Trauma Menikahi Gadis Minang (Part II)


Tulisan pertamaku tentang judul ini telah menuai sejumlah komentar. Ada yang membela dan ada yang tak suka. Namun, demikianlah dinamika sebuah pandangan yang tentunya akan lebih berwarna jika ada pro dan kontra. Pada kesempatan ini aku akan mencoba untuk meneruskan penelusuranku kenapa beberapa pemuda-pemuda hebat Minang yang berkesempatan kuliah di rantau melabuhkan hati kepada gadis non-Minang.

Inspirasi tulisan ini kudapatkan ketika menemukan kasus menarik dari seorang Uda yang mendapatkan title Lc dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Saat kesempatan berceramah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jogjakarta beberapa hari  yang lalu, sempat terlontar oleh beliau ungkapan menjelek-jelekan Ayahnya sendiri. “Ayah saya begitu kejam karena beliau sipir penjara. Ya, semoga beliau dah tobat sekarang”. Telingaku agak aneh aja mendengarkan ungkapan seorang anak terhadap orang tuanya dengan kata-kata seperti itu. Apalagi intonasi suara yang beliau buat, seolah-olah dengan nada cemoohan.

Kalau hipotesisku pada tulisan pertama mengatakan ada faktor adat yang membuat pemuda-pemuda Minang memilih menikahi gadis non-Minang, maka pada kasus ini aku menemukan varian baru. Dengan berat hati, tapi harus kusampaikan bahwa model ini mirip dengan teori oedipus complex yang disampaikan oleh psikoanalis terkenal Sigmund Freud. Secara sederhana oedipus complex adalah  perkembangan psikoseksual anak menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta dari ibunya.

Kebanyakan anak-anak Minang yang tinggal di Sumatera Barat memang lebih dekat dengan ibu dan keluarga ibunya daripada bapak dan keluarga bapak. Intensitas kunjungan ke rumah nenek pihak ibu lebih sering dibandingkan rumah nenek pihak bapak.

Berbeda dengan mitos Yunani dimana Oedipus membunuh ayahnya (Laius) dan menikahi ibunya (Jocasta), Ayah di Minangkabau membiarkan anak-anaknya untuk mendapatkan kasih sayang ibunya dan dekat keluarga ibunya. Namun,  untuk anak laki-laki sang Ayah memberikan pengajaran yang lebih keras. Karena Ayah sebagai laki-laki dewasa tahu bagaimana posisi laki-laki Minang dalam adat yang menempatkannya hanya subordinasi dalam keluarga besar matrilineal. Bukan untuk memisahkan anak laki-laki dari ibu, tapi hendak mengajarkan bahwa kasih sayang ibu secara matrilineal tidak bisa ia dapatkan lebih jauh lagi dibandingkan apa yang didapatkan anak perempuan. Ia harus membangun keluarga baru dan include dengan keluarga istrinya.

Maka sejak dini, sang Ayah sudah mempersiapkan anak laki-laki untuk pergi merantau demi memperoleh kesiapan ketika harus terpisah dari cinta ibu. Terlepas dari motivasi untuk meraih ilmu yang lebih tinggi maupun mencari penghidupan, merantau sebenarnya adalah upaya paling kompromis yang dilakukan oleh sang Ayah untuk menanamkan nilai kemandirian laki-laki Minang. Hal ini harus ditanamkan sejak awal, karena setelah anak laki-laki menjadi pria dewasa maka akan banyak beban sosial kultural yang akan ia pikul.

Beberapa anak Minang yang melihat perlakuan keras yang dilakukan oleh sang Ayah sebagai upaya Ayah memenangkan persaingan untuk mendapatkan cinta ibu. Alam bawah sadar “kebencian” ini telah mendorong mereka untuk mendapatkan cinta lain yang lebih bisa mereka miliki lebih abadi bersama perempuan-perempuan non-Minang yang membuat mereka bisa melupakan traumatik ketika kehilangan cinta ibu.

Ini hanya sekedar sebuah analisis sederhana yang mencoba melihat fenomena pernikahan laki-laki Minang dengan perempuan non-Minang. Mudah-mudahan ada analisis lain yang lebih memperkaya kita dalam melihat sebuah fenomena budaya. Salam damai…

Gunawan, 25M Jogjakarta

https://grelovejogja.wordpress.com

Iklan

11 thoughts on “Trauma Menikahi Gadis Minang (Part II)

  1. Kalau uda pikia,masalah jodoh di tangan Allah SWT.itu aja,banyak juga anak anak yg sudah merantau nikah juga dengan perempuan Minang sehingga garis keturunannya pun tidak hilang

  2. Ah, siapa bilang Mas? Pengalaman pribadi kah?
    Saya punya banyak teman orang Minang dan pernah hidup bertahun2 di negeri Minang, ngga seperti itu kok keadaannya . . .

  3. Dari ulasan tulisan_nya sangat menarik… tapi dari “GAMBAR” yang di pasang yang ada menandakan anda pasti “Bukan Orang Minang”…. tidak mengerti adat istiadat orang Minang.. Tapi orang zaman JAHILIYAH… Telanjang…

  4. hhaha.
    mav ya. kbetulan saya org minang tulen, saya bisa jamin tulisan anda terlalu hiperbola.

    ketika anda ulas suatu budaya n posting, pastikan dlu isix BENAR.

  5. rumah tangga anda rusak karena anda memang benar2 tak pantas untuk berumah tangga kok.

    Diri yang tak becus menjaga keharmonisan rumah tangga sendiri kenapa malah menjelek-jelekin orang minang.dasar cemen.

  6. Tulisan anda tidak bermutu sama sekali hanya layak dibaca oleh masyarakat kelas paling bawah (yang tidak tamat SD)
    saran saya untuk anda supaya lebih banyak baca buku sosiologi, antropologi untuk SMA
    hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s