“Kisah seorang anak manusia. Dulu ia percaya pada cinta pandangan pertama. Seiring bertambahnya usia, iapun ingin meraih cinta sejati. Hari demi hari ia lalui demi itu. Tapi hanya sakit yang ia dapati. Hingga ia pasrah dengan petualangan cintanya. Setelah itu ia lebih suka menyendiri dan jadikan sepi sebagai sahabat abadi. Ia senang dengan keadaan itu. Karena tak lagi tersakiti ataupun menyakiti. Sekarang dia cuma memberikan apa yang bisa ia berikan pada orang. Seraya berharap mati dengan tenang.”

Inilah sms panjang yang kugubah beberapa saat yang lalu. Ketika aku benar-benar kecewa dengan keadaan. Lelah mencari cinta sejati. Lebih memendam rasa perih di hati. Kenapa di usia yang sudah sedemikian dewasa belum ku temui cinta yang mengisi relung-relung hati. Tiap kali ku mencoba, hanya kekecewaan yang ku terima. Apakah aku memang tak pantas mencinta??

Jawaban dari seorang teman satu kampus, menyadarkanku dari lilitan kesedihan:

“Apakah hanya itu? Cinta bukan hanya terletak pada take&give. Mencintai orang adalah proses pembelajaran yang sangat panjang dan berat. Bagaimana bisa sahabat Nabi hidup dengan omelan yang bertubi-tubi? Cinta tak sekedar cinta jika ia dilandasi cinta sejati kepada Allah..”

Aku masgul membaca kata demi kata darinya. Hingga aku mencoba renungi, apakah getar yang ku rasakan selama ini benar-benar cinta? Atau hanyalah sebuah ingauan atau rasa kagum semata.

Jika hidup adalah perjuangan, maka perjuangan meraih cinta tentu mendapat porsi spesial. Karena lewat cintalah kehidupan ini menjadi indah. Lewat romantika cintalah muka berseri cerah. Berbagai macam istilah yang disandarkan kepada manusia, “animal rational”, “homo homini lupus”, “homo symbolicum”, “homo economicus”. Mungkin perlu ditambahin istilah baru nih, “homo lovecus”… (He2.. Sorry kalau salah ejaan. Ini cuma istilah ngarang-ngarang sendiri).

Akupun yakin, setiap anak manusia pernah mengalami cinta pertama, cinta kedua, cinta ketiga dan cinta “kesekian kalinya”. Kalaupun ada orang yang cuma mengalami cinta pertama dan berhasil mempertahankan cinta pertamanya sampai meninggal dunia, tentu patut untuk dimasukan dalam Guiness Book Record.. He2.. He2…

Pada kesempatan kali ini, aku akan merilis edisi spesial, “Dia yang pertama di hati”. Namanya Greaty Souvanir. Nama yang indah, agak kebarat-baratan. Dialah cinta pertamaku. Pertama kali bertemu saat Lomba P4 di Aula Lubuak Nan Tigo Balaikota Kota Solok Sumatera Barat saat masih imut-imut, kelas 2 SMP. Karena berbeda sekolah, aku baru bisa bertemu dengannya saat SMA. Ya, kami sama-sama menjadi siswa SMAN 1 Kota Solok. Bedanya dia Kelas Unggulan Pertama, aku sedikit di bawahnya Kelas Unggulan Kedua. Pertemuan berkesanku dengannya adalah saat-saat terakhir aku berada di Kota Padang. Aku baru sadar di minggu terakhir BIMBEL di Adzkia Padang, kami satu BIMBEL. Saat itu, ada test psikologi sebelum konsultasi pemilihan jurusan SPMB. Aku ingat, itulah pertemuan terakhirku dengannya. Setelah itu, aku sudah terbang ke Yogya dengan status baru, sebagai mahasiswa UGM. Sementara dirinya, kuliah di Teknik Sipil Unand… Aku senang memanggilnya Great. Meski ia lebih familiar dipanggil Ety.

Hari-hari mendekati wisuda 18 Februari 2010 esok, aku beberapa kali berkirim surat dengannya. Kebetulan saat ini ia sudah bekerja di BRI Cabang Batusangkar Sumatera Barat. Aku sering membayangkan wajahnya kala malam menjelang berangkat ke peraduan. Seringkali aku terpaku di kamar sepi. Angan melayang jauh mengingat kenangan masa lalu.

Setiap kali wajahnya terlintas, saat itu pula ektase aneh menghampiriku. Aku hanya bisa mengingatnya dari jauh, di tanah rantau Yogyakarta. Setiap menyebut namanya aku tersentak. Tak dapat melanjutkan kata-kata lagi. Mengingat wajahnya yang bisa membuatku menangis. Dia benar-benar bidadari yang bisa menjadikan aku melakukan hal-hal luar biasa.

*************************

Hujan turun deras basahi bumi. Biarkan gemericiknya keras terhempas hingga suara tangisan ini tak terdengar kentara. Biarkan halilintas menyambar berkilat menakutkan. Karena hati sudah tak takut lagi menemui kematian.

Mungkin memang sudah takdirku. Apalagi hendak dikata. Tiada dapat aku merubah semua. Terakhir, beberapa hari yang lalu ia menulis sebuah surat untukku di facebook:

“anggun, dalam minggu ni ty selalu ngunjungin blog nya anggun, jujur merasa tersanjung banget baca tulisan2 nggun tentang ti, but please forgive me friend, I’ll never be the same…maafin ty nggun”

Ya, 7,5 tahun adalah masa yang panjang yang bisa membuat siapapun berubah. Demikian juga Greaty. Begitu pula denganku. Banyak hal dan kisah baru yang terukir. Banyak perubahan yang terjadi. Greaty yang kukenal sekarang memang bukan Greaty yang kukenal 12-10-7 tahun yang lalu.

Tapi entahlah… Meskipun hari, bulan, dan tahun terus berganti, ada yang tetap sama dalam hatiku, “cinta yang masih kuat bersemanyam seperti 12 tahun lalu”. Cinta yang tak sedikitpun tergerus oleh perjalanan waktu. Cinta yang saat ini masih kupertahankan sepenuh jiwaku.

Ah, bagaimana caranya aku memaafkan Greaty? Karena memang ia tiada bersalah kepadaku. Bagaimana aku bisa melepaskannnya, sementara lisan ini terus menyebut namanya. Kenapa aku begitu egois dengan rasaku sendiri, tanpa menghiraukan perasaannya. Ahhhhhhhhhhhhhh…

Ya Tuhan, kenapa aku ini? Sulit bagiku untuk melepasnya. Sulit bagiku ntuk melupakannya. Seolah ia sudah menjadi bagian dari hidupku. Separuh nafasku diiringi oleh semangat hidup yang terus ia kobarkan di hatiku.

Sungguh tak sanggup rasanya. Sungguh tak mampu aku membiarkan ia pergi. Ahhhhh. Apakah tangisan ini akan merubah segalanya Tuhan? Apakah masih berarti do’a yang selalu kupanjatkan untuknya? Apakah masih ada gelora agar aku bisa menggerakkan tubuh yang kini seolah mati? Aku tak tahu Tuhan. Aku binggung. Aku tak mampu lagi berpikir. Aku tak kuat lagi…

Aku telah janji sama diri sendiri, sampai dirinya menikah, aku ngak akan nyari pengantinya. Entah satu tahun, dua tahun, tiga tahun lagi. Selama itu akan kucuba untuk mencari kesibukan lain. Kursus bahasa inggris untuk persiapan mencari beasiswa S2. Siapa tahu bisa mencapai skor toelf yang bagus hingga bisa aplikasi ke beasiswa S2 ke Inggris..

Menjelang hari Valentine ini, masih namanya yang kekal di hatiku. Meskipun telah banyak yang datang, tapi tak kuasa aku menerima mereka menyingkirkan Greaty dari hatiku. Great, meskipun Valentine-ku sepi ingin kusampaikan sesuatu padamu. Greaty, I Still Love You..