Century dan Cacingan


Suatu pagi di laboratorium biologi. Para siswa kelas 1 SMP dengan tenang mendengarkan penjelasan dari Bu Guru. “Anak-anak, kali ini kita akan melakukan eksperimen terkait efek minuman keras beralkohol terhadap tubuh kita. Dalam ujicoba kali ini kita akan memakai cacing sebagai objek penelitian.”

Kemudian Bu Guru yang mengampu mata pelajaran biologi itu mengambil dua bejana. Satu dituangkan air biasa. Satu lagi dituangkan alkohol. “Anak-anak sekarang kita akan memasukkan cacing ke masing-masing bejana. Ihsan tolong masukan cacing itu ya.”

Ihsanpun memasukkan cacing yang sudah disiapkan ke dalam 2 bejana. Cacing yang masuk bejana pertama, melakukan aksi renang dalam air. Cacing yang masuk ke bejana berisi alkohol, mengeliat sebentar dan akhirnya terkapar di dasar bejana.

“Anak-anak, sekarang siapa yang bisa mengambil kesimpulan atas eksperimen kita tadi”. Ismail-pun angkat tangan, “saya buk”. “Oh iya, Mail silahkan ungkapkan jawabanmu”. “Begini Buk, menurut saya percobaan barusan membuktikan bahwa alkohol bisa jadi obat cacingan”.. Gerrrrr…

Bu Guru-pun hanya bisa tersenyum sipu sambil menjelaskan bahwa kesimpulan bukan itu. Tapi, kalau cacing bisa mati karena alkohol, maka organ tubuh kita bisa rusak kalau minum alkohol.

Jika kesimpulan Ismail yang notabene masih siswa kelas 1 SMP melenceng dari yang diharapkan, tentu masih ada ruang untuk membetulkan kesalahannya. Namun, jika kita coba tarik cerita singkat di atas kepada kasus Century, maka barabelah stabilitas negara.

Bukankah kebijakan menyelamatkan Century merupakan kesimpulan yang diambil oleh pihak terkait yang merasa bank bobrok ini harus diselamatkan.  Dengan dalih, penutupan Century akan mengakibatkan dampak sistemik. Meminjam analisis Pak Kwik Kian Gie, sesungguhnya poin penting kenapa Century dibailout adalah faktor psikologis, dimana ada ketakutan bahwa masyarakat akan kehilangan kepercayaan kepada perbankan.

Namun, amat disayangkan tidak ada pakar psikologi yang dilibatkan dalam mengkaji kelayakan pemberian talangan kepada Century. Padahal, bangsa ini memiliki segudang pakar psikologi yang bisa diminta keahliannya sebagai narasumber menjelang pengambilan kebijakan.

Entah, siapa yang benar dan yang salah. DPR telah memanggil sejumlah pakar ekonomi. Satu kutub mengatakan penutupan Century menyebabkan sistemik. Kutub lain mengatakan penutupan Century tidak akan berdampak sistemik. Mereka adalah pakar-pakar ekonomi top di negeri ini. Tapi kenapa bisa menyimpulkan hal yang berbeda untuk kasus yang sama?

Apakah logika kontradiktoris bisa dipakai dalam hal ini. Dimana tak mungkin 2 pendapat yang berbeda, benar secara bersamaan. Ataukah logika komplementer yang bisa digunakan. Dimana 2 pandangan ini sama-sama memiliki unsur kebenaran.

Entahlah… Mudah2an kesimpulan ketika mengambil kebijakan menyelamatkan Century, tidak seperti kesimpulan Ismail yang mengatakan alkohol bisa mengatasi cacingan…

Sesungguhnya kebenaran itu akan terbuka cepat atau lambat. Karena sebusuk apapun kebobrokan ditutup-tutupi, suatu hari akan terungkap juga. Semoga, para saksi yang dipanggil oleh Pansus DPR mengingat akan dasyatnya hukuman Tuhan terhadap orang-orang yang melakukan kebohongan di atas sumpah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s