Hujan, masih sedia redupkan suasana. Membawa hati jauh mengembara ke seberang sana. Ranah Minang nan tercinta. Yang sering datang dalam mimpi, karena rindu sekian tahun tak pulang kampung terus menderaku.

Salah satu yang ku suka dari Jogja adalah banyaknya tokoh-tokoh intelektual yang senang hati meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak muda sepertiku ini. Jum’at tadi, aku bertemu dengan salah satu dari intelektual Jogja. Uda Iwan Satriawan, SH., MCL., dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammdiyah Yogyakarta yang menyelesaikan S2 di International Islamic University Malaysia. Beliau sering menulis di rubrik “Analisis” koran Kedaulatan Rakyat.

Setelah beliau memberikan Khutbah Jum’at di Masjid Asrama, sholat, dzikir, dan sholat sunnah, aku dekat menghampiri. Menyalami uda Iwan, yang kebetulan sedang ngobrol dengan pak Suyono, pensiunan Pertamina Riau yang memilih menghabiskan hari tua di Jogja bersama keluarga dan uda Zulharnen, dosen Geografi UGM.

Aku mengagumi gaya ceramah uda Iwan yang begitu berapi-api. Tatapan matanya yang tajam, membekas pada setiap teman bicaranya. Beliau masih muda, masuk UGM pada tahun 1991. Aku berkenalan dengan beliau lewat uda Rizal Yaya, SE., M.Sc., yang sekarang lagi menempuh program doctoral di University of Aberdeen Scotland.

Pertemuan, sms, ataupun sekedar bertatap muka dengan orang-orang hebat seperti uda Iwan, telah membuka mataku untuk terus belajar dan belajar. Memberikan semangat kepadaku untuk terus memperbaiki diri. Menghadirkan inspirasi bagiku untuk menggantungkan cita-cita yang tinggi.

*************************************

Sebelum Jum’atan, aku duduk di depan komputer. Disapa oleh Mufliha Fahmi, teman sesama di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM yang kuliah di Psikologi UGM lewat yahoo messeger. Lya, begitu aku menyapanya, berasal dari Kuantan. Daerah yang masih mirip-mirip bahasanya dengan bahasa Minang, meskipun berada di provinsi Riau. Lya menanyakan kepadaku, “Kok akhir-akhir ini sering bikin postingan tentang Greaty di blog Da?” Aku terperanjat dengan pertanyaan suprise darinya. Aku sulit ntuk menjawab. Setelah berpikir sejenak, kusampaikan “pesona Greaty tak tergantikan, Lya”.

Ah, betapa berat aku mengatakan kalimat itu, ketika keinginanku untuk bersapaan saja dengan Greaty menjadi hal yang sulit. Betapa aku harus menghela nafas, ketika menemui kenyataan bahwa igauanku akan Greaty hanyalah suara kosong yang hanya bisa kutuangkan dalam tulisan. Aku tak terlalu berharap tulisan-tulisanku di blog ini akan dibaca Greaty, meskipun dengan tinta emas kutulis, blog ini kupersembahkan untuk dirinya. Bahkan nama blog ini dengan title “gre”, kuambil dari 3 huruf awal namanya.

Benarlah kata Dedi, sahabat SMA-ku yang sekarang bekerja di Indokiat, “bungo indak satangkai Gun”. Tapi apa boleh dikata, setiap mencoba menjalin hubungan dengan yang lain selalu berakhir gagal, karena aku tak bisa melupakan “Greaty”.

*************************************

Aku baru menyadari kenapa aku lebih suka menonton film-film dengan latar jadul seperti kisah Perang Salib, King Arthur, ataupun film sejarah lainnya daripada film-film khayalan masa depan. Ya, sejak SMA aku begitu menyukai pelajaran sejarah. Tak salah nilai ijazah SMA-ku untuk sejarah 9 lebih. Paling tertinggi di antara semua teman-teman satu SMA. Dalam psikologi kecendrungan kepada masa silam ini dinamakan restropektif. Kembali mengingat dan merenungkan kejadian yang pernah terjadi di masa lampau.

Meskipun tidak memilih sejarah sebagai jurusan kuliah, namun Filsafat memberikan aku nuansa sejarah dengan refleksi dan berbagai perspektif. Aku tak pernah menyesal untuk memilih jurusan Filsafat. Karena, aku masih ingat benar bagaimana bagian awal buku terjemahan Al Qur’an terbitan Departemen Agama,  menjadi inspirasiku ketika memilih jurusan Filsafat.

*************************************

Jam setengah sepuluh tadi pagi, aku disms bu Septiana, dosen pembimbing skripsiku.  Bu Septi bilang, kata sambutan beliau untuk buku-ku sudah bisa diambil. Aku diminta datang ke kampus. Setelah kubaca print out-annya, perbincanganpun mengalir di antara kami. Ketika kuberitahukan bahwa pas main-main ke Kanisius kemarin, aku menemukan buku bagus “The Power of Symbols”, bu Septi langsung minta dibelikan buku itu dengan memberikan uang Rp. 50.000.

Betapa senangnya bisa dekat sama dosen. Apalagi dipercayai untuk urusan-urusan seperti ini. Ya, hanya dengan memberikan informasi barulah, aku bisa mengungkapkan terima kasihku kepada beliau yang telah membuatku menyelesaikan skripsi dengan cepat, 2 bulan 2 hari.

*************************************

Kemarin siang, saat bertemu dengan pak Arqom, Wakil Dekan Fakultas Filsafat yang meraih Doktor dari Center for Religious and Cultural Studies (CRCS) UGM, aku ditawari untuk ambil S2 Di CRCS. Pak Arqom bilang tema yang kuangkat dalam skripsi termasuk kajian yang disukai oleh program M.A yang terkenal di UGM itu. Bahkan beliau bersedia memberikan rekomendasi untuk program beasiswa CRCS.

Selain itu, Pak Arqom juga bersedia memberikan kata pengantar untuk buku “Messianik Yahudi”-ku. Malahan rencana untuk bedah buku di Fakultas beliau ajukan kepadaku. Kata Pak Arqom, biar menyemangati alumni-alumni yang lain.

*************************************

Ya Allah, ketika Engkau mengujiku “kalah” dalam percintaan, Engkaupun mengantinya lewat perkenalanku dengan orang-orang hebat. Sosok-sosok yang memberikan aku inspirasi dan terus semangat menjalani hidup. Ya Allah, begitu banyak nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, melebihi cobaan yang Engkau hadirkan. Ku mohon Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang pandai bersyukur. Hingga Engkaupun akan menambah nikmatMu kepadaku dan mengabulkan cita-cita yang telah kupatrikan dalam hati ini… Amien…

Iklan