Dalam pergulatan dinamika kampus dikenal istilah “aktivis” untuk menyebut mahasiswa/mahasiswi yang menghabiskan waktunya berorganisasi di luar kegiatan perkuliahan. Mereka biasanya tergabung dalam berbagai organisasi, baik ektra kampus maupun intra kampus. Merujuk kepada organisasi yang diikuti, para aktivis ini bisa dikategorisasikan dalam berbagai varian. Salah satu varian itu adalah “aktivis dakwah kampus” yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK).  Kalau di ITB para aktivis ini dikenal dengan “aktivis Masjid Salman”. Kalau di Unand Padang dikenal dengan “anak Forum”. Kalau di UGM dikenal dengan “anak JS” (Jama’ah Shalahuddin UGM).

Selain bergabung dalam forum dakwah intra kampus, para aktivis ini juga berafiliasi dengan berbagai organisasi Islam yang lebih besar seperti IMM (underground Muhammadiyah), PMII (underground NU), KAMMI (underground PKS), atau tergabung kepada jama’ah dakwah yang sifatnya transnasional seperti Salafy, HTI, ataupun Jama’ah Tabligh.

Kebutuhan akan eksistensi organisasi, tentu banyak kegiatan yang digarap oleh para aktivis dakwah ini. Apalagi perebutan kader baru di kampus memerlukan energi ekstra dan promosi besar-besaran. Terkadang harus sikut-sikutan untuk mendapatkan kader baru potensial. Belum lagi kerja keras untuk mengajak mahasiswa/mahasiswi baru untuk bergabung. Beberapa organisasi dakwah kampus bahkan melakukan upaya jemput bola ke SMA-SMK.

Tidak hanya melakukan proses rekruitmen, para aktivis dakwah kampus juga disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keislaman rutin. Ada yang harian, mingguan, bulanan, ataupun tahunan. Pokoknya menjadi aktivis dakwah harus siap-siap menjadi orang sibuk.

Intensitas pertemuan yang sering di antara aktivis dakwah satu organisasi telah membuat mereka memiliki ikatan emosional satu sama lain. Tak dapat dipungkiri kedekatan di antara aktivis yang pria dengan aktivis yang perempuan juga tak dapat dielakkan. Saat itulah keakraban bermetamorfosa menjadi rasa cinta.

“Sialnya”, stigma yang berkembang di dunia mahasiswa secara umum, aktivis dakwah dipandng sebagai “orang suci”. Mereka punya aturan-aturan ketat terkait pergaulan di antara lawan jenis. Pacaran itu haram, tidak boleh jabat tangan, boncengan, berdua-dua-an, tak boleh menatap wajah lawan bicara bahkan ada yang ketika rapat harus memakai kain pembatas antara pria dan wanita, adalah rambu-rambu yang telah familiar bagi mereka. Gaya bergaul yang “ketat” ini semakin menguatkan pandangan eksklusif “mahasiswa/mahasiswi biasa” terhadap para aktivis dakwah.

Namun, se-sholeh/sholehah apapun orang, godaan setan tidak henti mengempur. Begitu juga yang mendera para “ikwan” dan “akhwat” para aktivis dakwah kampus. Dari sekian banyak di antara mereka yang mampu menjaga hati terhadap lawan jenis, banyak juga yang akhirnya terjerumus melanggar “kode etik” antara ikhwan dan akhwat. Terkadang melebihi aktifitas yang biasa dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi biasa dalam berpacaran.

Suatu ketika, seorang ustadz yang menjadi pembimbing Jama’ah Shalahuddin UGM menceritakan kedatangan seorang aktivis ke rumahnya. Dengan tersedu-sedu sang pemuda ini mengatakan, “Ustadz, saya mau taubat. Saya malu sama Allah. Saya hina, Ustadz”. Ustadz yang melihat gelagat tak biasa dari ikhwan ini mencoba untuk menenangkan, “Iya, tapi masalah antum apa?”. Setelah menghirup nafas panjang barulah sang pemuda bercerita:

“Begini Ustadz, beberapa hari yang lalu seperti biasa saya beraktivitas di sekretariat. Duduk di depan komputer membuat beberapa laporan kegiatan organisasi. Ketika saya asyik mengutak-atik keyboard,  satu per satu teman pamit pulang ke kos. Tanpa saya sadari tinggallah saya berdua dengan seorang akhwat yang kebetulan menjabat sekretaris organisasi. Dia juga sibuk  di depan komputer. Telah lama saya menyukai akhwat ini, tapi saya belum berani menyatakan perasaan saya. Orangnya cantik, smart, dan militan banget. Saya-pun menghampirinya. Dengan tersedat saya memberanikan menyampaikan sesuatu. ‘Ukhti, telah lama kita sama-sama mengurus dan bekerja untuk kemajuan organisasi ini. Hari demi hari saya terpukau dengan pengorbanan yang telah ukhti lakukan untuk organisasi. Terus terang Ukhti, saya menyukai antum.’ Sang akhwat-pun tertunduk, tersipu malu. Hatinya bergemuruh, iapun juga menyukai pemuda penuh dedikasi yang saat ini duduk di hadapannya. Tak tahan dengan gelojak di dadanya, sang ikhwan kemudian kembali menyusun kata-kata. ‘Ukhti, ana mencintai anti. Bolehkan ana memegang tangan anti?’ Sang akhwat mengangguk pelan. Merasa mendapat peluang, sang ikhwan-pun menjulurkan tangannya mendekati tangan sang akhwat yang berpangku di atas paha. Tangan sang pria kemudian mengenggam tang sang gadis. Semakin lama semakin erat, seolah sedang mengalirkan gelombang cinta. Kemudian sang ikhwan bergumam, ‘Ukhti, aku teramat cinta padamu. Boleh aku mengecup keningmu?’. Sang akhwat terbuai alunan asmara, kembali mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan. Mulailah kepala sang pria bergerak menuju face sang akhwat. Hingga terjadilah ciuman romantis di antara dua anak manusia ini”.

Penulis menyadari ini adalah kasus kasuistis. Tapi kasus-kasus cinta bersemi di antara aktivis hingga berlanjut seperti dua anak muda yang saling pacaran, teramat sering penulis temui.

Tentu pertanyaannya, apakah sesama aktivis tidak boleh jatuh cinta? Kita harus menyadari sepenuhnya, meskipun para aktivis dakwah telah dibalut dengan aturan-aturan serta kode etik yang menjaga mereka untuk tidak jatuh dalam jeratan kemaksiatan di antara lawan jenis sebagaimana yang diajarkan oleh agama, namun mereka juga manusia biasa yang punya perasaan, rasa suka, mata yang menyenangi kecantikan/ketampanan, dan hati untuk mencinta ataupun dicintai.

Namun, posisi mereka yang sudah kadung dianggap sebagai “orang suci” oleh komunitas mahasiswa secara umum, membuat perilaku pacaran ala aktivis mendapat cibiran dan cemoohan yang menyakitkan. Memang tak mudah menjadi aktivis dakwah. Tidak hanya harus bercapek-capek mengurusi aktivitas dakwah, tapi harus juga menjaga diri dari perilaku permisif yang konon sangat aib dilakukan oleh para aktivis dakwah.

Tapi itulah konsekuensi sebagai aktivis dakwah. Ada nama agama yang mesti dijaga. Ada kode etik tersendiri yang mesti diikuti. Tapi apakah dengan kode etik dan amanah untuk menjaga nama baik agama itu serta-merta menjadikan mereka seperti Malaikat tanpa rasa cinta dan nafsu manusiawi?

Tentunya tidak mesti seperti itu. Sering rapat bersama, keluar kota bersama, berlelah-lelah bersama lewat berbagai kegiatan tak menutup kemungkinan adanya rasa simpati, empati, dan rasa memiliki. Ketika semua rasa kepedulian itu meningkat menjadi rasa cinta, maka segeralah benahi hati. Jika memang sudah tak dapat dibendung lagi tentu memutuskan untuk melamar sang “pencuri hati” perlu segera dilakukan. Agar semua yang haram menjadi halal, dan kehormatan nama aktivis dakwah-pun tetap dipertahankan.

Cinta Bersemi Sesama Aktivis memang keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. He2.. He2..