Kadang kita menjadi pemain utama… Dilain waktu cukup menjadi penonton saja…

Barusan kutelpon staff administrasi CILACS UII. Memberitahukan bahwa aku tidak bisa ikut test masuk program progressive pagi ini. Pikiranku masih jumud. Tubuhku belum stabil. Ya, aku stress dua hari ini. Tadi malam, akupun harus mengucapkan permintaan maaf kepada teman-teman Kompasianers yang lagi ngumpul-ngumpul di Green Cafe Selokan Mataram Seturan. Kondisiku tidak memungkinkan untuk keluar asrama. Face-ku teramat kusut tak karuan.

Marah berkelibat di kepala. Emosi tak menentu entah karena apa. Seolah-olah semua tampak sebagai musuh yang akan menerkamku hidup-hidup. Aku menjadi paranoid. Depresi tak jelas. Sikap tak percaya kepada orang lain menderaku. Alam bawah sadarku dipenuhi kebencian. Hanya satu yang kuinginkan, menyendiri di kamar.

Sampai kapan sakit ini akan menderaku. Mengikat tubuh dan pikiranku. Membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Menjadikan sosok yang tak ramah kepada orang lain, hingga orangpun menjarak dariku.

Apakah karena tekanan hidup/post power syndrom/kekalahan dalam meraih cinta? Aku tak tahu pasti penyebab dominan situasi ini. Seolah-olah semua berkelindan membelengguku.

Ingin aku segera lepas dari jeratan ini. Menghilangkan paradigma negatif yang melelahkan jiwaku. Namun aku tak tahu harus bagaimana? Sebait kalimat sugesti kusampaikan kepada diri sendiri.

“Dunia ini begitu kompleks. Tak mungkin dirimu mengurus semua hal. Terkadang engkau memang bisa menjadi pemain utama. Tapi di lain waktu engkau hanya bisa menjadi penontong saja.”

Aku tak ingin kekuatan pudar gara-gara masalah ini. Membuatku terpuruk dalam kehinaan dan pasifisme tindakan. Aku harus bangkit, kembali bergerak. Melakukan apa saja yang kubisa dan yang kumampu. Menolong sekuat tenaga, tanpa harus iba hati ketika tidak dihargai.

“Bantulah saudaramu, karena dengan itu Tuhan akan menolongmu”. Spirit kalimat ini kucuba renungi. Pertolongan Tuhan tidak akan datang kepada orang yang egois dengan dirinya sendiri.

Ya Tuhan, sembuhkan aku dari sakit ini. Hingga aku bisa kembali ringan untuk menolong sahabat dan orang-orang yang membutuhkan pertolonganku. Jangan biarkan hatiku diliputi amarah, dan syetan menjadi penunjuk arah. Ya Allah, ku mohon pertolonganMu…