“Konklusi saat katakan, bicaralah yang benar, sebutkanlah nama. Kalau kita masuk wilayah tanpa nama, itu namanya Pansus tanpa nama. Pansus yang tidak bertanggung jawab,”….. “Pansus berubah gaya atau sikap, tolong ditepis sejauh mungkin. Pansus ini milik rakyat, harap disesuaikan dengan kehendak rakyat. Tapi jangan hanya takut rakyat, tapi takut Tuhan juga,” (Kompas Edisi Online, Senin, 22 Februari 2010 15:18 WIB)

Penyataan di atas disampaikan Amien Rais, tokoh nasional yang dielu-elukan sebagai “Bapak Reformasi Indonesia” oleh banyak kalangan, dalam kesempatan audiensi dengan Tim Sembilan Inisiator Hak Angket Century di kediamannya, Gandaria, Jakarta, Senin 22 Februari 2010. Sebuah penyataan yang jelas sekaligus menyindir menjelang penyampaian pandangan akhir 9 fraksi yang ada di dalam Pansus Angket Century DPR-RI.

Sebagai politisi senior, mantan Ketua MPR-RI, dan tokoh penggerak reformasi yang berhasil mengulingkan ototarian Orde Baru, apa yang disampaikan oleh Amien Rais menjadi spirit istimewa bagi para politisi dan menggairahkan harapan anak bangsa akan terbuka kasus Century secara terang benderang. Lewat daya magis kata-katanya tentu banyak yang berharap para politisi yang tergabung dalam Pansus Century berani untuk mengungkap fakta yang ditemukan sekaligus membuka kepada publik siapa yang harus bertanggung jawab atas terjadinya Centruy Gate.

Menjelang detik-detik penyampaian pandangan akhir Fraksi, kembali Amien Rais memberikan penyataan:

“Tidak ada satu fraksi pun yang sebut nama. Saya sudah tahu. Inilah politik transaksional yang tadinya menggebu menjadi lemah lunglai,” (Kompas Online, Selasa, 23 Februari 2010 19:43 WIB)

Aura pesimis sangat tampak dari penyataan guru besar hubungan internasional UGM ini. Ekspektasi sebagaimana tercermin dari pernyataan beliau sehari sebelumnya, seolah buyar.  Timbul sebuah pertanyaan, apakah Amien Rais lewat koneksinya di kekuasaan telah mendapatkan informasi terbaru terkait lobi-lobi yang dilakukan oleh Partai Demokrat terhadap partai koalisi dan partai oposisi?

Setelah dibuka sekitar jam 8 malam  oleh Idrus Marham, Rapat Pansus dimulai dengan pandangan akhir Fraksi Partai Demokrat, dilanjutkan PDIP, PKS, Golkar, PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan Hanura. Demokrat dengan dalih penyelamatan ekonomi nasional dari krisis global menganggap kebijakan bailout tidak menyalahi aturan sehingga tidak perlu dipertanggungjawabkan oleh pengambil kebijakan. Sekaligus menegaskan wacana mengalirnya dana talangan Century ke kantong petinggi Demokrat dan team kampanye SBY sebagai fitnah. PDIP yang sejak awal sudah garang, lewat juru bicara Maruarar Sirait kembali memperlihatkan ketegasannya bahwa terjadi banyak pelanggaran terkait penyelamatan Century dan menyebutkan nama-nama yang bertanggung jawab atas kasus Century. Golkar yang awalnya dianggap memble karena hanya menyebutkan inisial ternyata  membuat suprise dengan memaparkan kepanjangan dari inisial yang disebutkan selama penyampaian pandangan fraksi. PKS dengan uraian data dan fakta yang dimiliki menyebutkan dengan berani siapa saja yang mesti bertanggung jawab. PPP, meskipun santer diindikasikan akan membelot dari pandangan awal, ternyata berani menyampaikan kesalahan-kesalahan dalam penyelamatan Century walaupun hanya menyebutkan jabatan-jabatan yang mesti ditelusuri lebih lanjut keterlibatannya. PKB sebagaimana pandangan awal tetap menganggap kebijakan penyelamatan Century sebagai kebijakan yang benar di tengah kondisi bangsa yang kritis akibat pengaruh krisis global.

Untuk fraksi PAN, penulis mencermati bahwa pandangan fraksi yang disampaikan oleh Asman Abnur, SE., M.Si memiliki kemiripan dengan Fraksi Demokrat. Memulai pandangan dengan pemaparan imbas krisis keuangan AS terhadap perbankan nasional, pemaparan tujuan dibentuknya panitia angket, dan tidak menyebutkan nama-nama pejabat BI, Departemen Keuangan, KSSK, dan LPS yang mesti bertanggungjawab.

Apa yang disampaikan oleh Amien Rais beberapa menit menjelang rapat dimulai bahwa tak ada satupun fraksi yang menyebutkan nama tenyata tidak terbukti. PDIP, Golkar, PKS, dan Hanura menyebutkan dengan terang nama-nama pejabat yang mesti bertanggung jawab dan diusut lebih lanjut oleh penegak hukum (KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian). Namun, Amien Rais benar terkait prediksinya untuk PAN yang memang tidak menyebutkan nama.

Prof. Amien Rais dalam berbagai kesempatan terlihat garang menyebutkan Sri Mulyani dan Boediono sebagai orang bertanggungjawab atas kasus Century. Tapi kenapa PAN yang tak lain dan tak bukan adalah partai yang ia dirikan dan menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai pada partai yang dibesarkan oleh kader Muhammadiyah itu, surut untuk menyebutkan nama pejabat-pejabat yang bertanggung jawab? Apa yang terjadi dengan PAN? Apakah suara Amien Rais tidak lagi didengar oleh politisi PAN sebagaimana yang ia ungkapkan sendiri, “”Di PAN saya hanya penasihat. Saya tidak otoriter. Semua sudah seragam,”? (Kompas Online Selasa, 23 Februari 2010 19:43 WIB)

Nasehat dan kewibawaan Amien Rais sangat jelas terlihat dalam Kongres PAN beberapa waktu yang lalu. Lewat kharismanya, pemilihan ketua umum PAN berlangsung kompromistis tanpa prosesi pengambilan suara. Apakah memang suara Amien Rais sudah tak lagi berpengaruh di PAN ataukah Amien Rais ingin partainya tetap merapat pada kekuasaan yang memang mengiurkan lewat kehadiran Hatta Radjasa sebagai orang dekat SBY? Atau jangan-jangan kekuatan Amien Rais di PAN sudah tergantikan oleh suara Hatta Radjasa yang saat ini menjadi ketua Umum? Entahlah… Sebagai partai dengan basis pendukung dari Muhammadiyah agaknya sangat mengecewakan ketika PAN tidak bersikap tegas tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam penyelamatan  Bank Century…