Diary Akhir Pekan


Migrain masih mengelayuti kepalaku. Namun harus kutahan demi sebuah postingan di blog ini. Beberapa hari sudah, tak ada tulisan baru yang lahir dari ketikan jemariku. Aku diam, terpaku, berhenti dalam pergolakan jiwa yang hanya mampu kutahan gemuruhnya di dalam dada.

Empat hari yang lalu kubaca sebuah komen di wall facebooknya, sebuah sapaan dari seseorang yang kuyakin teman baiknya, “hy……yang kabaralek………”( hy, yang akan mau menikah). Hatiku menduga, apakah benar dia akan menikah? Atau memang sekedar gurauan belaka sesama teman?

Kucuba mengirim pesan kepadanya, harap-harap adalah balasan dan penjelasan yang valid. Karena aku tak mau terjebak dalam syak dan prasangka yang membuat hatiku resah tak menentu. Kubersabar menunggu jawabannya, namun belum ada jua pesan baru yang masuk di inboxku.

Kadang resah memuncak, hanya lewat alunan lagu Kak Siti Nurhaliza kuredam semua. Tapi tak bertahan lama. Seiring berhentinya lagu, kembali gelisah menderaku. Hanya jawabannya saja yang bisa menentramkan. Hanya suratnya saja yang mampu berikan kepastian atas pertanyaan-pertanyaan yang berkelibat di kepala.

************************************************

Di sela-sela kegelisahanku menunggu diamnya, kucuba habiskan waktu mengurus pemasaran buku pertamaku yang barusan diambil di Kanisius hari Rabu yang lalu. Kucuba sabangi toko buku Toga Mas, sebuah toko buku terbesar di Jogja. Bersua dengan Mbak Lina staff manajemen Toga Mas, akupun menyampaikan maksud untuk menitipkan buku. Mbak Lina yang baik, memberikan kata “iya” dan memintaku untuk datang hari senin besok dengan membawa buku yang akan dijual dan faktur serah terima. Buat orang baru dalam dunia penerbitan sepertiku, tentu apresiasi dari toko besar di Jogja itu merupakan hal yang luar biasa.

Namun timbul masalah. Tiga puluh buku yang kucetak secara swadaya kemarin di Kanisius hanya tinggal lima buah. Itupun masih ada pesanan yang belum kuantar. Jadinya aku harus menyetak lagi sekitar 20-an buku untuk Toga Mas. Jumlah itu bisa bertambah jika ingin mencoba mendistribusikan ke toko-toko buku yang lain. Sementara modal untuk biaya percetakan masih minim. Meminjam ke orang, rasanya berat. Mungkin jalan terbaik, minta pinjaman modal lagi dari Bapak.

Sementara tawaran bedah buku dari teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) datang membuatku merasa tersanjung. Niat awal bikin buku, cuma pingin skripsiku tidak hanya menjadi tumpukan kertas berdebu di perpustakaan. Yang hanya dibaca buat keperluan skripsi oleh mahasiswa tingkat akhir. Itupun hanya sekedar BAB I dan kesimpulan. Sayang, sudah capek-capek buat skripsi berbulan-bulan jika akhirnya jadi pajangan saja. Ya, mudah-mudahan kesempatan berharga dari adik-adik di IMM bisa kumanfaatkan dengan baik. Belajar berbicara di depan khalayak dan semakin memotovasiku untuk terus belajar-membaca.

************************************************

Beberapa hari menjelang masuk kursus, aku akan mencoba melepaskan segala beban di pikiran. Biar nanti pas kursus tiada beban berarti yang menghambat langkahku. Bisa fokus dan konsentrasi. Sehingga tak butuh waktu lama untuk melewati 4 level yang akan kujalani.

Hari ini aku terus berpacu dengan waktu. Umur semakin bertambah dan peluang semakin kecil jika semakin tua. Banyak lowongan kerja yang akhirnya lepas begitu saja karena umurku yang sudah melewati batas dan kemampuan bahasa Inggrisku yang belum memadai. Aku harus segera bisa bahasa Inggris karena itulah syarat utama mencari kerja di dunia yang semakin global saat ini.

Hari kamis yang lalu, saat memberikan hadiah buku kepada Dr. Arqom Kuswanjono, wakil dekan filsafat yang telah rela hati memberikan pengantar di buku-ku, kembali beliau menanyakan “akan kemana setelah ini?” Kubilang sama beliau, “saya mau ambil kursus pak. Mau ngejar toelf untuk beasiswa S2. Kalau dapat di atas 550, pinginnya nyoba apply ke luar negeri. Tapi kalau masih pas-pasan mungkin ambil S2 di Center Religion and Cultural Studies (CRCS) UGM.” Mendengar CRCS, pak Arqom kembali menyatakan kesediaanya untuk memberikan rekomendasi kepadaku. “Kalau memang mau ke CRCS, siapkan diri ya. Nanti saya akan bilang ke pengelola di sana bahwa saya punya calon kandidat”.

Par Arqom memang punya suara yang siginificant di CRCS. Maklumlah, beliau memang sempat mengajar dan menjadi pengelola di program S2 beken di UGM itu.  Tentu kehormatan bagiku, bisa direkomendasikan oleh beliau. Kini persoalan hanya satu, ‘AKU HARUS BISA SEGERA BISA BAHASA INGGRIS’.

Ya Allah, aku hanyalah hambaMu yang lemah. Yang tak bisa melakukan apa-apa tanpa pertolongan dan hidayahMu. Ya Allah, berikanlah aku kekuatan agar aku bisa menggapai cita-citaku. Hingga akupun bisa membahagiakan orang tuaku dan seluruh keluargaku.

Ya Allah, Engkaulah yang hadirkan cinta pada hati manusia. Aku yakin, cintaku padanya bukan karena nafsu belaka. Penantianku bukan hanya karena frustasi semata. Aku mohon padaMu Ya Allah, berikanlah jalan yang terbaik atas kisah cinta yang telah kupertahankan bertahun-tahun ini. Karena aku tak mau jadi gila karena permainan asmara yang memabukkan jiwa… Amien…

Iklan

One thought on “Diary Akhir Pekan

  1. Masya allah..alah terbit dan laku buku anggun yo..ambo sempat liat di TOGA MAS…tapi ambo sadang ndak ado pitih… jd mw beli besok2 aja lah..he3.

    ngun…. slmt udah wisuda dgn lulusan terbaik… ambo doa an semoga kursusnyo sukses dan dilajani dgn semangt krn ambo yakin anggun ado smgt dan ada jln utk mlnjt s2..amin.

    smgt kawan…ingat mawar tidak setangkai mudah2an engkau menemukan mawar2 yg lainny d dlm hatimu selain greaty..amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s