Sejak jam 8 malam aku sudah standby di ruang tv asrama. Seksama menyaksikan siaran eksklusif  “Pandangan Akhir Fraksi-Fraksi Panitia Angket Century DPR-RI”. Meski diselangi makan malam, tapi telinga tak lepas dari penyampaian oleh para juru bicara yang memang harus disimak dengan teliti. Satu per satu pandangan fraksi selesai disampaikan. Satu per satu juga teman-teman asrama yang menemaniku menonton di ruang tv terlelap karena kelelahan.

Saat penyampaian pandangan Fraksi PKB sekitar jam 1 dinihari, mataku mulai goyah. Rasanya tak kuat nongkrong di depan tv. Akupun beranjak ke kamar, baringkan tubuh yang sudah teramat lelah. Selang beberapa menit akupun terlelap.

“Suatu pagi di sebuah SMA kenamaan di kota Solok Sumatera Barat. Para siswa mulai berbaris di halaman sekolah. Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Aku agak terlambat datang.  Kulihat sosok cantik dengan rambut terurai sedang berbincang dengan teman-temannya sambil sesekali tertawa lepas memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Ah, sungguh manisnya gadis itu…”

“Selang beberapa waktu upacarapun dimulai. Para guru mulai membariskan siswa yang tampak bergerombolan. Deretan seremoni baku dimulai. Sampai di akhir upacara, para alumni diberikan waktu untuk memaparkan pengalaman kuliah di berbagai kampus oleh pihak sekolah.”

“Para siswa bubar, tapi para alumni mulai merapat berselonjor duduk di bawah rindangnya pepohonan di pinggir halaman sekolah. Pembahasan yang diperbincangkan adalah kegiatan terdekat alumni. Meski terkesan santai, rapat berlangsung panas. Setelah mendengarkan pemaparan rencana kerja dari seorang teman yang dulu menjabat ketua OSIS, akupun tampil menyatakan ketidaksetujuanku dengan usulan sang mantan ketua OSIS. Aku melihat beberapa hal yang tidak logis yang disampaikannya. Saat semangatnya berpidato sambil berdiri di hadapan teman-teman alumni, mataku menangkap wajah manis itu lagi. Wajah yang dulu hadirkan kesan indah dalam hatiku dan sekarang tetap membuatku terpesona. Tampak ia menangis. Ia menatapku. Dalam sendunya ia tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumnya, kemudian melanjutkan argumentasiku.”

Allahuakbar… Allahuakbar… Ah, ternyata aku barusan mimpi. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari menara masjid. Akupun terbangun. Hanya 3 jam aku tidur, tapi badan tak terasa letih. Padahal kalau sudah tidur di atas jam 1 dinihari, baru jam 5 aku bisa bangun. Itupun disertai sakit kepala dan linu di sekujur badan. Tapi kali ini tidak. Nafasku terasa segar. Flu yang menderaku dua hari ini, hilang seketika.Segera aku berjalan ke kamar mandi. Bersihkan badan, siap-siap sholat jama’ah di Masjid.

Ya Allah, Engkau telah hiasi tidur singkatku dengan mimpi teramat indah pagi ini. Mimpi yang membuat memoriku semakin jelas memotret wajah penuh pesona itu. Wajah seorang gadis yang hadirkan cinta di hati ini. Wajah yang seiring perjalanan waktu mulai samar karena sekian tahun tak berjumpa. Terima kasih Ya Allah… Engkau hadirkan mimpi ini menjelang aku terbangun menunaikan kewajibanku kepadaMu.

Ah… Kenapa semakin hari, aku semakin rindu padanya… Semakin cinta kepadanya. Mudah-mudahan ini bukan sekedar mimpi indah sesaat saja…