I flying without wings…  Aku teringat kembali dengan lagu jadul masa SMA ini saat menyaksikan sekuel inspiratif American Got Talents di Indosiar. Lagu yang dibawakan oleh West Life, group vokal dari Inggris yang sekarang sudah ngak eksis lagi.

I flying without wings… Mungkin itulah keadaan yang tepat untuk menggambarkan diriku saat ini. Terbang tanpa sayap. Karena memang itu adanya. Tiada sayap yang mampu membawaku terbang tinggi di angkasa sambil meneriakkan suara kebebasan dan kegembiraan. Kakiku masih berpijak di atas bumi.

Manusia yang tak seperti burung. Terpaku menjalani hidup nan penuh liku. Hanya satu kekuatan manusia melebihi yang lain, PIKIRAN. Di sanalah tempat bersemanyam impian. Di situlah tempat kehidupan disandarkan. Tanpa pikiran, manusia tak lebih dari binatang yang cukup hidup dengan kebutuhan biologis saja.  Dengan pikiranlah manusia mampu mengalahkan Malaikat. Dengan pikiranlah manusia menggapai Tuhan.

Namun, tubuh membelenggu manusia dengan segala keterbatasan. Seringkali keadaan tak seperti yang impian. Seringkali kepahitan melanda hidup. Kecewa, sedih dan duka adalah hal yang biasa. Namun, ketika kepedihan begitu mendalam, seakan mati terasa melegakan, saat itulah hidup terasa hampa.

Itulah sekuel makna hidup yang kudapatkan dari pembacaanku berbulan-bulan atas karya-karya Erich Fromm. Manusia berhasil melewati rintangan hidup lewat harapan, bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik di esok hari.

Mungkin orang akan menyindirku ketika terus mencintaimu. Seolah tak ada gadis lain di dunia ini. 12 tahun lamanya aku tetap mengingatmu, meski tanpa sebuah jawaban nan pasti. Aku terus dan terus menyebut namamu kala malam menjemputku untuk lelap dalam tidur. Waktu nan sekian lama. Aku hanya bertahan dengan sebuah HARAPAN. Harapan bahwa masih ada ruang hatimu untukku. Harapan yang senantiasa menyala. Entah sampai kapan bertahan? Aku juga tak tahu…

Lewat harapan itulah aku tak pernah putus asa. Meski beberapa saat harus menyingkir untuk merenungkan semua. Lewat harapan itulah, aku terus menyapamu, tanpa pernah sakit hati. Lewat harapan itulah, aku terus belajar dari kesalahan di masa lalu.

Namun, ada yang tak bisa kuubah, fisikku. Inilah wajah yang sama yang engkau temui sejak 12 tahun yang lalu. Anugerah Tuhan yang tak pernah kuminta dan tak akan kusesali untuk selamanya. Aku tak apa-apa ntuk kupersembahkan padamu. Aku hanya punya cinta yang selalu kujaga untuk dirimu.

Setelah engkau memutuskan, aku akan ikhlas menerima. Apapun itu. Karena iya atau tidak, harapan dalam jiwa ini tak akan pernah pudar untuk terus menjalani hidup sampai batas waktu yang diberikan-Nya. Aku akan kejar mimpi-mimpiku hingga hayat berpisah dari raga. Karena aku manusia. Homo Esperans kata Erich Fromm. Makhluk yang bepengharapan… Ada Tuhan yang selalu mendengar do’a. Ada Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Semoga dirimu dan diriku bisa menjadi yang terbaik, sebagaimana Tuhan ingin manusia menjadi hamba yang baik… Selamat malam Greaty…