Mentari gagah memancarkan sinarnya. Teramat terik hingga peluhpun membasahi bajuku. Letih setelah tadi malam baru bisa tidur jam 2-an dan lelah karena kerja bakti di asrama, masih mendera tubuhku. Namun, semangat untuk bertemu dengan para kompasianers yang menggebu, kubulatkan tekad untuk menerobos panasnya siang. Motor Grand 97, ku geber secepat mungkin. Hingga sampai aku di Jogja Expo Center, tempat dilangsungkannya kopi darat para kompasianers Jogja.

Muter-muter sebentar, akhirnya kutemukan stand Kompas Gramedia. Sudah nampak Mas Iskandar (admin yang kita hormati bersama) beserta beberapa tamu berdiri, ngobrol sambil cekikikan. Ketemu pertama kali membuatku agak canggung. Tapi suasana riang menyambutku. Meskipun tidak pernah bertemu dengan Mas Iskandar dan para kompasianers, rasanya seperti ketemu teman lama.

Setelah bincang-bincang nyantai sambil kenalan, acara-pun dimulai. Kupikir oleh panitia kami akan dibawa ke ruangan khusus. Ternyata tidak. Tepat di kawasan stand Kompas Gramedia, Mas Iskandar sebagai tuan rumah (betul ngak ya?? Kayaknya orang Jogja deh yang mesti menyambut Mas Iskandar yang sudah capek-capek datang dari Jakarta.. He2…)langsung menyilahkan kami melepas alas kaki, langsung berselonjor di atas karpet. Dengan cerdas beliau mengatakan, acara kali ini kita buat ala Jogja banget, lesehan. Maka ngak salah, theme-nya adalah Nangkring (dari asal kata “angkringan” mungkin..).

Setelah Mas Iskandar memberikan prolog, setiap kompasianers yang datang dipersilahkan mengenalkan diri. Ada yang mahasiswa, dosen, siswi SMA, wirausahawan, dan fotografer. Terus terang, dari sekian puluh kompasianers yang datang aku hanya ingat beberapa nama saja. Secara umum, perkenalan berputar pada nama, asal, profesi, dan kesan selama menulis di Kompasiana.

Di sela-sela perkenalan, santapan siangpun diberikan panitia. Lumayan buat penghematan budget bulanan. Apalagi buat mahasiswa seperti diriku yang sering dilanda kanker (kantong kering) saat akhir-akhir bulan. Obrolan terus berlangsung sambil menyantap masakan KIKO.

Tamu istemewa-pun akhirnya beraksi. Mas Wisnu dipersilahkan oleh Mas Iskandar untuk memulai presentasi. Aku kagum dengan jenjang karir kerja Mas Wisnu. Setelah lulus dari Sekolah Filsafat nomor wahid di Indonesia STF Driyarkara Jakarta, beliau diterima di Kompas. Ditempatkan di Istana Negara sekian tahun, beberapa bulan ini Mas Wisnu ditugaskan oleh atasannya untuk memimpin Kompas cabang Jogja. Tampak banget gaya bicara orang filsafat yang mampu memberikan berbagai analogi secara sederhana. Maklum saja, pas skripsi beliau dibimbing oleh Prof. Dr. Frans Magnis Suseno. Filsuf kondang Indonesia yang intens dengan kajian etika.

Pertanyaan yang muncul dari peserta kebanyakan berkaitan dengan seputar penulisan dan headline Kompasiana. Kayaknya Kompasianers Jogja penasaran pingin nangkring di Headline Kompasiana. Ada juga yang curhat, susah banget bikin tulisan lebih dari dua paragraf (hati-hati juga buat Kompasianers yang lain, ada rencana dari admin untuk mengusur tulisan yang hanya setengah paragraf). Eh, Mas Wisnu malah kebalikan, susah memotong tulisan (mungkin saking panjangnya…he2…). Sebenarnya menulis yang panjang itu tidak sulit. Kuncinya, buatlah alur seperti bercerita. Yang penting jangan sampai keluar dari judul. Banyak hal-hal kecil yang bisa kita angkat menjadi tulisan. Tidak harus yang berat-berat sehingga ngak rampung-rampung. Contoh karya ringan tapi humanis kata Mas Iskandar, “kamu cuba aja buat kisah ditolak oleh cewek. Kan bisa dibuat berseri tuh.” Asmaraku di pohon cemara (kisah cintaku ditolak Rani). Besoknya bikin lagi seri kedua, Jatuh Bangun Aku Mengejarmu (Kisah Sedih di Hari Minggu karena Ditolak Pretty.) Kalau misalnya kita pernah ditolak cewek 10 kali, alamat sepuluh tulisan kita akan nangkring di Kompasiana… he2.. he2.. (Kayaknya aku berminat nih menuliskan kisah dengan tema ini. Tinggal membuka diary aja, biar inget pernah ditolak sama siapa aja… ha2..ha2..)

Konon pada awalnya, Kompasiana hanya diperuntukkan untuk jurnalist Kompas. Namun, tidak berkembang begitu baik. Akhirnya oleh pengelola, Kompasiana dibuka luas, siapapun boleh bergabung. Setelah keanggotaan dilonggarkan, saat ini tercatat sudah 2099 account yang terdaftar di Kompasiana. Ya, mudah2an seiring perkembangan waktu kita bisa membawa Kompasiana sebagai komunitas blog terbesar di Indonesia. Amien…

Buat Mas Iskandar, terima kasih sudah mengadakan acara kumpul-kumpul di Jogja. Sehingga perkenalan antar Kompasianers semakin dekat. Buat Mas Wisnu terima kasih atas inspirasi-inspirasi kreatifnya.

Mudah2an pertemuan tadi siang memberikan semangat buat kita semua untuk membesarkan Kompasiana. Buat teman-teman yang ada di kota lain, jadwal kopi daratnya tanya Mas Iskandar aja ya..:) Buat teman-teman Kompasianers Jogja, mudah2an ada follow up dari pertemuan tadi… Okey deh. Gitu dulu reportase versi saya. Mungkin ngak bisa menggambarkan kemeriahan pertemuan tadi secara keseluruhan. Mudah2an ada teman-teman yang tadi hadir membuat reportase versi yang lain… Makasi semua…:)

***************************

Setelah pertemuan tadi, aku senang banget. Apalagi ketemu sama satu-satunya Kompasianers dengan jilbab besar. Mbak Umi Salamah namanya. Mahasiswa Double Degree Program Universitas Muhammadiyah Surakarta. Setelah acara selesai, beliau langsung berjalan ke arahku. “Namanya siapa Mas? Aktif di IMM ya?” Ternyata memakai jaket hitam bertuliskan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), membawa berkah bagiku siang tadi. Kebetulan Mbak Umi aktivitas Muhammadiyah Juga. Ikatan Pelajar Muhammadiyah tepatnya.

Kesan pertamaku sih, Mbak Umi orangnya smart dan lumayan manis juga… Suttttttttttttt. Ngak boleh berisik. Namanya juga kenalan dengan teman baru. Pas berpisah, dia bilang, “Mas, ngundang-ngundang ya pas tasyakuran wisudanya…” Ha2.. Kubilang aja, “insya Allah mbak”.

***************************

Ketika kutulis status tentang pertemuanku dengan para Kompasianers di facebook, langsung saja mas Luqman menimpali, ” dapat PW?”…  Ha2.. aku hanya bisa ketawa. Gombal banget jika aku mengatakan dapat PW. Greaty akan ku  kemanakan? Meskipun Greaty masih diam saat ini, tapi aku sudah terlanjur cinta dengan Greaty. Sudah terlanjur mengatakan akan memilihara rasa ini sampai Greaty memutuskan akan menikah dengan siapa. Jika akhirnya Greaty memilih laki-laki lain, barulah penantianku selama 12 tahun akan kuakhiri. Karena tak baik terus memilihara rasa kepada orang yang sudah menikah. Dosa…:)

Hujan, masih setia menemaniku menuliskan bait-bait ini. Betapa kuingin kuucapkan rasa syukurku atas nikmatNya. Alhamdulillah Ya Allah. Engkau telah mengenalkan aku dengan orang-orang hebat hari ini…