Dua hari ini aku wira-wiri ke penerbit Kanisius. Tak lain dan tak bukan demi mengurus buku pertamaku, yang sudah terlantar beberapa minggu. Selama dalam masa penantian, hari-hari dijalani tak menentu. Seringkali aku tercenung sendiri di kamar, dengan sebuah pertanyaan “akan kemana aku setelah ini?”

Wisuda masih 8 hari lagi. Besok jadwal pengambilan toga di rektorat. Sementara pidato sambutan untuk tasyakuran wisuda di fakultas belum juga jadi. Aku kehilangan inspirasi. Intensitas baca buku semakin tak karuan, karena hampir beberapa hari tiada satu halaman buku yang tersentuh. Sepertinya sibuk, tapi tak ada yang kulakukan kecuali lebih banyak habiskan waktu di depan komputer.

Hari ini kembali kuterima surat dari Greaty di facebook, setelah kukabarkan bahwa buku-ku sudah naik cetak. Aku sudah janji akan mengirimkan buku pertamaku untuk Greaty. Karena memang buku ini spesial kupersembahkan untuknya. Kutulis sebait kalimat di barisan halaman depan buku ini dengan tinta emas:

Teristimewa karya ini kupersembahkan buat Greaty Souvanir. Bidadari hatiku, insan yang kusayangi, nan hadirkan semangat kala gelisah dan lelah mendera jiwaku…

Greaty ngasih alamat kantor. Sekaligus mengucapkan terima kasih. Aku tak mengerti, betapa melayangnya hatiku setiap membaca surat dari dia meskipun hanya satu atau dua kalimat saja. Ya Tuhan, aku benar-benar mencintainya…

Mengurus penerbitan sebuah buku memang urusan yang tak bisa selesai sehari dua hari. Harus sabar melakoni setiap fase hingga layak cetak. Aku banyak ditolong untuk merampungkan pekerjaan yang melelahkan itu. Oleh Kiki teman satu asrama dan Mas Haqqi teman di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM untuk mendesain cover. Dibantu oleh Usman yang telah memberikan file-file berharga untuk mengurus ISBN. Support dan sambutan dari Bu Septi yang membuat terus bersemangat. Kata pengantar 3 halaman dari Pak Arqom yang semakin menjadikan buku-ku semakin komplit. Masukan dari Uda Iqbal dan Pak Agus Himawan sebagai editor. Pinjaman flash disk dari da Dodi kakak tertua asrama. Dan tentunya yang tidak bisa kulupakan adalah bantuan dari mas Evan, pegawai Kanisius yang banyak memberikan ilmu baru  kepadaku tentang penerbitan.

Aku merasa haru dengan kehadiran orang-orang spesial yang telah menolongku dalam banyak hal. Rasanya jalan yang terjal bisa menjadi mudah ketika kebaikan sosok-sosok itu begitu dekat menghampiri kala aku berada di titik keputusasaan. Kelam yang tampak di depan mata, serta merta tersingkap menjadi cerah.

Hari kamis besok, masih ada kerjaan pamungkas team web UGM yang sudah kujalani beberapa bulan ini. Memberikan training kepada dosen-dosen Filsafat terkait cara memasukkan data web dosen UGM. Ya, mudah2an semua berjalan lancar. Amien.

Tadi malam, kusempatkan datang ke rumah Prof. Rusdi Lamsudin bersama teman-teman asrama. Kalau niat teman-teman mengantar proposal, aku cuma pingin minta do’a restu dan menyampaikan terima kasih kepada Uda Rusdi yang telah memberikan nasehat-nasehat berharga kepadaku. Kadang aku terlibat debat dengan dekan fakultas Kedokteran UII itu. Tapi tak ada rasa sakit hati, karena bagiku nasehat dan kritik dari beliau sangat berharga untuk membentuk pola pikir anak muda sepertiku.

Tadi pagi Mas Arif, kakak senior di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM yang sekarang jadi administrator website Muhammadiyah menelpon. Mas Arif mengajakku untuk membantu di web Muhammadiyah. Wahhhh, aku ngak nyangka ditawarkan kesempatan luar biasa ini. Ngak kebayang, karena aku hanya blogger biasa yang seringkali menuliskan hal-hal lebay di blog ini. Insya Allah dalam beberapa hari ini aku akan mengunjungi Mas Arif di kantornya untuk membicarakan job baru ini lebih lanjut.

Masih ada yang menganjal di pikiranku terkait akan kursus bahasa Inggris dimana. Aku binggung milih kursus di Pare Kediri, di Cilacs UII, atau di Jogja English Dormitory. Padahal bapak sudah transfer uang untuk biaya kursus. Aku ragu mana yang cocok denganku dan mana yang bisa cepat membuatku lancar berbahasa Inggris. Sementara deadline S2 CRCS paling lambat 30 April. Lowongan kerja di perusahaan besar nasional berjibun dengan pencantuman bisa berbahasa Inggris lisan dan tulisan. Kutanyakan kepada adik kelas di filsafat yang kebetulan tinggal dekat Pare, ternyata kursus di sana dengan di Jogja hampir sama. Kalau di Jogja English Dormitory aku agak kurang bisa dengan jadwalnya yang sore sampai malam. Tapi suka dengan cara belajar dan tertarik dengan pemaparan customers service saat menanyakan informasi kursus di sana beberapa hari lalu. Kalau UII aku suka dengan pilihan jam pagi, tapi butuh waktu yang lama karena mereka pake program semester-an kayak kuliah. Sampai detik ini aku belum bisa memutuskan…

Mendung masih selimuti langit Jogja. Membuatku rindu pulang ke kampung halaman. Aku ingin pulang, melepaskan beban ini sejenak. Aku ingin pulang untuk kembali mengatur langkah, kemana masa depan akan ku hadang.