Biarkanlah hujan turun deras basahi bumi. Biarkan gemericiknya keras terhempas hingga suara tangisan ini tak terdengar kentara. Biarkan halilintas menyambar berkilat menakutkan. Karena hati sudah tak takut lagi menemui kematian.

Jika memang sudah takdir, apalagi hendak dikata. Tiada dapat aku merubah semua. Aku hanyalah hamba yang larut dalam alunanNya. Aku ikhlas menerima. Tiada harus menyesal, meskipun ada kecewa yang tersisa.

Kuterobos derasnya hujan setelah menerima hasil test ODP Bank Mandiri di Grha Sabha Pramana UGM. Team resoursing menyatakan aku tidak lulus. Terhenti saat test wawancara Bahasa Inggris. Ya, bahasa satu ini memang momok yang menakutkan bagiku sejak SMA. Terus menterorku sampai menjelang wisuda. Tiada cara untuk memupus kebencian dan trauma-ku kepada Bahasa Inggris selain harus segera mengambil program kursus intensif.

Sesampai di asrama, kuhidupkan komputer. Kubuka opera. Pingin tahu apakah ada pesan yang masuk baik di email, facebook ataupun di blog. Tertera sebuah surat dari pemilik nama “Greaty Souvanir”. Surat yang teramat kutunggu beberapa hari ini.

“anggun, dalam minggu ni ty selalu ngunjungin blog nya anggun, jujur merasa tersanjung banget baca tulisan2 nggun tentang ti, but please forgive me friend, I’ll never be the same…maafin ty nggun”

Ya, 7,5 tahun adalah masa yang panjang yang bisa membuat siapapun berubah. Demikian juga Greaty. Begitu pula denganku. Banyak hal dan kisah baru yang terukir. Banyak perubahan yang terjadi. Greaty yang kukenal sekarang memang bukan Greaty yang kukenal 12-10-7 tahun yang lalu.

Tapi entahlah… Meskipun hari, bulan, dan tahun terus berganti, ada yang tetap sama dalam hatiku, “cinta yang masih kuat bersemanyam seperti 12 tahun lalu”. Cinta yang tak sedikitpun tergerus oleh perjalanan waktu. Cinta yang saat ini masih kupertahankan sepenuh jiwaku.

Ah, bagaimana caranya aku memaafkan Greaty? Karena memang ia tiada bersalah kepadaku. Bagaimana aku bisa melepaskannnya, sementara lisan ini terus menyebut namanya. Kenapa aku begitu egois dengan rasaku sendiri, tanpa menghiraukan perasaannya. Ahhhhhhhhhhhhhh…

Ya Tuhan, kenapa aku ini? Sulit bagiku untuk melepasnya. Sulit bagiku ntuk melupakannya. Seolah ia sudah menjadi bagian dari hidupku. Separuh nafasku diiringi oleh semangat hidup yang terus ia kobarkan di hatiku.

Sungguh tak sanggup rasanya. Sungguh tak mampu aku membiarkan ia pergi. Ahhhhh. Apakah tangisan ini akan merubah segalanya Tuhan? Apakah masih berarti do’a yang selalu kupanjatkan untuknya? Apakah masih ada gelora agar aku bisa menggerakkan tubuh yang kini seolah mati?

Aku tak tahu Tuhan. Aku binggung. Aku tak mampu lagi berpikir. Aku tak kuat lagi…