Kalau kita perhatikan job fair-job fair yang diadakan di beberapa kampus terkenal, maka ada beberapa perusahaan yang menjadi incaran para job seeker. Di antara perusahaan yang menduduki ranking teratas adalah perusahaan multi nasional (PMN) atau Multi National Coorporate (MNC). Secara sederhana PMN dapat didefinisikan sebagai perusahaan yang membuka usahanya menembus batas wilayah dan negara. Exxon, Shell, Schlumberger, dan Chevron  merupakan PMN di bidang pertambangan. Selain PMN pertambangan ada PMN teknologi dan manufaktur seperti Apple Computer, Dell, Google, Honda, Samsung, Nokia dan Microsoft, serta PMN makanan dan  seperti McDonald’s, Coca-Cola, Aqua, dan Nestle. Dengan tawaran gaji menggiurkan dan travelling ke berbagai negara lewat penugasan kerja, tak mengherankan para job seeker berlomba-lomba mengikuti seleksi yang diadakan oleh PMN.

Pada saat masih mahasiswa, penulis sering mengikuti seminar dan diskusi terkait postcolonialism. Salah satu pembicaraan yang hangat adalah nilai nasionalisme yang dimiliki oleh para pekerja PMN. Salah satu tokoh ekonomi kerakyatan UGM pernah mengatakan:

“Perusahaan Multi Nasional merupakan metamorfosa dari penjajahan berbentuk negara. Mereka mendirikan pabrik-pabriknya di negara-negara dunia ketiga. Meraup  sumber daya yang ada, kemudian dibawa ke tempat sang Bos berada. Para manajer dan pemilik saham menjadi kaya. Sementara, rakyat tempat PMN itu merais pundi-pundi ekonomi, tetap saja hidup  melarat. Negara tempat PMN mendirikan usaha tetap saja dibelit kemiskinan dan hutang. Sungguh amat disayangkan, ketika penjajahan bentuk baru ini berlangsung, putra-putri terbaik bangsa lulusan perguruan tinggi ternama di negeri ini berlomba-lomba menjadi pegawai PMN. Ada kebanggaan di hati mereka ketika bisa menjadi bagian PMN. Prestise sekaligus kemakmuran mereka dapatkan. Namun semua itu tak lebih kekayaan semu dan tak mungkin dilakukan oleh orang yang mengerti makna kemerdekaan bangsa.”

Tudingan sebagai “pengkhianat” bangsa yang dialamatkan kepada pribumi yang bekerja untuk PMN telah memerahkan telinga beberapa teman yang sejak kuliah memang ingin bekerja di PMN. Beberapa tetap bersikukuh, sebagian yang lain merevisi cita-cita setelah mendengar pernyataan sinis itu.

Tentu pertanyaan yang bisa kita ajukan terkait pernyataan di atas adalah apakah cukup logis membawa dalih nasionalimse untuk menghambat orang bekerja di perusahaan multi nasional? Di tengah biaya kuliah yang tinggi beberapa tahun ini, salahkan jika bekerja di PMN yang memberikan gaji yang “layak”, sebanding dengan pengeluaran dan pengorbanan selama menempuh perkuliahan? Ketika negara tidak mampu memberikan lowongan kerja yang memadai bagi kelas berpendidikan, apakah ungkapan sinis layak dialamatkan kepada orang-orang yang bekerja di PMN?

Memang tak dapat dipungkiri kiprah PMN telah menjadikan bangsa ini tetap miskin di tengah melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki. Pemilik PMN telah menempatkan diri dalam deretan orang-orang kaya di dunia. Sementara orang-orang tempat PMN memperoleh penghasilan tetap saja berkelit dengan kemiskinan. Kondisi paradoks yang menurut analisa Marxian disebabkan kesalahan memilih sistem ekonomi. Kekayaan negara dijual kepada pihak asing dengan harga tak sebanding. Hingga kondisi yang terjadi ibarat “ayam mati di lumbung padi”.

Penulis berpendapat, teman-teman yang bercita-cita ataupun yang sudah bekerja di PMN tidak bisa dihujat dengan titel “pengkhianat bangsa”. Mereka paling tidak telah menyelamatkan diri dari penganguran dan keluarga mereka dari kemiskinan. Mereka telah berhasil mengupgrade diri dengan berbagai kemampuan sehingga memenuhi kualifikasi sebagai “pekerja internasional”. Kalaupun pilihan mereka salah menurut timbangan nasionalisme, itu bukan salah mereka, tapi salah pemerintah mengelola negara. Para sarjana butuh kerja yang tidak hanya mencukupi kebutuhan mereka saja tapi juga buat keluarga dan terjaminnya hari tua. Bagi penulis, teman-teman yang bekerja di PMN jauh lebih mulia dari pejabat yang mengasak uang negara dengan posisi yang sedang ia duduki.

Kerja di perusahaan multi nasional? So What githu lho…