Setelah kuposting tulisan “Kenapa Aku Meninggalkan Salafi”, banyak komentar yang singgah di blog-ku. Beberapa merasa pilihanku sebagai langkah yang salah dan telah lepas dari hidayah. Mereka mengira aku tak paham apa itu Salafi. Aku disuruh kembali belajar agar tak salah menginterpretasi. Aku diminta bertaubat agar tak tersesat.

Kalau boleh aku membela diri, rasanya sekian tahun mengikuti kajian Salafi aku sudah bisa menilai apa itu Salafi. Tak perlu mereka menyuruhku untuk belajar kembali. Tapi ada satu hal yang mereka lupa, sisi psikologis masing-masing orang. Mereka tak pernah merasa bersalah mencap orang dengan sebutan-sebutan yang menyakitkan. Mereka tak pernah merasakan bagaimana sakitnya dibilang sebagai “mahasiswa ilmu setan”. Mereka tak pernah tahu sakitnya dipermalukan dalam pengajian sebagai “orang yang menghabiskan umurnya dengan ilmu yang sesat”. Mereka tak tahu pedihnya menjadi orang aneh, “mahasiswa filsafat menjadi salafi”.

Aku hanya ingin menyelamatkan nama baik salafi dari orang gila seperti diriku. Mana mungkin orang yang tekun dengan filsafat sekaligus intens dengan salafi. Ibarat air dan minyak. Filsafat sudah sangat jelas dikatakan sebagai ilmu haram dalam salafi. Mereka tak pernah mengerti bagaimana aku harus menghadapi kondisi dilematis.

Aku tak akan melupakan jasa ustadz-ustadz salafi yang mengajarkan agama Islam kepadaku selama bertahun-tahun. Ustadz Arif Syarifuddin, Lc yang telah memperbaiki bacaan Al Qur’anku. Ustadz Afifi yang banyak mengajarkanku tentang hal-hal ibadah. Ustadz Ridwan Hamidi, Lc yang selalu menjadi tempat curhatku kala gelisah menerpa jiwa. Ustadz Aris Munandar yang menjelaskan ilmu fiqh begitu terang kepadaku. Dan ustadz-ustadz lain yang tak bisa kusebutkan satu per satu.

Aku menghormati guru-guruku itu. Aku tak ingin merusak nama baik mereka. Ajaran Islam yang murni dan hanif telah mereka ajarkan dengan penuh kesabaran. Tiada dapat aku membalas jasa mereka, kecuali dengan do’a agar Allah memberikan pahala berlipat ganda atas kebaikan yang telah mereka ajarkan kepadaku.

Hari ini aku telah menyandang gelar sarjana filsafat. Gelar yang menyesakkan bagi salafi. Di sisi lain, aku masih tak mampu meninggalkan musik. Aku semakin gila dengan facebook. Terjerat dalam fitnah wanita. Bergaul sehari-hari dengan televisi dan media. Semua itu adalah deretan perilaku yang tak pantas bagi seorang yang mengaku sebagai pengikut salaf. Apa kata orang jika melihat pemuda berjenggot lagi bercelana jingkrang suka menonton televisi, terlibat dalam hubungan percintaan terlarang dengan lawan jenis, menikmati alunan suara merdu wanita, dan gila dengan facebook?

Demi menyelamatkan nama baik salafi, mungkin pilihan terbaik bagiku adalah tak lagi berjenggot dan bercelana cingkrang. Melepaskan identitas penanda salafi dalam diriku. Karena percuma saja berkoar-koar mengikuti sunnah jika tak bisa melepaskan diri dari kemaksiatan. Aku tak mau menjadi salafi munafik. Berkata khalwat dan berikhtilath dengan wanita itu haram, tapi mengoleksi teman wanita di facebook dan di handphone. Mengatakan zina itu haram, tapi melakukan pacaran terselubung dan menikmati foto-foto akhwat cantik ketika bersendirian. Bersikukuh bahwa aurat wanita haram dilihat tapi masih suka jalan-jalan ke mall, pameran, dan malioboro yang berjubel dengan wanita-wanita berpakaian pas-pasan.

Lebih baik aku menjadi orang biasa. Tiada harus mempermalukan dakwah dengan perilaku-perilaku kemaksiatan diri. Lebih baik mempermalukan diri sendiri. Daripada mempermalukan para salafuhs shalih yang diaku-aku sebagai teladan kehidupan pribadi.