Momok yang paling menakutkan bagi siswa kelas 3, ujian akhir nasional (UAN) sudah di depan mata. Tahun 2010 ini, UAN akan dilaksanakan pada 22 – 26 Maret 2010 untuk SMA/SMK/SMALB, 29 Maret – 1 April 2010 untuk SMP/MTs/SMPLB, dan 4-6 Mei 2010 untuk SD/MI/SDLB. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh pihak sekolah maupun para siswa. Mulai dari persiapan akademis, psikologi maupun taktis.

Bekal akademis diberikan melalui penambahan jam belajar untuk mata pelajaran yang diujikan. Bekal psikologis diinput melalui pendekatan training motivasi baik lewat ceramah, kunjungan studi maupun lewat pendekatan agama. Nah, persiapan ketiga adalah bekal taktis. Persiapan ini agak unik karena penuh dengan akal busuk dan permainan kotor yang melibatkan guru.

Siapa yang tak sedih jika melihat siswa binaannya tak lulus UAN? Sekolah mana yang tak malu jika banyak siswanya tak lulus ujian? Maka dilakukan strategi-strategi penyelamatan secara sistematis. Suatu kali saya pernah menanyakan kepada seorang kepala sekolah terkait tingkat kelulusan siswanya tahun kemarin. Dengan agak diplomatis beliau menjawab, “semuanya diluluskan”. Ada sedikit kejanggalan. Bukankah kelulusan tergantung pencapaian nilai minimal? Bahasa yang digunakan sang Kepala Sekolah, “diluluskan” bukan “lulus”. Artinya terdapat unsur pihak ketiga. Setelah dikejar, ternyata beliau mau mengaku bahwa semuanya diluluskan dengan pertolongan guru-guru yang memberikan jawaban soal saat ujian. Wah…

Niat baik Departemen Nasional untuk memberikan standar tertentu kepada para siswa akhirnya mental oleh jajarannya sendiri. Unsur kepedulian berkelindan dengan motivasi menyelamatkan nama sekolah telah mengaburkan originalitas dan moralitas akademis. Contek-menyontek merupakan persoalan klasik dalam dunia pendidikan kita. Bahkan sampai ke perguruan tinggi-pun masih ada. Guru yang seharusnya menjadi gerbang utama untuk membasmi penyakit kronis ini, jika sudah melegalkan upaya pemberian jawaban saat UAN, maka akan dikemanakan pendidikan kita?

Untuk maju memang dibutuhkan tamparan. Kadang tingginya tingkat kelulusan menjadi resiko sebuah perubahan. Ruh suatu bangsa terletak pada standar pendidikan. Jika mau maju maka kita harus menaikan terus menerus standar itu.

Satu hal yang luput dari perhatian kita adalah sejak standarisasi UAN diberlakukan, semua sekolah melakukan pembenahan. Siswa-siswi tak lagi malas-malasan belajar. Semuanya berpacu dan beberapa dari mereka melejit dengan raihan prestasi-prestasi nasional maupun internasional dalam olimpiade-olimpiade yang dilakukan secara berkala. UAN telah mendorong sekolah-sekolah untuk memperbaiki diri dan beberapa tahun terakhir berhasil menembus nilai teratas dalam UAN.

Dilema UAN memang telah menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi semakin meningkatkan semangat para siswa untuk belajar, tapi di sisi lain semakin memassifkan kecurangan. Semua pihak memiliki argumen masing-masing yang cukup bisa diterima. Pihak yang pro beralasan dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional, sedangkan pihak yang kontra beralasan dengan rasionalisasi pengabaian proses 3 tahun lewat ujian yang hanya beberapa hari.

Isu SARA-pun berkembang terkait dengan hal ini.  Dalam satu kesempatan, penulis mendengar sinyalemen yang mengatakan bahwa pihak yang kontra dengan UAN berasal dari kalangan Nasrani. Sekolah-sekolah Kristen merasa resah dengan pencapaian sekolah-sekolah Islam dalam UAN. Sekolah-sekolah Islam melejit menyamai bahkan melewati raihan sekolah-sekolah Nasrani yang biasanya menempati top rank.

Tapi, apakah pandangan negatif ini harus dikibaskan lebih jauh sehingga memperkeruh suasana? Agaknya kita harus melihat persoalan lebih komprehensif. Ketika persoalan UAN ditarik dalam wilayah agama, maka sentimen keagamaan akan meledak lagi. Maka adalah baiknya persoalan UAN tidak dibawa-bawa dalam wilayah sensitif yang membuat kita berpikir eksklusif dan sempit hanya pada kelompok sendiri.