Kupaksakan diri menuliskan bait demi bait kata di tengah kekalutan yang mendera pikiranku saat ini. Aku kehilangan mood untuk menulis, padahal baru saja mendapat pelatihan blog yang diadakan oleh Team Kompasiana di Jogja Expo Center dari siang sampai sore tadi. Ketemu dengan admin social blog online Kompasiana mas Iskandar Jet dan Kang Pepih Nugraha memang jadi pengalaman berkesan bagiku. Apalagi disapa oleh redaktur Kompas regional Jogja, Mas Wisnu Nugroho jurnalis lulusan STF Driyarkara yang bersinar di usia muda, yang membuatku mati gaya saat acara berlangsung.

Namun, entah kenapa hatiku tetap saja resah? Padahal tawa menghiasi karena bisa berkumpul lagi dengan teman-teman Kompasianers Jogja yang unik-unik dan kocak-kocak.  Apakah resah ini karena aku tak sanggup lagi menunggu jawaban dari dia yang tercinta?

Memang dia sudah memberikan ucapan wisuda kepadaku. Tapi, tiada kebanggaan yang tersisa. Apa hebatnya menyandang gelar sarjana universitas sekaliber UGM, jika aku harus kembali kehilangan dirinya?  Bisa apa sih lulusan UGM dengan titel lulusan terbaik fakultas Filsafat, jika tak mampu membuatnya bahagia?

Apa guna gelar sarjana UGM yang kuraih dengan tetesan keringat dan airmata, jika tiada berharga di hadapan orang yang kucinta? Lembaran ijazah yang tak mampu meluluhkan hatinya. Apa yang bisa dibanggakan dari pengangguran yang masih belum tahu mau jadi apa? Bagaimana cara menunjukkan diri di tengah masyarakat Minang yang mengukur kesuksesan dari tumpukan materi?

Ah, apakah aku terlalu cenggeng dengan keadaan yang tak seberapa pahitnya dari penderitaan para pemuda yang berjuang keras bekerja di jalanan? Apakah aku mengkufuri nikmat Tuhan di tengah banyaknya orang yang tak mampu makan karena tak punya uang?

Aku binggung dengan diriku. Aku binggung dengan suasana hatiku. Gelisah yang tak mampu kumengerti ini telah menghancurkanku perlahan-lahan. Aku butuh hadirmu yang berikan inspirasi. Aku rindu sapaanmu meskipun hanya sebait kalimat sebagai pengobat lara di hati ini.

Sayang, berikanlah jawabanmu. Entah apapun itu, aku akan rela menerimanya. Tak mampu lagi rasanya aku menanti tanpa kepastian. Sudah lelah rasanya diliputi diam. Aku hanya bisa berharap, karena di tanganmulah segala keputusan. Ku mohon sayang, jangan bunuh aku dengan diammu…

*********************************

Tuhanlah yang menghadirkan cinta dalam hati manusia. Agar timbul kasih sayang di antara makhluk ciptaannya. Cinta tiadalah hina untuk dipuja, karena lewat cintalah dunia ini ada.

Namun, seringkali cinta membuat orang terluka. Irisannya melebihi goresan sembilu yang meneteskan airmata. Membuat banyak orang gila, kala tak mampu mengapainya.

Kadang cinta bisa dibina sampai ke magligai rumah tangga. Kadang ia tercecer di pinggiran jalan, saat seseorang sedang memperjuangkannya. Kadang ia harus dikubur dalam-dalam, karena tak layak lagi untuk dipertahankan.

Ah aku jadi ingat lagi bait demi bait syair disampaikan Anna Althafunnisa dalam sekuel Ketika Cinta Bertasbih:

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan ku jelaskan panjang lebar. Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri… Meskipun lidahku telah mampu menguraikan, namun tanpa lidah cinta ternyata lebih terang. Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya… Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta… Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan tercinta…

Akan kucuba bertahan dalam penantian ini. Biarkanlah kesabaran menjadi temanku melewati diam-mu yang mengelisahkan hati. Jika akhirnya harus mati dalam perjuangan ini, akupun rela karena ku yakin cinta yang sedang kuperjuangkan bukanlah cinta birahi.

Biarlah kulewati dentangan detik demi detik. Perputaran malam berganti siang. Kukuatkan lagi kesabaran, karena ku yakin engkau akan memberikan sebuah jawaban…