Di sela-sela hangatnya Rapat Paripurna DPR-RI membahas skandal Bank Century, Tokoh Reformasi Prof. Dr. Amien Rais kembali membuat sensasi. Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menyampaikan keinginan mundur dari Ketua MPP Partai Amanat Nasional untuk maju sebagai Ketua PP Muhammadiyah yang akan dipilih dalam Muktamar Satu Abad Muhammadiyah pertengahan tahun ini di Yogyakarta.

Wakil Ketua DPP PAN Drajat Wibowo yang dikenal sebagai salah satu orang dekat Amien Rais mengatakan,

”Keinginan Pak Amien (mundur) itu sudah diungkapkan sejak Desember lalu. Bukan karena sikap PAN soal skandal Bank Century, melainkan karena cabang-cabang Muhammadiyah banyak yang meminta Pak Amien untuk kembali memimpin. Beliau habitatnya memang Muhammadiyah,”

“Dan, sampai saat ini belum, meski memang permintaan dari warga Muhammadiyah kepada Pak Amien makin kencang. Nah, konsekuensinya, kalau kembali memimpin Muhammadiyah, Pak Amien tidak boleh lagi berpolitik dan tidak lagi berada di PAN.” (Kompas, Rabu, 3 Maret 2010 | 17:12 WIB)

Timbul sebuah tanya, kenapa Amien Rais berniat balik kanan meninggalkan PAN pada saat partai yang didengung-dengungkan sebagai partai reformis ini sedang mengalami titik nadir mengenaskan. Sikap PAN yang membeo kepada Demokrat dalam kasus Century telah menimbulkan kekecewaaan tersendiri bagi orang-orang yang mengharapkan PAN memiliki keberanian bersikap lain sebagaimana yang ditunjukkan oleh PKS, Golkar, dan PPP. Ketakutan atau mungkin kedekatan yang intens Ketua Partai PAN Hatta Radjasa dengan pusaran kekuasaan, menjadikan kader-kader PAN di DPR terhimpit lidah untuk menyampaikan pandangan sejak di Pansus sampai di Rapat Paripurna kemarin, yang kemudian berujung pada pemilihan opsi A bersama Demokrat dan PKB.

Kondisi PAN saat ini mulai kritis. Penulis menilai, pilihan pada saat sidang paripurna kemarin malam membuat PAN kehilangan kepercayaan dari konstituennya. PAN untuk saat ini memang berhasil merebut hati SBY dan Demokrat, demi pelanggengan kursi menteri sampai 2014. Namun untuk pertarungan jangka panjang, PAN menghadapi beban berat, karena berpotensi ditinggalkan oleh konstituen pada saat PEMILU 2014.  Prediksi ini semakin kuat, karena tren perolehan suara PAN dari pemilu 1999, 2004, dan 2009 kemarin terus mengalami penurunan. Kemungkinan PAN tersingkir dengan perolehan suara di bawah elektoral threshold sangat bisa terjadi.

Pertanyaan rentetan dari hal ini adalah kenapa Amien Rais  memilih pergi saat partai yang telah susah payah dibangunnya, tertatih-tatih dan menghadapi masalah besar? Kenapa sang pendiri di saat kondisi kritis seperti ini? Bukankah tindakan yang tepat adalah bertahan demi memperbaiki arah kebijakan partai yang berjalan bertentangan dengan prinsip-prinsip Amien Rais sendiri?

Kalau misalnya, Amien Rais merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh Muhamamdiyah, untuk bergerak lebih jauh pasca perayaan ulang tahun satu abad, menurut penulis, keyakinan ini adalah bentuk narsisme belaka. Hal ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, Amien Rais sudah pernah menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah dan saat inipun telah diposisikan secara terhormat sebagai Pimpinan Penasehat Muhammadiyah. Kedua, Muhammadiyah bukanlah ormas yang sedang mengalami krisis kepemimpinan. Banyak  tokoh-tokoh Muhammadiyah yang layak memimpin organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ini. Kalau Amien Rais kembali masuk dalam persaingan menjadi Ketua PP Muhammadiyah, maka tampak jelas Amien Rais menganggu proses kaderisasi di Muhammadiyah yang saat ini sudah berlangsung baik.

Oleh karena itu, tampak ambigusitas Amien Rais yang tidak mampu memposisikan diri. Pak Amien sudah saatnya bermetamorfosis sebagai guru bangsa, bukan kasak-kusut merebut posisi Ketua Muhammadiyah. Penulis tidak ingin Prof. Amien Rais kembali membuat blunder yang sama seperti keenganannya maju sebagai Presiden pada tahun 1999 yang kemudian membuatnya tersingkir pada PEMILU 2004. Saat ini adalah ujian bagi Pak Amien untuk membuktikan diri sebagai negarawan atau hanya sekedar pahlawan kesiangan yang tak mampu mengendalikan orang-orang terdekatnya sendiri?