Setiap kali membaca tulisan Ade, aku selalu terenyuh. Sungguh luar biasa dia merangkai kata dari pengalaman-pengalaman unik yang dilalui dalam kesehariannya. Ade beberapa kali bilang, “aku memang terlahir sebagai penulis”. Ya, mungkin benar. Oret-oretannya di blog Rindu memang disukai oleh banyak orang, karena memang ditulis dengan hati bergabung dengan kecerdasan calon Master Universitas Indonesia.

Kadang aku iri dengan Ade. Bukan iri karena begitu banyaknya komentar yang datang dalam setiap postingannya. Tapi aku iri dengan semangat Ade untuk berjuang meraih cinta sejati. Cinta kepada Allah yang mengalahkan cinta kepada yang lain. Aku iri bagaimana Ade bisa merasakan nikmatnya ibadah, qiyamul lail, dan puasa sunnah. Aku cemburu ketika Ade bisa meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan anak-anak jalanan dan orang-orang yang lagi mendapatkan ujian Allah di rumah sakit. Aku malu dengan kelembutan hati dan ketabahan Ade yang selalu mengucap syukur kala sakit dan penderitaan datang menghampirinya.

Hampir 2 bulan Ade berhenti ngeblog karena harus menyelesaikan tesis Masternya di UI. Saat itu pula aku kehilangan inspirasi dari tulisan-tulisan Ade. Tapi untunglah ia masih sedia online di yahoo messenger ataupun sedia membalas sms-sms dariku.

Ya Tuhan, betapa Maha Besarnya Engkau yang mengenalkan dengan Ade, sosok yang membuatku selalu sadar akan kesombongan dan kedurhakaanku atas nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan. Ade mengajarkan Islam yang indah kepadaku. Bukan lewat seabrek dalil ayat Qur’an dan Hadist, tapi lewat kepribadian dan tindakan yang ia lakukan dalam kesehariannya. Ah, betapa indahnya Islam jika tak sekedar ceramah saja. Pesona diri lewat laku lebih mengena daripada lisan berbuih mengucapkan kalimat-kalimat suci, tapi hanya manis di mulut saja.

Terima kasih De, telah mau menjadi sahabatku. Telah hadirkan inspirasi dalam hidupku. Telah nyalakan api penerang dalam jalanku yang gelap tanpa cahaya. Semoga persahabatan ini akan kekal hingga ke surga. Amien…