insyaf diri tentang siapa aku ini. Aku hanya pemuda biasa yang berusaha memperjuangkan cinta pertamanya. Seorang pemuda biasa yang hanya memiliki semangat untuk mendapatkan sebuah senyuman dari gadis yang dicintainya. Seorang lelaki lusuh yang tertatih-tatih berjalan demi sebuah simpati dari seseorang yang teramati ia sayangi.

Gadis yang ia kenal sejak kelas 2 SMP. Yang beberapa tahun menghilang, kemudian bersua kembali ketika memasuki SMA. Yang hanya bisa memandangi dari kejauhan. Hanya bisa menyapa hai saja ketika bertemu. Yang hanya bisa mengobati kerinduannya lewat surat-surat sederhana, karena ia tak mampu membeli kertas mewah untuk gadis yang dicintainya. Gadis itu adalah dirimu Great. Yang sampai detik ini tetap bertahta di hati pemuda itu.

Sulit bagiku untuk memutuskan ini. Kucuba tahan gemuruh nan bergejolak di dadaku. Kucuba tahan tangis agar airmata tak lagi bercucuran di pipiku. Diammu begitu menyakitkan. Acuhmu begitu memilukan. Pergimu hadirkan kekecewaan. Padahal aku hanya butuh sebuah jawaban. Sebuah kepastian agar aku tak seperti pungguk merindukan bulan. Sebuah kalimat darimu, agar aku tak lagi harap-harap cemas dalam penantian.

Jika memang engkau terus saja diam, saatnya bagiku untuk memberikan keputusan. Karena aku yang memulai, maka aku yang harus mengakhiri.

Greaty, maafkan aku. Mulai detik ini, aku tak bisa lagi mencintaimu. Bukan karena ada gadis lain di hatiku. Tapi hidup adalah pilihan. Pilihan yang tak bisa digantungkan di atas awan. Pilihan itu harus berpijak di atas bumi. Karena hidup hanya sebentar saja. Dunia ini hanya tempat bersinggah saja. Aku tak mau ada silang sengketa yang membawa beban bagi kita ketika harus menghadapi pengadilan-Nya.

Memang Tuhan yang menganugerahkan cinta dan kasih sayang kepada manusia. Namun, takdir berjalan sesuai kehendakNya. Aku harus ikuti garis yang telah ditetapkanNya dan dirimu juga punya jalan sendiri. Mungkin jalan kita tak ditakdirkan sama. Harus bersilang untuk tidak bersua.

Greaty, maafkan aku. Aku tak bisa terus memujamu. Aku tak bisa terus mencintaimu dengan cara seperti ini. Mulai saat ini, kupatrikan sebuah tekad untuk berusaha melupakanmu. Meski ini teramat berat, tapi aku harus melakukannya. Demi kebaikan diriku dan juga demi kebaikanmu.

Aku bahagia pernah mencintaimu. Tapi cinta ini ternyata tak bisa dirangkai dengan ikatan suci. Betapa indah pernah menyebut namamu, namun berdosa lisan ini jika mengingat dirimu yang tak halal bagiku.

Greaty, izinkan aku pergi. Melepasmu dengan keikhlasan. Agar tak ada benci di antara kita. Agar tak ada dendam di hati kita. Untuk terakhir kalinya aku ingin mengucapkan, I LOVE U GREAT. But since now, i must be different.

Aku harus jadi pemuda baru. Dengan hati yang baru. Agar bidadari yang telah dipersiapkan Tuhan untukku, bisa memilikiku seutuhnya. Baik jiwa dan ragaku…

Selamat jalan Great… Aku ingin pergi…