Dinamika keberagamaan, terutama Islam, di negara ini diwarnai dengan kehadiran dakwah-dakwah persuasif materialistis. Paling tidak ada dua bentuk yang paling mengemuka yaitu Keajaiban Sedekah yang diusung oleh Yusuf Mansyur dan pelatihan hati ala ESQ Ary Ginanjar. Orang-orang yang melihat keberhasilan dua model ini mencoba membuat berbagai varian-varian baru demi mendapatkan kesuksesan serupa.

Matematika Sedekah yang diajarkan oleh Ustadz Yusuf Mansyur telah mengugah banyak orang berlomba-lomba untuk bersedekah. Dengan bujukan teologis, “Barang siapa yang bersedekah maka Tuhan akan melipatgandakan rizki untuknya”, membuat banyak orang menjadikan sedekah sebagai salah jalan “membujuk” Tuhan agar lebih sayang dan bermurah hati lagi. Contoh-contoh nyata orang yang mampu bangkit dari kemiskinan dan hidup pas-pas menjadi kaya raya merupakan gaya tarik kepopuleran dakwah Ustadz Yusuf Mansyur.

Sementara itu, pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar sudah lebih dahulu menyemai sukses. Berbagai kalangan rela menghabiskan uang jutaan untuk mengikuti pelatihan yang sering kali diadakan di gedung-gedung mewah ini. Kepintaran trainer mengobok-obok hati audiens membuat suasana “duka” meliputi ruangan. Hampir setiap kali pelatihan isak tangis dari peserta membahana sebagai manifestasi penyesalan.

Dua model dakwah ini paling tidak memberikan berbagai harapan positif, semakin berkurangnya kaum miskin dan pinggiran karena sedekah dan semakin banyak orang baik di Indonesia sehingga kejahatan-kejahatan yang merugikan rakyat semakin terminimalisir. Namun yang kita lihat di lapangan adalah kondisi yang tetap sama atau lebih parah, meskipun geliah dakwah sedekah dan ESQ sudah tersebar di seantero nusantara. Orang-orang miskin masih tetap banyak, anak-anak tetap saja mengemis di perempatan jalan, dan orang tua yang tak bisa menyekolahkan anaknya karena tak punya biaya masih berjibun jumlahnya. Korupsi, kejahatan politik ataupun tindak pidana masih merajalela menjangkiti sendi-sendi kehidupan bangsa.

Timbul pertanyaan, sudah efektifkah Matematika Sedekah dan ESQ yang seolah-olah membawa angin surga? Penulis menilai ada efek samping yang tidak terpikirkan oleh para pengusung dua model dakwah ini. Mereka memang berhasil “merayu” umat untuk mengeluarkan uang baik untuk disedekahkan maupun biaya pelatihan, tetapi alam bawah sadar yang ditanamkan adalah sikap narsisme diri.

Ada sebuah “dogma” yang secara tidak sadar disampaikan, “Kalau kamu baik, maka kamu akan menjadi orang kaya”. Terkhusus untuk konsep Matematika Sedekah Yusuf Mansyur, umat diajarkan berpikir dangkal. “Kalau saya bersedekah, maka Tuhan akan membalas lebih dari apa yang saya berikan”. Pertanyaan kritis atas pernyataan ini adalah bagaimana balasan berlipat ganda Tuhan tidak segera terpenuhi? Serta-merta dasar berpikir yang disampaikan oleh Ustadz Yusuf Mansyur bubar seketika. Sementara kondisi di lapangan, fenomena orang-orang yang tetap miskin meskipun telah bersedekah, sangat banyak. Lebih kritis kita bisa bertanya, berapa persenkah keberhasilan dari sekian banyak orang yang telah mempraktekan seruan Yusuf Mansyur?

Meskipun memakai treat yang berbeda, pelatihan ESQ yang bertujuan membentuk orang-orang sholeh secara spiritual dengan melepaskan nafsu-nafsu keduniawian sama-sama mendasarkan paradigmanya pada “balasan baik bagi orang yang baik”. Namun, rasa plong sehabis pelatihan hanya bertahan sebentar. Ibaratkan “candu” para peserta ESQ membutuhkan pelatihan lagi untuk mengcharge jiwanya apabila sudah mulai kehabisan energi spiritual. Tak jarang juga, ESQ hanya sebagai gagah-gagahan, sebuah tren yang mesti diikuti apabila ingin dikatakan sebagai “muslim modern”.

Menurut hemat penulis, pola Matematika Sedekah dan ESQ dibangun atas pemikiran kausalistis. Bahwa apabila kita melakukan A maka B serta merta akan didapatkan. Apabila saya bersedekah maka reward yang akan saya terima jauh lebih besar dari yang saya sumbangkan. Apabila saya menjadi orang baik maka orang lain akan menjadi pembantu demi mewujudkan kesuksesan saya.  Gaya beragama seperti ini telah menegasikan kuasa Tuhan untuk menunda memberikan balasan kepada umat-Nya. Ekspektasi bahwa Tuhan akan segera membalas kebaikan yang kita lakukan, bisa jadi menjadi indikasi lemahnya iman. Dalam artian, ada ketidaksabaran menunggu reward pada hari akhir yang lebih kekal, dan interaksi transaksional yang tidak sehat sedang kita bangun dengan Tuhan.

Secara tak sadar, pola dakwah Matematika Sedekah dan ESQ menimbulkan efek negatif, ateistik berbalut religiusitas. Orang dirayu dengan dogma-dogma agama, namun di sisi lain tindakan pemaksaan terhadap Tuhan disemai begitu subur. Kita menuntut Tuhan untuk memberikan nilai lebih dari Tuhan atas kebaikan yang telah diperbuat. Sebuah tindakan yang tampak benar, namun menjadi upaya pembunuhan pelan-pelan terhadap wewenang Tuhan dalam mengatur takdir manusia.