Tulisan pertamaku tentang judul ini telah menuai sejumlah komentar. Ada yang membela dan ada yang tak suka. Namun, demikianlah dinamika sebuah pandangan yang tentunya akan lebih berwarna jika ada pro dan kontra. Pada kesempatan ini aku akan mencoba untuk meneruskan penelusuranku kenapa beberapa pemuda-pemuda hebat Minang yang berkesempatan kuliah di rantau melabuhkan hati kepada gadis non-Minang.

Inspirasi tulisan ini kudapatkan ketika menemukan kasus menarik dari seorang Uda yang mendapatkan title Lc dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Saat kesempatan berceramah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jogjakarta beberapa hari  yang lalu, sempat terlontar oleh beliau ungkapan menjelek-jelekan Ayahnya sendiri. “Ayah saya begitu kejam karena beliau sipir penjara. Ya, semoga beliau dah tobat sekarang”. Telingaku agak aneh aja mendengarkan ungkapan seorang anak terhadap orang tuanya dengan kata-kata seperti itu. Apalagi intonasi suara yang beliau buat, seolah-olah dengan nada cemoohan.

Kalau hipotesisku pada tulisan pertama mengatakan ada faktor adat yang membuat pemuda-pemuda Minang memilih menikahi gadis non-Minang, maka pada kasus ini aku menemukan varian baru. Dengan berat hati, tapi harus kusampaikan bahwa model ini mirip dengan teori oedipus complex yang disampaikan oleh psikoanalis terkenal Sigmund Freud. Secara sederhana oedipus complex adalah  perkembangan psikoseksual anak menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta dari ibunya.

Kebanyakan anak-anak Minang yang tinggal di Sumatera Barat memang lebih dekat dengan ibu dan keluarga ibunya daripada bapak dan keluarga bapak. Intensitas kunjungan ke rumah nenek pihak ibu lebih sering dibandingkan rumah nenek pihak bapak.

Berbeda dengan mitos Yunani dimana Oedipus membunuh ayahnya (Laius) dan menikahi ibunya (Jocasta), Ayah di Minangkabau membiarkan anak-anaknya untuk mendapatkan kasih sayang ibunya dan dekat keluarga ibunya. Namun,  untuk anak laki-laki sang Ayah memberikan pengajaran yang lebih keras. Karena Ayah sebagai laki-laki dewasa tahu bagaimana posisi laki-laki Minang dalam adat yang menempatkannya hanya subordinasi dalam keluarga besar matrilineal. Bukan untuk memisahkan anak laki-laki dari ibu, tapi hendak mengajarkan bahwa kasih sayang ibu secara matrilineal tidak bisa ia dapatkan lebih jauh lagi dibandingkan apa yang didapatkan anak perempuan. Ia harus membangun keluarga baru dan include dengan keluarga istrinya.

Maka sejak dini, sang Ayah sudah mempersiapkan anak laki-laki untuk pergi merantau demi memperoleh kesiapan ketika harus terpisah dari cinta ibu. Terlepas dari motivasi untuk meraih ilmu yang lebih tinggi maupun mencari penghidupan, merantau sebenarnya adalah upaya paling kompromis yang dilakukan oleh sang Ayah untuk menanamkan nilai kemandirian laki-laki Minang. Hal ini harus ditanamkan sejak awal, karena setelah anak laki-laki menjadi pria dewasa maka akan banyak beban sosial kultural yang akan ia pikul.

Beberapa anak Minang yang melihat perlakuan keras yang dilakukan oleh sang Ayah sebagai upaya Ayah memenangkan persaingan untuk mendapatkan cinta ibu. Alam bawah sadar “kebencian” ini telah mendorong mereka untuk mendapatkan cinta lain yang lebih bisa mereka miliki lebih abadi bersama perempuan-perempuan non-Minang yang membuat mereka bisa melupakan traumatik ketika kehilangan cinta ibu.

Ini hanya sekedar sebuah analisis sederhana yang mencoba melihat fenomena pernikahan laki-laki Minang dengan perempuan non-Minang. Mudah-mudahan ada analisis lain yang lebih memperkaya kita dalam melihat sebuah fenomena budaya. Salam damai…

Gunawan, 25M Jogjakarta

https://grelovejogja.wordpress.com