Entah kenapa hari ini be-te banget. Ngak ikut pengajian ustadz Ridwan tadi pagi, gara-gara bangun kesiangan. Menjelang dzuhur ini, kuhabiskan waktu di depan tv. Terjangkit kebiasaan lama, nonton FTV di SCTV. Mungkin ngak produktif banget. Zina mata bagi teman-teman aktivis Islam. Tapi, mau apalagi. Aku hanya ingin gila dengan kebinggunganku sendiri, dan solusi yang bisa ngirit plus hemat, ya nongkrong berjam-jam di depan tv.

Siang ini langit Jogja cerah. Cocok buat menjemur cucian. Tapi rasa malas masih menderaku. Pakaian masih terendam di baskom. Belum tergerak hatiku untuk membilas.

Kekalahan telak 4-0 dalam turnamen futsal kemarin belum bisa terlupakan. Betapa jeleknya permainanku. Hingga team harus kalah dengan skor memalukan. Aku bertanya, sebenarnya apa kemampuan yang kumiliki? Main bola kacau, tanding futsal sering kalah, aktif di organisasi cuma jadi ban serep lagi tak bisa bicara, mau jadi aktivis Islam -ngaji aja malas.

Entah apa yang bisa kubanggakan? Cuma bisa membual. Melucu sambil ketawa lepas memperolok-olok orang. Cuma bisa bikin tulisan kisruh yang membuat jengah banyak orang. Cuma bisa habiskan hari dengan tidur dan makan. Cuma bisa melamun tanpa melakukan apapun.

Kadang aku benci dengan diriku. Benci dengan kemalasan yang membuatku tak bisa mencapai apapun. Benci dengan sikapku. Benci dengan kesombonganku. Benci dengan hidup yang kujalani.

Tiada yang kulakukan yang bisa membuat orangtuaku bangga. Tiada yang kulakukan yang bisa  membuat Greaty cinta kepadaku. Tiada prestasi yang membuatku pantas dijadikan teladan bagi adik-adik di asrama ataupun di IMM. Tiada capaian yang membuatku bisa menjadi mandiri setelah melewati umur 25 tahun saat ini.

Aku hanya terdiam di sini. Terdiam di kamar. Mengetikkan kata demi kata yang tak pernah kumengerti. Sampai kapan mimpi buruk ini menggelayutiku. Entahlah…

Tiba-tiba saja hujan turun. Begitu cepat terang berubah jadi mendung… Biarkan hanyut dalam suasana tak menentu ini…

Iklan