Penampilan boleh cuek, santai, terkadang nyentrik. Namun, siapa sangka, pemuda bernama lengkap Eko Prasetyo Murdi Utomo ini sanggup menghafal 2.500 hadis? Ia juga berhasil meraih juara pertama hafalan hadis tingkat ASEAN plus negara Tajikistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Desember 2009… (Republika 28 Februari 2010)

Badan terasa letih setelah bersihkan rumput di belakang asrama dan mengantar buku ke rumah da Rizal Yaya (mahasiswa S3 Aberdeen University Scotland) di Kasihan Bantul dekat kampus UMY. Sepulang dari rumah da Rizal, ku sempatkan singgah di In T-Shirt untuk beli kado buat seseorang yang spesial di hati ini. Namun, toko T-Shirt kenamaan di Jogja itu ternyata tutup. Ya, terpaksa pulang dengan sedikit kecewa.

Sesampai di asrama, langsung kusantap nasi yang ku beli di warung pojok. Sambil membaca koran Republika. Makan sambil baca koran sebenarnya ngak baik. Tapi  aku terbiasa melakukan ini sejak SMP. Setelah bolak balik koran, mataku tertuju pada sudut kiri halaman depan, “Ketagihan Menghafal Hadis”, rubrik sosok Republika.

Paragraf di atas merupakan paragraf utama tulisan inspiratif ini. Eko Prasetyo, pemuda kelahiran Pontianak yang hafal ribuan hadist. Sosok spesial yang langka bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia. Alumni Gontor yang sederhana ini mengatakan:

“Saya masih seperti dulu, cuek, fleksibel, dan tidak eksklusif. Masih senang memakai jeans, santai, dan gaul dengan teman-teman.”

Kalimat ini mengusik pikiranku. Ternyata orang-orang yang tampak biasa-biasa saja, tak berlagak sholeh dengan pakaian jubah dan celana cingkrang, santai dan bisa bergaul dengan siapa saja, punya talenta yang luar biasa.

Kesadaranku terusik setelah beberapa hari mendapat surat dari beberapa teman yang memintaku untuk bertaubat, kembali ke jalan yang “benar”, SALAFI. Bagi mereka aku adalah orang yang tersesat, maka dilampirkanlah hadist dan alqur’an untuk “menyadarkanku” sambil memberi tahu, “Mas, antum itu salah. Kembalilah ke jalan yang benar”.

Apakah pertaubatanku harus dibarengi dengan kembali bercelana cingkrang dan berjenggot panjang? Apakah untuk jadi orang Islam yang baik, tak cukup hanya memakai kemeja saja? Apakah tak cukup dengan face tanpa jenggot? Apakah tak cukup dengan celana biasa saja tanpa harus dipotong jingkrang?

Bukankah pertaubatan sebaiknya dimulai dari hal-hal yang wajib-wajib dulu? Memperbaiki sholat, memperbaiki sopan-santun, memperbaiki bacaan dan hafalan al qur’an? Bukankah pertautabatan sebaiknya dimulai dari memperbaiki akhlak dan pemikiran dulu. Tak perlu dimulai dari hal-hal yang artifisial kan?

Apakah aku bisa kembali menjadi salafi jika tak memilihara jenggot dan tak lagi bercelana jingkrang? Apakah aku tak bisa belajar Islam dengan benar bukan melalui salafi, tapi melalui Muhammadiyah? Apakah aku tak bisa mendapatkan Islam yang benar dari Ustadz-Ustadz PKS dan HTI? Apakah aku tak bisa mendapatkan Islam yang benar dari Ustadz lulusan Saudi dan Mesir yang bukan bermanhaj salafi?

Entahlah… Betapa aku ingin menjadi orang Islam yang baik. Tapi hal-hal artifisial telah menyeretku menjauhi Tuhanku. Aku ingin berislam sesuai dengan fitrahku, sesuai dengan nuraniku. Jika memang mereka menanggapku salah, aku tak kan marah. Biarkanlah perjalanan hidup membawaku kepada Tuhanku.

Iklan