Presiden BEM UGM dengan IPK Satu Koma


Jika ditanya kepada mahasiswa UGM, siapakah Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa mereka?, maka jawaban yang terlontar mungkin lebih banyak ketidaktahuan. Bukan saja karena mahasiswa ngak peduli-peduli amat sama yang namanya BEM, tapi juga “kurang gaulnya” beberapa Presiden BEM UGM beberapa tahun ini yang dikuasai oleh salah satu partai mahasiswa bentuk KAMMI, menjadi pemicu situasi ini.

Pemira yang berlangsung tanpa greget dengan tingkat partisipasi kurang dari 10% telah menetapkan salah satu kandidat dari “partai mahasiswa berkuasa” tahun lalu di UGM sebagai pemenang. Tentu setelah penetapan oleh panitia pemira (semacam KPU lah), maka hasil itu diberitahukan kepada rektor sebagai pimpinan tertinggi di universitas untuk di-SK-kan. Seharusnya proses administratif ini bisa berjalan cepat dan launching Presiden BEM KM UGM yang baru bisa segera dilakukan.

Namun, sampai detik ini SK dari rektor belum jua keluar. BEM yang menjadi organisasi paling elit di kampus seolah mati suri. Tak ada acara-acara berskala besar. Padahal di awal-awal tahun biasanya BEM UGM sudah show up menyajikan berbagai acara berkualitas baik berskala regional, nasional maupun internasioanl. Tentu pertanyaan yang menggelitik adalah kenapa SK belum juga keluar? Apakah pihak rektorat sengaja melakukan hal ini untuk membungkam daya kritis BEM KM yang memang sering melakukan protes dan demonstrasi terkait kebijakan kampus yang tidak pro-mahasiswa.

Usut demi usut, ternyata sikap rektor UGM untuk tidak melantik Presiden BEM terpilih dikarenakan faktor akademis. Informasi yang berkembang di kalangan dosen dan mahasiswa terkait keogahan rektor untuk mengeluarkan SK adalah Presiden BEM UGM terpilih hanya memiliki IPK SATU KOMA. Apa kata dunia kalau orang yang memimpin organisasi nomor satu di kampus terbaik se-Indonesia cuma punya IPK Satu Koma? Apa UGM ngak punya mahasiswa pinter yang juga punya kapabilitas untuk jadi pemimpin? Mungkin ini yang ada di pikiran Prof. Soejarwadi selaku rektor UGM.

IPK memang tidak menjadi jaminan terkait kecerdasan dan kemampuan leadership seseorang. Toh, banyak juga aktivis mahasiswa yang harus droup out karena mengurus organisasi. Cukup dapat dimaklumi, aktivitas super sibuk di luar kampus telah membuat mereka  mesti mengorbankan kuliah.

Tapi pertanyaan baru muncul. Apakah alasan kesibukan di luar kampus menjadi alasan meninggalkan kuliah dan menjadi “mahasiswa siluman” dengan IPK di bawah dua?

Seharusnya tidak. Namanya juga mahasiswa, maka tugas utamanya ya kuliah. Toh mengurus organisasi tidak mesti 24 jam kan dan tak mesti sendirian kan? Manajemen waktu dan pendelegasian tugas bisa menjadi solusi.

Saya melihat ada beberapa problem terkait dengan hal ini. Pertama adalah sistem rekruitmen internal partai yang tidak berjalan secara baik. Partai seharusnya mampu melakukan fit and proper test baik itu soft skill maupun hard skill termasuk di dalamnya prestasi akademik ketika mengusung kandidat. Kedua, pemira tak lebih sekedar ajang tahunan perebutan/mempertahankan kekuasaan di BEM. Mahasiswa sebagai pemilih seringkali seperti membeli pisang dalam karung, sehingga ngak jelas apakah benar sudah masak/masih muda/sudah busuk? Hanya pamplet-pamplet dan spanduk-spanduk kamuflatif yang disajikan. Ketiga, ada paradigma berpikir yang salah terkait pemakluman bahwa untuk aktivis ngak masalah IPK rendah. Padahal gaya berpikir ini bisa dibalik, “aktivis harus punya IPK tinggi”. Toh contoh-contoh aktivis dengan IPK di atas 3,5 bisa kita temui di kampus. Mereka mampu memadukan kewajiban kuliah dengan aktivitas organisasi.

Saat ini, ngak zamannya lagi aktivis kampus punya IPK jelek. Pemimpin adalah sosok teladan. Jika untuk urusan kuliah saja seorang Presiden BEM tidak mampu memberikan contoh yang baik, bagaimana mungkin ia akan dihormati oleh mahasiswa-mahasiswa yang lain? IPK memang bukan segalanya, tapi Presiden BEM di universitas sekelas UGM yang sedang gencar-gencarnya mencanangkan misi sebagai universitas riset dunia, punya IPK di bawah 2,5 apalagi di bawah 2, kayaknya malu-maluin aja.

Iklan

13 thoughts on “Presiden BEM UGM dengan IPK Satu Koma

  1. Dulu, aq jaman kuliah kl males kuliah, ya mending ikut demo. alasan membela kepentingan rakyat, padahal males aja. hehe. makanya skarang banyak demo yg anarkis, lawong otak kosong pengen ngomong, jadinya ngawur, ujung2nya memaksakan kehendak pake otot, kayak kuli. kl dah gini susah bedain mana kuli mana presiden BEM.

  2. IPK memang bukan jaminan menjadi orang sukses
    kedepan dilihat saja,..siapa yang bener-bener akan menjadi MANUSIA!

  3. IPK menurut saya penting, buat ap anda kuliah, ikut kelas, praktik, tugas2 yg terkadang menelan biaya ngk sedikit, tapi IPK rendah..kalau ad yg beranggapan IPK ngk pnting, Mending ngk usah kuliah, ikut organisasinya aja.. Menurut saya jauh lebih berfaedah ..

  4. Nilai gak bisa dijadikan alasan mutlak dalam penilaian seseorang,,masih terlalu banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan.
    Satu hal yang harus dipahami, kemampuan setiap orang tidak selalu sama, semua ada kelebihan dan kekurangannya,,jika dia memang yang terpilih sebagai Presma, ya jadilah.

    Bukannya kita jadikan orang pintar sekaliber aktivis sebagai pemimpin.
    Dialah yang bersedia, dia yang siap, dan dia yang berani.
    Itulah pemimpin sejati!

  5. IPK emang mungkin gak penting ya, terutama untuk posisi seperti pemimpin di mana soft skill lebih berperan. Tapi gak ada salahnya kita lihat dari sisi lain. Sebenarnya IPK juga bisa menggambarkan tanggung jawab mahasiswa pada orang tuanya, kedisiplinan (dalam mengerjakan tugas, masuk kelas, dsbg.), komitmen, kerja keras, kompetensi dan konsistensi. Bukannya membela orang dengan IPK tinggi, tapi saya sendiri melihat, banyak sekali aktivis di kampus yang sangat aktif dengan jadwal yang begitu padat tetapi masih memiliki IPK di atas 3,5. Menurut saya, mereka ini sangat kritis ketika dihadapkan kepada suatu isu dan cenderung tidak ‘asal ambil keputusan’ yang kemungkinan dapat mencederai nama baik institusi. Mohon maaf, tapi bukan jamannya lagi aktivis kampus memiliki IPK rendah dan lulus lama. Banyak efek negatif yang ditimbulkan di mana beberapa perusahaan luar negeri (sebut saja Chevron) akan melakukan screening terlebih dahulu di mana hanya lamaran kerja dengan IPK > 3,5 yang bisa lolos ke meja HRD. Sisanya? Anda tebak sendiri.

    Mungkin beberapa dari kita akan bilang “Saya tidak mau jadi pegawai kok. Siapa yang mau masuk ke perusahaan asing?” Oke di sini saya tidak men-judge anda ini itu, tapi kalau dilihat sendiri, IPK menggambarkan konsistensi, dedikasi, tanggung jawab dan kemauan untuk bekerja keras. Perusahaan asing dengan pengalaman yang begitu tinggi tidak mau mempertaruhkan suatu jabatan pada orang yang dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut. Tentu, organisasi dan berbagai aktivitas yang mengasah soft skill sangat diperlukan, tapi yang perlu diingat adalah IPK bukan hanya soal akademik saja. Untuk mendapatkan IPK cumlaude, terkadang mahasiswa harus mengorbankan egonya seperti dengan menahan dari melakukan hal-hal yang dirasa kurang penting hingga mau untuk begadang 3 hari. Iya mungkin hal ini kurang sehat secara kesehatan, tetapi ini membuktikan ketahanan mental dan beberapa aspek yang penting apabila nanti kita ada di dunia kerja.

  6. Mungkin memang pemimpin tidak dituntut untuk mengajukan kelebihan di bidang akademis namun dalam hal ini seorang pimpinan juga harus menjadi teladan, ingat pemimpin adalah yang paling ahli dari yang lain yang memiliki bakat soft and hard yang mumpuni di dalam berbagai bidang secara general, walaupun itu tidk berarti mereka harus menguasai semuanya tapi harus memiliki kemauan untuk belajar.

    Di dlam masa modern kita dituntut utk melewati batas standard bukan untuk berusaha ke batas maksimal tetapi hanya melewati standard karena walaupun hanya melewati standart beberapa cm, orang tersebut pasti sudh memiliki kemauan utk berbuat, karena batas standart dibuat utk mengevaluasi peran dia mengatasi masalah dalam hal tanggung jawab apa dia bisa melakukan atau tidak….

    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s