Confused… Itulah status terbaru yang dituliskan oleh Greaty beberapa menit yang lalu. Status yang beriringan dengan kedatangan suratnya di layar facebook-ku. Aku tak tahu apa yang membuat Greaty binggung, tapi confused juga melandaku beberapa hari ini.

Aku belum bisa menemukan sebab kebinggunganku. Mungkin teman-temanku pada heran, kenapa mau wisuda kok masih resah. Bukankah wisuda adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap mahasiswa? Apalagi mendapat kehormatan sebagai wisudawan perwakilan fakultas Filsafat? Apa yang membuatmu masih gelisah Gun?

Entahlah… Aku tak bisa menjawab. Hari ini aku kecewa karena ngak bisa ikut audisi TV One di UC UGM karena kelebihan umur. Aku masih kecewa dengan hasil test ODP Bank Mandiri karena ketidakmampuanku berbahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Aku kecewa dengan kemalasan yang mendera tubuhku. Aku kecewa dengan keterlambatanku menyelesaikan kuliah.

Yang terlihat di depanku seakan hitam. Bagaikan gelapnya malam ketika awan berhujan menutupi rembulan. Adakah nasib baik untuk diriku? Adakah masa depan yang cerah buatku? Aku binggung, takut dengan masa depan yang begitu keras akan kuhadang.

Tadi pagi telah kuselesaikan tugas pamungkas di team web dosen. Besok pagi harus ke kampus untuk ikut gladi resik wisuda hari kamis 18 Februari. Malam ini Bapak dan Ibu sampai di Jogja.

Bapak lebih memilih menginap di hotel daripada di asrama. Kebetulan beliau membawa teman sesama pimpinan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Solok. Mungkin takut menganggu anak-anak asrama, Bapak memutuskan untuk menginap di hotel.  Ada sedikit rasa kecewa. Apalagi keluarga salah seorang teman yang sama-sama wisuda Kamis besok telah sampai di asrama.

Aku merasa sepi menjelang detik-detik wisuda ini. Meskipun aku yakin teman-teman asrama, adik-adik di kampus, dan teman-teman di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akan berduyun-duyun datang memberikan selamat kepadaku saat prosesi di gedung GSP nanti. Entahlah, aku juga tak tahu kenapa jadi begini.

Kucuba obati sepi lewat nyanyian kak Siti Nurhaliza. Namun, tak mampu mengusir sepiku. Padahal biasanya suara kak Siti manjur mengobati resah di hati ini.

Seorang adik di IMM UGM yang sering meminta pandanganku tentang pengkaderan IMM turut bersedih dengan “situasi” yang kualami ini. Dia merasa aku tak seperti biasanya.

Sakit ini telah membuatku tak bisa membantu teman-teman yang amat membutuhkan bantuanku. Sakit ini membuatku lebih suka menyendiri daripada bertemu dengan orang lain. Sakit ini telah membuatku gila, resah ketika memejamkan mata.

Tawaran bedah buku dari Mas Zulfi, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM, terpaksa kupending karena sakit ini. Aku seakan tak bisa melakukan apa-apa. Hanya satu yang kuinginankan, PULANG KAMPUNG… Sudah teramat rindu hati ini dengan ranah Minang. Sudah teramat rindu mata ini memandangi indahnya alam kampung halaman.

Aku tak tahu apa yang membuat Greaty menuliskan status Confused di wall facebook-nya. Tapi, aku sendiri juga sedang Confused beberapa hari ini…