Kemarin siang, kusabangi kampus tercinta karena bosan terus di kos2-an. Saat melewati papan pengumuman mataku tertuju pada sebuah publikasi mewah dan elegan yang dikeluarkan oleh BEM KM UGM. Sebenarnya pamlet itu berisi informasi open rekruitmen staff baru, namun yang lebih ditonjolkan adalah profil Presiden Mahasiswa (Presma) BEM periode 2010 yang anjlok reputasinya karena ber-indeks prestasi kumulatif satu koma sembilan. Pada 21 Februari 2010 yang lalu, penulis pernah mengangkat fenomena sang presiden dalam sebuah tulisan berjudul “Presiden BEM UGM dengan IPK Satu Koma”.

Dalam press rilis itu disebutkan bahwa sang Presma adalah mahasiswa berprestasi dengan segudang medali baik itu dalam karir organisasi, karir akademis, maupun sepak terjang di dunia olahraga. Dua predikat PMDK disandangnya dari sebuah Akademi Pelayaran dan Universitas Diponegoro Semarang. Pilihan masuk UGM hanya sebuah “keterpaksaan”. Masuk UGM di jurusan yang “mengerikan”, Fisika, sang Presma mengakui bahwa ia kucar-kacir di dua semester awal kuliah. Namun, bisa mengejar ketertinggalan di periode berikutnya.

Sedikit membahas tentang PMDK yang memang dielu-elukan oleh banyak siswa SMA, berdasarkan pengalaman penulis bukanlah indikator keberhasilan seorang mahasiswa di perguruan tinggi. Banyak mahasiswa dengan status PMDK terseok-seok ketika menghadapi pembelajaran di kampus. Bahkan dari statistik yang dikeluarkan oleh UGM sendiri, prestasi akademis mahasiswa dari jalur PMDK secara umum kalah dari mahasiswa yang diterima lewat jalur UM UGM. Tapi untunglah sang Presma masuk UGM bukan lewat PMDK.

Paling tidak ada beberapa faktor yang membuat seorang mahasiswa kucar-kacir menghadapi kuliah sehingga memperoleh IPK pas-pasan. Pertama, jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan keinginan hati. Kasus ini terjadi biasanya karena orang tua memaksakan jurusan tertentu kepada anaknya atau jurusan yang diambil merupakan pilihan ketiga pada saat pengisian formulir. Kedua, sebenarnya jurusan yang dipilih adalah jurusan yang diinginkan tapi dalam perjalanan waktu ia mendapatkan masukan-masukan negatif tentang jurusan yang dia ambil. Hal ini penulis alami sendiri sehingga membuat penulis baru bisa menyelesaikan kuliah setelah melewati masa 7,5 tahun. Ketiga, ada tuntutan jabatan di organisasi yang membuat seorang mahasiswa harus mengorbankan kuliah. Keempat, ada tuntutan untuk membiayai hidup sendiri karena tidak lagi dikirimi uang oleh orang tua. Kelima, malas kuliah dan terbuai dengan godaan-godaan  baik itu wanita, pencarian jati diri ataupun terbuai dengan hiruk-pikuk kehidupan malam.

Kasus pertama sebenarnya bisa disikapi dengan komunikasi yang baik dengan orang tua atau kembali mencoba mengikuti ujian masuk untuk pindah jurusan. Kasus kedua bisa dipecahkan dengan perenungan dan investigasi kritis terhadap serangan-serangan negatif yang membuat semangat kuliah jadi hancur. Kasus ketiga bisa disiasati dengan manajemen waktu dan sistem pendelegasian tugas. Kasus keempat memang sangat sulit karena pilihannya adalah kelangsungan hidup. Maka solusi yang terbaik dari dilema ini adalah memilih cuti kuliah yang memang diberikan universitas kepada mahasiswa dengan jangka waktu maksimal 2 tahun. Kasus kelima hanya bisa diatasi dengan sebuah kesadaran akan makna hidup dan masa depan yang akan dihadang.

Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari sumber terpercaya, yang terjadi pada sang Presma adalah komplikasi dari kasus pertama, ketiga dan keempat. Secara implisit berdasarkan pamplet yang penulis baca, beliau sudah bisa melewati dilema pertama. Namun untuk dilema ketiga, apalagi yang keempat beliau belum bisa mencari jalan keluar yang tepat demi menaikkan prestasi akademisnya.

Dalam diri penulis sendiri muncul rasa iba atas dilema yang dihadapi oleh sang Presma. Berkutat dengan jurusan Fisika yang memang dikenal sulit, ditambah lagi tuntutan dari “atasannya” untuk menjadi Presma, dan tuntutan membiayai hidup sendiri dengan kerja serabutan memang kondisi yang sulit. Sangat bisa dimaklumi prestasi akademi beliau jadi jeblok, apalagi pilihan cuti tidak diambil untuk menyiasati kevakuman kuliah.

Alasan Rektor untuk tidak men-SK-kan Presma terpilih dalam sebuah PEMIRA yang diklaim demokratis, telah disinyalir sebagai bentuk pressing kekuasaan atas proses demokrasi yang berlangsung di kampus. Namun, beban sebagai universitas terbaik di Indonesia dan misi menjadi universitas riset dunia, fenomena IPK satu koma yang disandang oleh mahasiswa nomor 1 di kampus (Presiden Mahasiswa) memang membuat Rektor jengah dan merasa kecewa sehingga belum memberikan pengesahan.

Sepertinya masing-masing pihak, baik rektorat maupun sang Presma beserta pendukungnya, sama-sama bersikukuh dengan klaim-klaim pembenaran sendiri. Situasi ini apabila dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bumerang bagi kedua pihak. Tidak ada legitimasi bagi struktur kepemimpinan BEM dan stigma buruk berdalih penghambatan demokrasi di kampus bagi Rektorat.

Perlu sebuah solusi dan jalan tengah. Paling tidak perlu dibuat sebuah agreement di antara kedua belah pihak. Melihat “kepahitan hidup” yang dihadapi oleh sang Presma, jika memang berasal dari keluarga kurang mampu, maka partai pengusungnya harus memberikan semacam insentif beasiswa, untuk biaya makan dan kontrakan buat sang kader. Sangat tidak humanis, jika kader diberikan beban yang berat, tapi organisasi pengusung tidak melihat kondisi ekonomi sang kader. Apalagi partai pengusung sang Presma memiliki jaringan luas, yang tentu tidak sulit mencarikan beasiswa satu juta per-bulan untuk kader terbaiknya itu.

Mudah-mudahan cerita dari UGM ini bisa menjadi pelajaran buat para mahasiswa tentang sebuah dinamika yang terjadi di kampus terbaik di Indonesia. Lewat dinamikalah kita bisa berpikir dan menjadikan diri lebih baik lagi. Hidup mahasiswa…he2..he2…