Aku mungkin termasuk salah satu yang beruntung dari teman-teman di asrama yang akhirnya terhenti kuliah di Jogja, meski harus menghabiskan waktu  studi 6 tahun 10 bulan sebagaimana yang tercatat secara resmi oleh database UGM. Pagi ini, aku kembali melepas kakak angkatan di asrama yang mesti meneruskan kuliah di Sumatera sana. Aku memanggilnya Uda Riko.

Da Riko, setahun lebih dahulu tinggal di asrama dariku. Seorang yang ulet dan teliti. Kalau sempat menengok ke asrama, maka ada jejeran gantungan handuk yang tersusun rapi di depan setiap kamar. Inilah karya Da Riko yang sampai saat ini masih dinikmati manfaatnya oleh anak asrama.

Dulu, saat bermain-main ke kamar Da Riko, ada rasa tentram. Kamarnya bersih lagi wangi. Maka tak salah, anak-anak asrama menjuluki kamar Da Riko sebagai kamar terbersih se-asrama.

Dua tahun lalu, beliau “berantakan” karena putus cinta. Sedikit banyak aku tahu tentang perjalanannya cintanya sampai akhirnya terhenti di tengah jalan. Tapi tak etis kuuraikan di blog ini panjang lebar. Singkat cerita,  2 tahun ini Da Riko menghabiskan waktu di kampung, setelah dijemput keluarga saat “masalah itu” sedang mencapai puncaknya

Akupun terkejut dengan kedatangan beliau ke Jogja beberapa hari yang lalu. Tak ada angin tak ada hujan. Setelah berbicara beberapa kali dan melihat ungkapan beliau saat rapat-rapat asrama, aku melihat kedewasaannya dalam memandang masalah. Aku yakin, beliau banyak belajar dari masa lalu yang begitu pahit, kalah dalam bercinta. Da Riko akan melanjutkan kuliah Di Sumatera Utara, di sebuah universitas milik Muhammadiyah. Tinggal menyelesaikan skripsi, karena semua teori sudah ditempuhnya.

Ada sedih setiap kali melepas teman-teman dekat yang sudah bergaul sekian tahun. Berpisah dengan teman-teman senasib, sama-sama menangis dan ketawa di asrama. Sama-sama melewati lika-liku anak rantau yang dihempas berbagai masalah. Apalagi melepas teman yang tak bisa membawa gelar sarjana dari Jogja.

Kecewa, sedih, sekaligus berempati. Karena ku tahu, bagaimana besar harapan orang tua yang telah rela mencari sekian juta uang untuk anak kesayangan agar bisa jadi sarjana lulusan Jogja. Kuliah ke Jogja yang menjadi tempat pendidikan terkemuka di Indonesia adalah kesempatan berharga bagi anak-anak desa dari Sumatera Barat. Sebuah kebanggaan yang seringkali menjadi bahan obrolan orang tua ketika bertemu dengan tetangga dan koleganya di kantor. Ketika mendapati anaknya gagal, tak terkira rasanya sedih yang mereka derita.

Aku bersyukur padaMu Tuhan, karena telah memberikan aku kekuatan untuk menyelesaikan studiku. Menyelamatkan aku dari deraan masalah dan kebimbangan dalam menentukan pilihan. Menghindarkan aku dari status “anak durhaka” kalau tidak bisa membawa ijazah UGM kepada Ibu dan Bapak.  Aku bersyukur atas semua nikmat yang tak terhingga yang telah Engkau karuniakan.

Buat Da Riko, kami tetap saudaramu. Yang akan terus menjadi sahabat meski harus berjauhan. Garisan tangan masing-masing orang memang berbeda. Tapi ku berharap, Uda bisa menyelesaikan kuliah di Sumatera. Amien…

*****************

NB: Sengaja kupakai tanda petik untuk judul “Gagal”, karena aku tidak bertendensi mengatakan Da Riko gagal. Karena menurutku Da Riko berhasil mengalahkan problema yang beberapa tahun menderanya dengan semangat baru dan pribadi baru…