Lebih Merasa HMI daripada IMM???


14 Maret 1964, 46 tahun yang lalu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dilahirkan. Aku tidak begitu tahu dengan sosok-sosok pendiri organisasi underground Muhammadiyah ini. Meskipun telah menjadi salah seorang intruktur se-tingkat cabang dan memandu beberapa kali acara-acara pengkaderan, tapi tiada keinginanku untuk menelusuri lebih jauh tentang sejarah IMM.

Aku bergabung dengan IMM pada awal tahun 2006. Tahun keempat menginjakkan kaki di Jogja. Seharusnya pada tahun itu aku sudah bersiap-siap dengan pengerjaan skripsi. Namun, minggat kuliah selama selama 3 tahun karena dikompori bahwa jurusan yang kuambil merupakan jurusan “ilmu syetan”, membuatku baru menempuh setengah mata kuliah yang dibebankan. Pilihan IMM pada waktu itu lebih dikarenakan sebagai “pelarian” dari Salafy. Afiliasi IMM kepada Muhammadiyah yang merupakan ormas terbesar Islam di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagiku.

Karirku di IMM terhenti di Korps Instruktur tingkatan cabang. Tak ada tawaran untuk menjadi pengurus daerah (provinsi), apalagi menjadi pengurus pusat (nasional). Tahun 2008, aku sempat berpeluang menduduki posisi Ketua Cabang UGM-UNY, dua kampus besar dengan kader yang pintar-pintar. Tapi pemungutan suara pada kala itu tidak berpihak kepadaku.

Apakah aku kecewa dengan raihan minimun yang sempat kujalani di IMM? Rasanya kok tidak. Memang niat awalku masuk IMM lebih untuk mencari teman-teman baru di tengah kepergianku dari Salafy dan seiring lulusnya teman-teman satu angkatan di kampus. Tujuanku hendak mencari teman-teman berdiskusi dalam mengisi kesepian di kos-an. Saat di IMM, aku menemukan teman-teman yang senantiasa memberikan semangat. Kelembutan dan kecerdasan Mbak Ribkhi (sekarang lagi coas untuk meraih gelar dokter dari UGM), Mbak Ivana (sekarang lagi tugas akhir di jurusan matematikan UNY) – senyum dan motivasi  Mas Luqman (alumni Teknik Industri UGM yang sekarang bekerja di Sinar Mas Riau), Mas Ari (lulusan Teknik Mesin UGM) dan kejeniusan Mas Gonda (sekarang jadi dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang) hadirkan suasana intelektual dan kebersamaan yang kembali mengairahkan hidupku.

Sampai hari ini, suasana kekeluargaan yang indah bersama teman-teman IMM masih tetap kukenang. Apalagi interaksi masih terjalin dengan adek-adek angkatan membuatku merasa bahagia pernah bergabung dengan IMM.

Kalau boleh flash back ke belakang, karir keorganisasianku sebenarnya dirintis lewat HMI MPO. Awal tahun 2003, saat masih menginjak semester pertama kuliah di UGM, kuikuti Basic Training (Batra) yang diadakan oleh HMI MPO Komisariat Ekonomi UGM. Aku benar-benar suprise kala itu, karena berhadapan dengan instruktur-instruktur brilian. Satu sesi yang masih kuingat adalah materi “Politik Islam” yang diisi oleh instruktur cewek (kalau di HMI dinamakan Kohati) bercadar. Sayang, aku tak pernah tahu nama dan background pendidikan sang instruktur unik itu sampai hari ini.

Sehabis Batra, dinamika HMI MPO Komisariat Ekonomi UGM kuikuti dengan tertatih-tatih. Maklumlah, mahasiswa baru dari daerah sepertiku masih culun dengan wacana yang disampaikan oleh kakak-kakak senior.

Kebersamaanku di HMI MPO boleh dibilang sangat cepat. Dorongan Salafy lebih menguasaiku pada waktu itu. Kira-kira awal 2004, aku sudah resign dari kegiatan-kegiatan HMI yang kuanggap pada saat itu terlalu sekuler.

Meski tak sampai satu tahun, aku lebih merasa HMI daripada IMM. Aku lebih bersemangat mengikuti berita-berita tentang HMI daripada IMM. Mungkin karena HMI-lah yang lebih dulu membentuk intelektualku daripada IMM. Kadang aku rindu kembali menikmati pergulatan debat serius tapi santai di HMI. Bersua kembali dengan senior-senior dan teman-teman se-angkatan di Batra. Aku ingin bergabung di ALISA, tempat berkumpul para alumni HMI MPO Ekonomi UGM.

Ah, semua telah tergariskan seperti ini. Aku pensiun dengan status kader IMM.  Kadang kutersenyum sendiri mengingat masa-masa dulu. Kadang kecewa dan sedih hadir karena tak bisa memaksimalkan peluang yang dulu pernah ada. Tapi itulah dinamika hidup yang membawaku bukan sebagai alumni HMI tapi sebagai alumni IMM…

Iklan

22 thoughts on “Lebih Merasa HMI daripada IMM???

    1. Bagi Q Organisasi itu sma, srig ada perbedaan dalam perkderan, tp memiliki tujuan yg sma,,sprti pramid aja,, yg plig pentig adal ksdran seorg kaders akan tggung jawbnya,,tp belakgan ini yag serig Q temukan bnyak yg terjerumus degn POLITI PRAKTIS, akhirnya kita hanya berada pd romantisme sejarah,,,

  1. hmi dan imm merupakan organisasi pergerakan, dimana keduanya mempunyai dasar2 yg sangat kuat dan mengikat… sehingga sekali terbentuk mindset hmi atau imm, maka kan sulit tuk berubah.
    yakusa!!!…..

  2. HMI (MPO) tidak pernah mempermasalahkan dualitas (atau lebih) keanggotaan. HMI (MPO) justru bersyukur apabila ada kader yang turut mewarnai organisasi lain. Namanya juga himpunan — bukan ikatan, bukan kesatuan dan bukan liga — di mana anggotanya diharuskan untuk memilih. Percayalah bahwa di KAHMI pun tak akan ada diskriminasi terhadap seseorang yang pernah terlibat di organisasi lain. Justru hal itu akan mendewasakan kader tersebut maupun kader lain di HMI (MPO).

  3. Mengaku kader IMM ya pak? korps Instruktur cabang ya??
    IMM lahir ’54 apa ’64 ya, , hehe

    bijaklah dalam menentukan sesuatu, tegas jangan pragmatis,
    posting dari ABQARY membuktikan bahwa HMI MPO dan HMI DIPO bukan lah suatu masalah melainkan kelebihan di tubuh HMI (semoga begitu adanya), ,
    TATAP MATAHARI PAGI!!

  4. Tapi hari hari ni banyak masalah antara HMI dan IMM. sampai sekarang pun belum reda, kedua pihak tidak ada yang mau mengalah tetap berkomitmen

  5. awalnya saja sudah keliru. lahir imm 14 maret 1964, bukan 1954. lalu motivasi nya keliru cuma sebagai pelarian akhirnya juga menghasilkan kader yang keliru. ” Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya.” (KH. Ahmad Dahlan)

  6. ternyata pengkaderan hanya menghasilkan omong kosong, ketersesatan mindset dan politisi sekuler..
    Islam tenggelam terkoyak fanatisme Organisasi..
    Mengagungkan bayyan dan debat..
    Malang nian ilmu Sholat,,
    Hilang sudah tata cara wudhu dan do’a..
    Kemana pula kiblatnya..
    Apapula dzikir dan baca Al Qur’an..
    Hilanglah ingatan akan kematian..

  7. okelah bila ada kawan yang menyebut dirimu semangka namun jangan lupakan bahwasannya kau telah merubah pola fikir mu di HMI dan IMM cuman meneruskan kader yang sudah matang…………..YAKUSA……..

  8. ber HmI atw ber IMM tidak mengapa yg trpenting niatan karna ridho Allah… tpi yang aq sayangkan wahai sobatQ yg Qcintai karna Allah, bahwa kau menempatkan IMM sebagai “pelarian”.. sempatkah kw berpikir jika kamu dijadikan tempat pelarian????

    Fastabiqulkhairat..

  9. Mungkin memang yang berasal dari MERAH merasa pelarian yang di lakukan sangat mengecewakan….
    namun entah itu HIJAU ataupun MERAH yang ada di dalam hati…
    1 yang jangan sampai kita lupakan….

    ALLAH lah yang ada di dalam HATI….

  10. “jdikan Organisasi sbgai wadah perjuangn Rakyat..bukan sbgai jmbatan unuk mnjdi pejabat”.

  11. dlu Q adalh Kaders HMI DIPO, smpat megikuti LK-I thun 2009, dn LK-II tahun 2011, tp Q dipicat karena kontlasi politik, tp bgi Q itu merupkan tantgan yg hrus dihadpi, dn insya Allah pd thun 2012 Q dan Kawan ILO dipercayakn sebagi Ketua dan Sekretaris PEMBEBASAN Kolektif Kepulauan Sula dan insya Allah berjaln degn baik, bhkan kini kami sudh memiliki banyak kaders, jd tetplah bersabar dan teruslah smangat dalam berjuag..organisasi itu bukan agama, yg plig pentig adalh smangat perjuangan…(TAMRA TICOALU Sekum Kolektif Kepulauan Sula)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s