Aku tak tahu lagi bagaimana mencari jejakmu. Engkau tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Beberapa kali kucuba menulis surat lewat facebook. Biasanya dua atau tiga hari setelah kukirimkan, engkau selalu membalas. Tapi keadaan jadi lain sekarang. Setiap kali membuka facebook hanya kekecewaan yang kudapatkan. Aku bertanya-tanya, adakah sesuatu terjadi padamu? Apakah engkau sakit atau mungkin facebookmu “disabotase” oleh “pacarmu” yang dulu pernah menghubungiku lewat handphone?

Kucuba menanyakan kepada teman-teman satu SMA kita. Tapi merekapun tak tahu kabarmu. Aku linglung seperti orang gila memandangi fotomu di facebook. Hanya dengan cara itu aku bisa mengobati rasa rindu ini. Meskipun sejenak kemudian resah kembali melanda. Kenapa engkau pergi begitu saja?

Apakah surat-suratku telah membuatmu jengah? Apakah “kegilaan”ku telah membuatmu gerah? Apakah publikasi tentangmu yang kubuat di beberapa tempat telah membuatmu marah? Jika iya, sampaikanlah kepadaku. Biar aku tahu dimana letak salah dan khilafku. Agar aku bisa memperbaiki diri, karena dalam suasana penantian ini seringkali aku labil.

aku hanya coba mencintaimu.. entah sampai kapan aku bisa bertahan, tak dapat kupastikan… namun, maafkan aku jika akhirnya harus pergi meninggalkanmu demi seseorang yang lebih mencintaiku…

Kemarin kubuat status ini di wall facebookku. Miskin komentar memang. Tapi sebuah komentar dari Bu Septiana, membuatku tersadar tentang kisah cinta yang kuperjuangkan kepadamu. Bu Septi bilang: “Mas Anggun belum mendalami konsep cinta dengan sungguh-sungguh, ya?”

Saat bergulat dengan Erich Fromm, aku sempat membaca “The Art of Loving” karya psikoanalis keturunan Yahudi ini. Fromm membagi beberapa kategori cinta. Tapi aku sudah lupa. Hanya satu yang kuingat, yakni cinta produktif yang dikatakan Fromm sebagai cinta sebenarnya. Cinta yang memberi  bukan menerima, membahagiakan pasangan bukan egois dengan diri sendiri.

Entahlah. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Saat melihat fotomu, ada nuansa yang tak kutemui ketika memandangi gadis lain. Rasa yang kembali memutar memoriku dengan cepat, meloncat pada peristiwa demi peristiwa yang kujalani sekian tahun yang lalu.

Aku memang tak tahu sampai kapan mesti menunggu. Akupun tak tahu apakah penantianku ini akan berakhir manis. Sungguh aku harap-harap cemas menunggu jawabanmu. Apakah impianku akan terwujud, ataukah kekecewaan yang akan menghampiriku.

Di sela-sela hari demi hari ini, aku hanya berusaha mengalihkan pikiran dengan mengunjungi perpustakaan atau bertemu dengan teman-teman di kampus. Ketika itu, aku bisa sejenak melupakanmu. Namun, ketika kubuka lagi komputer, ketika sebelum tidur menghampiriku kala malam nan dingin, bayanganmu kembali hadir hingga tak bisa kutahan gelisah dalam hati.

Ah, histeria apa yang sedang menjangkiti pikiranku saat ini? Aku begitu takut kehilangan semua. Aku begitu takut jika engkau akhirnya pergi. Aku takut kehilangan inspirasi yang telah engkau berikan selama ini.

Sayang, berikanlah jawabanmu. Sepahit apapun itu kucuba kuat menerima. Aku tak sanggup lagi hidup tanpa kepastian ini. Aku tak sanggup hidup diliputi mimpi dan imajinasi. Aku ingin menanjakkan kakiku di atas realitas. Meskipun ditampar dengan realitas membuatku sakit, tapi itu lebih baik daripada terus membohongi diri dengan impian-impian indah nan semu.